Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 54


__ADS_3

Thubi menatap rumahnya yang sunyi dan gelap. Ia membuka pintu dengan kunci duplikat yang selalu ia bawa, agar tidak merepotkan untuk membangunkan istrinya.


Thubi menghidupkan lampu sesaat. Ia menatap seisi ruangan telah di hias, makanan telah terhidang di atas meja dengan lilin yang sudah tak menyala lagi.


Semuanya telah dingin dan tak tersentuh.


Thubi menatap tanggal di jam tangannya. Ternyata hari ini ia telah melupakan sesuatu. Thubi baru menyadarinya. Kini ia mencari istrinya. Langkahnya agak cepat. Menaiki anak tangga. Lampu kamar gelap tak ada siapapun di sana, Thubi menghidupkan lampu kamar. Posisi ranjang masih rapi, ia buka lemari dengan cepat namun pakaian istrinya masih lengkap. Tas juga tak ada yang terpakai.


Thubi langsung menelpon istrinya. Kali ini nomornya tidak aktif, berkali-kali Thubi menghubungi jawabannya masih sama.


Thubi kali ini kebingungan. Mencari di setiap sudut ruangan namun tak ada siapapun.


Thubi kembali ke ruangan meja makan, matanya menatap kotak kado yang di buang ke kotak sampah.


Thubi mengambilnya. Kotak itu ia buka pelan. Sebuah dasi dan ikat pinggang. Thubi tahu persis merek kedua barang itu yang tertera di nota bukti transferan yang mereka ributkan. Ternyata istrinya membelikan di hari ulang tahunnya. Kali ini Thubi terduduk lemas. Sungguh berdosanya atas dugaan tak bersalah itu.


Thubi tak mungkin menanyakan keberadaan istrinya ke pada mama mertuanya. Apalagi sudah selarut ini.


Thubi menatap setiap ruangan yang telah di hiasi.


Begitu kacaunya saat ini, tak seharusnya ia melampiaskan curiga pada istrinya.


"Di mana kamu sekarang Lubi?"


Thubi belum sempat mengganti pakaian kerjanya. Harus ke mana ia mencari istrinya.

__ADS_1


Akhirnya Thubi tertidur di sofa depan. Dengan segala kekhawatiran yang terlupakan oleh rasa kantuknya.


.....


Lubi bangun dari kamar belakang. Ia sudah mandi dan akan memasak namun ia menatap suaminya tertidur di sofa, Lubi menatap makanan di atas meja yang masih lengkap dan sempurna tak tersentuh.


Kecewa memang iya saat ini Lubi menatap suaminya. Sudah pulang larut malam, tak ada kabar, melupakan tanggal kemarin dan usaha kejutannya pun tak di respon, tersentuh pun tidak.


Lubi bertambah bulat keputusannya untuk menghilang sejenak atau memilih menjaga jarak dengan suaminya kini. Paling tidak memulihkan batinnya.


Lubi keluar, tanpa pamit dan bergegas sebelum suaminya terbangun.


.....


Ponsel Thubi berbunyi beberapa kali hingga membangunkannya. Suara sekretaris di seberang memberitahukan pagi ini jam sepuluh ada tamu investor.


"Lubi tak pulang dari semalam, kemana ia harus mencari?"


Namun Thubi menuju kamar mandi, ia menatap sekeliling. Tak ada jejak istrinya dari semalam.


Setelah mandi, ia menyempatkan menghubungi istrinya namun masih tidak aktif. Thubi seakan kehilangan akal sekali ini, ditambah telpon dari kantor yang tak berhenti-henti terus menghubungi.


"Sebaiknya sepulang dari kantor mencari Lubi."


Thubi bergegas berangkat menuju kantor, tanpa sarapan terlebih dahulu.

__ADS_1


......


"Dita sebelum bertemu dengan klien, pesankan saya sarapan antar ke ruangan." perintah Thubi melalui ponsel.


"Bapak mau makan apa?"


"Terserah kamu pilihkan."


Thubi menutup teleponnya.


Sampai di kantor Thubi langsung menuju ruangan. Kepalanya pusing karna belum sarapan.


Dita yang berada ruang kerja berhadapan dengan ruangan Thubi tersenyum menyapa, saat Thubi tergesa-gesa memakai dasi sambil berjalan.


Dita membuntuti dari belakang.


"Bapak ada yang dibutuhkan lagi?"


"Untuk saat ini cukup."


"Kalau ada yang kurang, nanti saya hubungi kamu lagi."


Dita menutupkan kembali pintu ruangan Thubi.


"Kemana istrinya, kenapa Bapak pagi ini kacau sekali?"

__ADS_1


Bisik Dita, melangkah menuju meja kerjanya.


Bersambung...


__ADS_2