Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 23


__ADS_3

Windi masih menunggu kedatangan Om Thubi. Di depan rumahnya ia memeluk pemberian kado boneka beruang besar itu ke dalam dekapannya.


Wajah anak itu begitu polosnya.


Neneknya kali ini memanggilnya untuk makan siang. Namun panggilan itu sengaja tak ia gubris sama sekali.


Neneknya kali ini menelpon Tari, memberitahukan keadaan Windi yang sulit makan.


Tari saat ini sibuk mencari pekerjaan di luar. Ia telah berpikir bulat untuk menjauhi lingkaran kehidupan Thubi. Tak mau terlalu jauh masuk kedalam lubang itu lagi.


Dan janji itu sudah terucap. Namun kali ini ia berharap bosnya itu akan menghubunginya setelah membaca surat pengunduran dirinya. Namun sepertinya surat itu masih berada dalam amplop yang masih rapi tersimpan di atas meja bosnya.


Tari berjalan agak berat kali ini, ia belum menemukan pekerjaan baru. Kepalanya terasa sakit, terlintas wajah ibu dan anaknya Windi yang menunggunya dirumah.


......


"Windi kamu lagi apa?"


"Menunggu Om Thubi datang..."


Deg, Tari terdiam memeluk anaknya.


Tari tak ingin membuat anaknya sedih berlarut-larut namun ia tak bisa berbuat apa-apa selagi hanya menguatkan anaknya untuk bersabar.


"Kita nanti jalan ya sama Nenek..."


"Om Thubi ikut juga."


Tari kali ini menggenggam tangan anaknya.


"Om Thubi sekarang sudah memiliki kehidupan sen diri, Nak...Om Thubi sekarang sudah menikah."


"Kenapa Om Thubi tidak menikah dengan Mama?"

__ADS_1


"Om Thubi menikah dengan pilihannya sendiri."


"Tapikan sudah dekat sejak lama sama Mama."


"Hanya sebatas teman kerja."


Tari mengelus kepala Windi.


"Jadi Windi tidak bisa lagi main sama Om Thubi? Karna Om Thubi sudah punya keluarga sendiri?"


Tari mengangguk mengiyakan meski berat, Namun Windi harus tahu kenyataan sebenarnya.


Meski apapun itu tidak mudah memberikan penjelasan pada anak kecil, wajah Windi masih kebingungan. Tari langsung mengajak Windi untuk masuk ke dalam rumah sebelum muncul pertanyaan yang terlalu banyak untuk tidak bisa di kontrol.


Neneknya kali ini sudah menyiapkan makan siang.


Tari masuk ke kamar untuk menggantikan pakaian.


"Om Thubi sekarang tidak peduli lagi, karna sudah punya keluarga baru..."


Nenek terdiam mendengar ocehan Windi.


Tari sudah keluar dari menggantikan pakaian di kamar.


"Kita cuci tangan dulu ya sebelum makan." Tari mengingatkan Windi.


Windi meletakkan boneka ya di kursi.


"Windi benci sama Om Thubi, jangan suruh lagi dia ke rumah..."


"Kamu tidak boleh membenci seseorang hanya karna ia sudah memiliki keluarga baru."


Jelas Tari.

__ADS_1


"Tapikan..."


Rengek Windi mulai keluar.


"Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui alasan orang dewasa memiliki kuarga baru..."


"Apa karna wanita yang ada di samping Om Thubi kemarin?"


"Apapun itu, tak baik membenci orang lain. Windi harus menerima keputusan orang lain. Sekarang kita makan dulu ya..."


Windi terdiam hanya


menuruti langkah mamahnya dengan terpaksa.


"Wanita itu telah mengambil Om Thubi dari Windi dan mamah."


ucapan itu keluar begitu saja dari mulut anaknya.


Tari hanya terdiam.


......


Setelah makan, Windi langsung masuk ke kamar tanpa memperdulikan boneka pemberian Om Thubi dan istrinya itu.


Tari dan mamahnya hanya saling memandang saja satu sama lain.


Dan membiarkannya, supaya Windi sekarang belajar keadaan yang sebenarnya.


Ia tak ingin anakntya terlalu berharap yang lebih pada apapun itu.


Dengan memberikan penjelasan sedikit demi sedikit semoga Windi akan paham pada posisi Mamahnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2