
“Poin ke dua, kabur dari masalah begitu saja denda dua kali berturut-turut membelikan kejutan kado sambil menyanyikan lagu di depan keramaian.” Lubi memikirkan hal gila lagi untuk mengerjain suaminya kali ini.
Lubi berpura-pura tidur, ia mencoba mengabaikan suaminya kali ini duduk sendiri menonton televisi sambil membersihkan wajahnya dengan kapas. Thubi menoleh ke arah istrinya yang sudah berbaring tidur duluan.
“Apa Kau tak ingin membantu suamimu membersihkan lukisan tanganmu ini?” celetuk Thubi memancing Lubi untuk bangun.
Namun tak di gubris oleh Lubi yang memejamkan matanya dengan cepat-cepat. Thubi mendekati istrinya menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tak ada respon dari Lubi.
“Ternyata dia sudah kelelahan.” Thubi ikut tidur di samping istrinya. Sambil tangannya melap bagian wajah dengan kapas basah.
Dan mereka akhirnya tertidur pulas malam itu.
...
“Kenapa Kau tak bersihkan dulu wajahmu sebelum tidur?”
Pagi itu Lubi membantu melap riasan make-up suaminya.
“Tak ada yang membantuku untuk membersihkannya. Seharusnya Kau yang bertanggung jawab, bukan di tinggal tidur begitu saja.” jelas Thubi dengan sikap manjanya.
“Kau kan bisa membersihkannya di kamar mandi dengan melihat cermin?”
“Aku ingin tangan istriku langsung yang membersihkannya.”
“Kau ini, harusnya lebih mandiri. Jangan terlalu bergantung pada istrimu.”
“Itu gunanya istri.”
Lubi dengan sengaja melap keras-keras pipi suaminya. Dengan air hangat.
“Kau jangan kasar-kasar, pipiku bisa lecet. Nanti ketampananku bisa luntur.” goda Thubi.
“Kalau ingin di bantu, jangan banyak bicara.” jelas Lubi seketika.
“Baiklah.”
“Perjanjianmu belum selesai, poin ke dua masih menunggu.”
“Memang harus setiap hari di laksanakan perjanjian itu?”
“Wajiblah hukumnya.”
“Perjanjianmu itu merepotkan saja, itu bukan perjanjian, ngerjain suami namanya.” gerutuk Thubi manyun.
“Itukan sudah kesepakatan. Jangan protes.”
“Asal Kau senang saja.”
“Tenang masih ada tiga poin lagi siap menunggu mengisi liburan kita.”
“Setelah lima poin perjanjianmu selesai, Aku hanya memiliki satu permintaan.”
“Apa itu?” tanya Lubi penasaran.
“Tenang saja. Itu sebuah kejutan.”
Bersenang-senanglah dulu, beberapa hari ini. Kita lihat siapa yang akan bertahan. Bisik Thubi dalam hatinya.
Thubi pagi itu mengajak Lubi berjalan-jalan.
"Apa Kau telah menyiapkan kado?" tanya Lubi penasaran.
"Kau ikut saja ke mana langkahku pergi." jelas Thubi yang kali ini memegang kendali perjalanan mereka, dengan menyewa motor mereka berkeliling.
"Pegang erat-erat, kalau tidak Kau akan terjatuh." modus Thubi kali ini.
__ADS_1
"Bilang saja mengambil kesempatan bukan?" belum selesai Lubi berkata Thubi langsung menancap gasnya.
Dengan spontan Lubi memeluk pinggang suaminya.
"Jangan ngebut, jika Kau masih menyayangi istrimu ini."
"Tenang saja, kita harus memanfaatkan waktu sesingkatnya karna ada banyak tempat yang mesti kita kunjungi."
Mereka tiba ke tempat pertama, semua pemandangan hijau dan menyegarkan dari atas mereka menatap hamparan sawah.
"Untuk apa kita kesini?" gerutuk Lubi manyun.
"Kau tak menyukainya? ku pikir Kau menyukainya." tanya Thubi.
