Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 80


__ADS_3

“Aku meminta maaf telah membuatmu merasa tak nyaman dengan kecurigaanku yang telah ku perbuat. Apa Kau tak marah lagi?” Thubi berlutut dengan menyerahkan secangkir cappucinno di hadapan istrinya.


Lubi terdiam menutup mulutnya.



“Terimalah permintaan maaf ku. Maaf jika terlalu kekanakan oleh sifat ku selama ini.”


Ulang Thubi kembali mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


Thubi menyelipkan cincin pernikahan mereka dulu di jari manis istrinya.



“Aku ingin mengulang kembali melamarmu untuk menjadi istriku, mengulang kembali memasangkan cincin karna Kau tak memiliki ingatan itu. Aku harap moment ini bisa menggantikan hilang ingatanmu dulu. Jadilah istriku yang selalu setia mengisi kehidupanku untuk selanjutnya. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku jika Aku sedang kacau atau pun tak bisa mengontrol cemburuku."


Lubi meletakkan secangkir cappucinno itu di atas meja kayu. Dia memeluk suaminya secara spontan.


"Permintaan maafmu di terima dengan senang hati. Berjanjilah tidak akan pernah membuatku menangis lagi."


Thubi mengangguk mengiyakan. Memeluk erat istrinya kali ini.


Moment itu ia sengaja meminta bantuan pemilik tempat itu untuk di rekam sebagai pengingat, jika suatu saat istrinya hilang ingatan lagi.


"Kau jangan pernah berkata lupa atau hilang ingatan lagi, moment ini sengaja Aku rekam untuk di abadikan suatu saat kelak Kau bisa memutarnya ulang kembali." goda Thubi pada istrinya.


"Cepat habiskan minumanmu itu." ajak Thubi menggeserkan bangku untuk istrinya.


"Tapi tiga permintaanku menunggumu untuk mengabulkan bukan?"


"Baiklah, tinggal poin ke lima ini lagi, setelah ini tak ada perjanjian yang aneh lagi. Sebutkanlah permintaanmu itu, biar Aku tak memiliki hutang lagi."


"Tenang, pelan-pelan saja menyelesaikannya."


Lubi menghirup minumannya kali ini.


"Ada sesuatu yang menempel di mulutmu."

__ADS_1


Thubi memberikan tisu pada istrinya.


"Jangan membuat permintaan yang aneh-aneh lagi."


"Tidak akan."


"Jika Kau masih melakukannya, tak akan ku kabulkan."


"Baiklah, habiskan lah kopimu dulu. Nanti akan Aku pikirkan untuk selanjutnya."


.....


Saat perjalanan pulang, mereka menelusuri jalanan yang mulai ramai itu.


Thubi membawakan barang-barang belanjaan istrinya.


"Apa Kau merasa bahagia liburan kali ini?"


"Menurutmu?"


"Kenapa Kau bertanya balik?"



"Belikan bunga untukku." rengek Lubi pada suaminya.


"Apa Kau benar-benar menginginkannya?"


"Iya, bersikaplah romantis pada istrimu, saat ini dan seterusnya."


"Pilih saja! nanti Aku belikan untukmu."


"Pilih kan untukku."


"Baiklah."


Thubi kali ini masuk ke dalam toko bunga melihat bunga-bunga segar itu sambil tawar menawar dengan penjual. Kesepakatan pun di dapat.

__ADS_1


Lima menit berlalu.


Thubi keluar dari toko bunga, namun ia tak melihat istrinya lagi. Thubi mencari-cari kesana - kemari namun masih tak ketemu.


"Seharusnya Aku tak meninggalkannya tadi?" Thubi masih membawa buket bunga. Tas dan barang-barang belanjaan istrinya.


"Dia tak membawa apa pun, kemana perginya?" pikiran Thubi kali ini kacau memeriksa ke toko-toko samping yang ada di dekat situ namun tak di temukannya wujud istrinya.


"Kemana dia pergi? atau dia di culik? mana mungkin? jangan-jangan dia mau ngerjain lagi? Thubi mencoba berpikir. Ingin menghubunginya namun percuma tas istrinya saja ada di tangannya saat ini.


Thubi ingin memeriksa kamera cctv yang ada di toko itu. Karna terdapat dua kamera yang terpasang di luar toko mereka. Hanya itu satu-satunya solusi saat ini.


 


 


 


 


 


 


 


 


Untuk pembaca setia MCP yang baik hati, rajin bersedekah.


Jangan  lupa vote poin/koin, komentar positif tiap episode, like 5 boom rate, jadikan


favorite


Follow


ig: zuzanaoktober

__ADS_1


Salam


MCP


__ADS_2