Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 44


__ADS_3

Beberapa meter dari tempat itu, Lubi sebenarnya datang namun ia hanya melihat Thubi dari kejauhan ia tak


berani mendekat. Hawa malam ini begitu dingin entah air matanya mulai menetes


perlahan. Tak lama ia pergi melangkah meninggalkan tempat itu.


Akhir bulan Oktober,


Jika Canaletes kini lenyap


Saatnya hembusan nafas ku padam


Bersama api cinta ku yang pertama


Cintaku ini bukan seperti tempat persinggahanmu


Semua berakhir padamu, hingga tak perlu berpaling inilah caraku untuk mencintaimu


Dari Rambla delestudis, Sant josep, Caputxins dan Sant monica. Lubi menelusurinya malam ini, ia membiarkan


langkah kaki terus menelusuri kemana ia pergi.


Langkahnya terakhir tertuju canaletes, ia memilih duduk sesaat ia mengeluarkan ponselnya dan mengurungkan


niatnya untuk menghubungi Thubi.


Maafkan aku Thubi aku tak bisa menjadi seperti dulu lagi, semoga ini adalah jalan yang terbaik untuk kita, maaf


aku tak bisa menjemputmu, maaf dan maafkan aku…


 “Kenapa kau bisa ada disini? sementara aku dari tadi menunggumu dibandara?”


Lubi menoleh ke sumber suara.


“Thubi? Kenapa kau bisa  menemukanku disini?”


Raut wajah Lubi berubah heran tak percaya.


“Entahlah kakiku yang menuntunku ketempat ini,bkenapa kau tak menjemputku? Berkali-kali aku mengirimi


pesan dan menelponmu tapi tak satupun kau balas. Tapi lupakanlah sekarang aku sudah


bersamamu?”


Thubi kali ini duduk disamping Lubi.


“Apa kau marah?”


“Kenapa mesti marah? percayalah aku tak akan secepat itu untuk marah, sebenarnya aku melihatmu dibandara menjemputku tapi kenapa kau tak menghampiriku? aku mengikutimu dari belakang.”


“Eh-he…jadi kau tahu kedatanganku?”


Lubi merasa terkejut atas ucapan Thubi barusan.


“Iya…kenapa? apa kau ingin  membuat kejutan untukku?”


Lubi terdiam sesaat.


Rasanya tak tega jika harus mengutarakan hal itu saat sekarang, ia baru saja tiba bagaimana mungkin aku mengutarakannya?


“Hey…kau kenapa diam? apa yang sebenarnya kau  pikirkan? bantu aku mencari apartment, ini sudah malam, besok kita berdua akan mengitari kota ini. Sekaligus mengingat tempat-tempat pertamakali kita


bertemu. 2 hari lagikan hari anniversary kita.”


Thubi langsung menarik tangan Lubi untuk beranjak bangun dari kursi. Tangan Thubi masih terasa dingin, Lubi tak

__ADS_1


melepaskan tatapannya dari wajah Thubi.


Kali ini Lubi masih memegang buku coklat itu.


Ia masuk keruang dokter, cukup lama percakapan itu terjadi sebelum akhirnya Lubi menandatangani sebuah surat.


“Apa kau siap dengan resiko yang kau tanggung? jika dalam beberapa hari ini kau belum bisa mendapatkan


donor? ini hanya obat penahan rasa sakit sementara.”


Lubi mengangguk pelan. Beberapa tim medis sudah mempersiapkan ruangan.


Lubi membaringkan tubuhnya dengan pakaian yang telah siap, ia memejamkan matanya untuk sesaat. Saat itu juga para medis mengangguk untuk menjalankan tugas mereka.


Suntikan-suntikan itu mulai masuk kedalam tubuh Lubi, tubuhnya kini seakan melayang beberapa alat-alat sudah berfungsi dengan baik, waktu itu menjadi detik-detik yang paling berharga. Semuanya seakan terlepas dari semua


beban yang dipikirannya, dan lampu-lampu itu mulai menyala, gerakan tangan-tangan sudah mulai bereaksi. Hingga akhirnya tak ada satu pun yang di ingatnya lagi.


Entah mengapa hari ini dadaku tak sesak, mataku tak panas dan aku bisa merasakan Thubi tersenyum melihatku, aku harap dengan ini aku bisa memperpanjang usiaku saat hari anniversary ku bersama


Thubi paling tidak hanya itu yang bisa kau lakukan untuk membahagiakannya.


Di malam hari tepat dipasar tradisional Boqueria, Thubi dan Lubi berjalan beriringan, Beberapa pejalan kaki


dengan antusiasnya berbelanja. Thubi menggenggam tangan Lubi, namun dirasakannya aneh, tangan Thubi masih dingin seperti tangan kemarin. Tatapan orang-orang menatap aneh kearah Lubi.


Thubi masih mengajak Lubi berjalan menuju gedung opera yang berarsitektur neoklasik dan gedung opera


Licen. Mereka menikmati saat-saat itu.