"Kita makan dulu belum sarapan." jelas Lubi
"Baiklah naiklah!"
"Kau tidak akan mengajakku ke hutan bukan?"
"Memang ada sarapan di hutan, ada-ada saja?" celetuk Thubi.
Tak butuh waktu sepuluh menit. Mereka telah sampai di tempat itu.
"Kau pasti menyukainya bukan?" jelas Thubi.
Lubi mengangguk mengiyakan kali ini.
"Dari mana Kau tahu tempat ini? indah sekali." kagum Lubi semakin bertambah menatap tempat makan itu yang begitu kental nuansa alam.
"Aku suami yang bisa di andalkan bukan?" Thubi kali ini mencoba membanggakan dirinya.
Setelah mereka memesan makanan mereka harus menunggu beberapa menit sampai makanan pesanan mereka di hidangkan.
"Apa Kau belum menyiapkan kado kejutannya."
"Tempat ini kado kejutannya." jelas Thubi.
"Gak seru, sama sekali bukan kado ini namanya."
"Kan terserah Aku yang ngasih kan? bukan berarti mesti berupa barang ataupun materi?"
Lubi manyun menggerutuk kesal.
"Cepatlah makan, ada suatu tempat lagi yang mesti kita kunjungi."
Pesanan mereka telah terhidang dengan sempurna menggugah selera.
"Jangan terlalu banyak makan, nanti mengantuk." jelas Thubi menyuapi istrinya.
"Memangnya kita mau ke mana lagi."
"Tapi kita harus jalan kaki selama sepuluh menit, untuk sampai ke tempat itu. Tidak apa-apakan?"
"Tempat apa itu?"
"Nanti juga kamu tahu."
......
__ADS_1
"Apakah masih jauh? masih lamakah?" tanya Lubi terengah-engah menaiki bukit-bukit yang lumayan terjal.
Suara gemericik air mulai terdengar sayup-sayup.
Thubi akhirnya berinisiatif menggendong istrinya karna merasa kasihan.
"Turunkan Aku!"
"Berisik, diam saja. Nanti kakimu terkilir Aku juga yang susah nantinya. Turuti saja perintahku. Aku yang berkuasa saat ini."
Lubi akhirnya diam menurut pada suaminya.
Lubi yang menatap hampir tak percaya karna keindahan birunya air terjun itu.
"Turunkan Aku cepat!" Lubi langsung turun ingin menikmati sejuknya air terjun berwarna biru bening itu.
"Hati-hati, batunya licin." Thubi membantu istrinya turun dengan memegangi tangannya pelan-pelan.
Thubi menuntun istrinya ke tengah sambil meniti jalanan bebatuan menuju tingkatan atas tangga. Lubi hampir terpeleset namun dengan sigap Thubi menyambut tubuh Lubi.
"Kau baru saja mencelekai dirimu sendiri. Jangan ceroboh."
Thubi memeluk erat tubuh istrinya.
"Tempat ini adalah kejutan untukmu. Ku harap ini tempat terakhir yang ku tunjukkan padamu. Apa Kau menyukainya?"
Lubi tak menjawab. Dia malah mendorong tubuh suaminya ke dalam air bening itu.
"Hey, Kau curang."
Thubi menarik tangan istrinya, mereka langsung berenang dalam bening air biru yang berkilauan itu.
Tak lama Thubi bernyanyi dengan suara cemprengnya. Suaranya menggema.
"Sebaiknya Kau diam, tak Kau lihat burung-burung itu kabur mendengar suaramu barusan."
cegah Lubi pada suaminya.
"Aku hanya berusaha mewujudkan perjanjian poin kedua itu. Bernyanyi di depan keramaian burung-burung hutan." jelas Thubi berenang menuju istrinya dan menangkapnya.
Mereka bermesraan di bawah air terjun.
Jangan
lupa vote poin/koin, komentar positif tiap episode, like 5 boom rate, jadikan
favorite
Follow
ig: zuzanaoktober
__ADS_1
Salam
MCP