“Aku ingin menaiki kapal pesiar menuju laut mediterania, aku ingin melakukannya bersamamu saat anniversary kita.” bisik Thubi.


Lubi hanya mengangguk pelan.


Thubi mengajak Lubi berlari-lari kecil, sesekali mereka meminta tolong dengan orang catalan untuk


Di seluruh penjuru sudut kota  ini, mereka masih bergandengan, tertawa kecil, bernyanyi, makan bersama dan


melakukan hal-hal konyol seperti mereka pertama kali bertemu.


“Aku ingin kau mengulang saat pertama kali kita bertemu.”


Thubi menarik Lubi menuju air perjumpaan.


“Baiklah…”


“Sebelum itu kita harus mengabadikan foto kita disini…”


Ajak Thubi meminta seseorang turis lewat untuk mengambil foto mereka. Setelah itu Thubi mengajak Lubi tepat


di depan Canaletes.


“Kau harus mengelilingi canaletes sebanyak tujuh kali, menunduk, dan lekas minum air perjumpaan. Jangan lupa


pejamkan mata sambil mengatakan permohonan.” bisik Thubi.


Lubi memejamkan matanya sesaat.


“Kemudian kau datang sambilmenangis karna cincinmu hilang, aku muncul dan berkata kau adalah


takdirku, lalu kupasangkan cincin itu.”


Thubi menatap Lubi sesaat.


“Kenapa lama sekali kau memejamkan mata? apa permohonanmu?”

__ADS_1


Lubi membuka matanya. Kali ini tatapan Thubi ke Lubi seperti tak biasanya.


Tuhan apa umurku masih cukup untuk menemani Thubi di hari anniversary nanti? Tuhan tambahkan umurku, aku harus membuatnya bahagia sebelum aku pergi?”


“Kau kenapa?”


Thubi mengelus rambut Lubi sesaat.


Lubi menggeleng pelan.


“Baiklah kita habiskan malam ini sambil menonton opera.”


 Thubi menggandeng tangan Lubi.


Jika takdir belum mempertemukan kita. Mungkin takdir lain mempersiapkan kita untuk sesuatu


yang lebih tepat. Di waktu dan kondisi yang menakdirkan untuk bersama


Lubi masih menatap kertas hasil laboratorium, tangannya gemetar.


Ia terduduk lemas, sesaat ia mengatur nafasnya.


Tuhan jika umurku tak cukup di  saat hari anniversary itu, kuatkan aku untuk mengatakan ini pada Thubi walau


ini sulit.


Lubi menangis sejadi-jadinya dikamar, kesedihannya tak mampu ia bendung lagi.


Beberapa jam kemudian setelah perasaannya dapat ia kendalikan, ia mengambil ponselnya.


Lubi mengajak Thubi bertemu malam ini di air perjumpaan dimana mereka bertemu pertama kali.


Waktu itu pun tiba, walau cuaca malam kali ini tak bersahabat, dengan di bawah derajat celcius.


“Apa keputusanku sudah tepat?”


Lubi masih menatap Thubi yang melangkah menghampiri Lubi yang sudah tiba di tempat itu terlebih dahulu.


Thubi tersenyum seperti biasanya, wajahnya begitu bersih.


Tak terpikir oleh Thubi jika  Lubi malam ini akan memberikan undangan yang sudah ia persiapkan sebelumnya.  Lubi mencoba mendekat.


Setelah Thubi sudah duduk dihadapannya


“Maukah  kau menerima ini?”


Thubi mengangguk pelan.


Lubi mengeluarkan undangan berpita emas. Lubi sudah mempersiapkan diri dari sebelum-sebelumnya, sebisa mungkin ia menahan dirinya  untuk menunjukkan bahwa ia harus kuat melakukan ini. Perlahan Thubi membukakan


undangan tersebut dihadapan Lubi. Seketika Thubi merasa tak percaya apa yang  dilihatnya nama seseorang terukir sebagai mempelai prianya.


Tertulis dengan tinta emas. “Adrian”. Tak ada respon dari wajah Thubi  yang memang sudah pucat. Amarah pun sepertinya enggan keluar dari mulutnya, Thubi hanya tersenyum, wajahnya semakin pucat.


“Jika kau bahagia menikahlah dengannya, aku tak akan menanyakan alasan apapun darimu.”


Lubi menatap sekali lagi kewajah Thubi.


“Apa mungkin Thubi sudah tidak mencintaiku lagi, kenapa dia mudah sekali menerima ini semua? kenapa ia tak marah sedikitpun? apakah ia sudah tahu apa yang aku sembunyikan selama ini?”


“Dengan begini aku bisa lebih tenang meninggalkanmu, ada seseorang yang tepat


menggantikan diriku…”


Mata Thubi nampak berkaca-kaca sambil menggenggam tangan Lubi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2