Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 66


__ADS_3

"Berhentilah meminta jawaban padaku. Aku harus apel pagi ini." suara nada Bima kali ini cukup meninggi.


Delima masih mengadang di depan mobil Bima. Pagi-pagi sekali Delima menemui Bima karna selama ini Bima selalu menghindar.


"Kau hanya perlu menjawab apakah ada kesempatan ke dua untukku kali ini?"


"Aku bisa saja menabrakmu, pergilah dari hadapanku. Berapa kali mesti Aku jelaskan."


Delima masih tetap ngotot tak bergeser sama sekali.


Nisa yang baru saja keluar dari pintu depan terkejut.


Bima menatap Nisa yang sudah berpakaian rapi. Dengan memberikan kode matanya.


"Naiklah akan Aku antar."


Nisa bingung dengan ajakan Bima.


Begitupun Delima yang sangat terkejut dengan sikap Bima lebih memilih mengantar Nisa dari pada memberikan penjelasan padanya.


"Tidak bisa begitu, jelaskan dulu? apa kalian selama ini memiliki hubungan?"


tanya Delima ke pada Nisa.


Nisa kebingungan, ia menatap Bima sesaat.


"Iya, kami telah bertunangan. Apa Kau cukup jelas sekarang. Berhentilah menggangguku."


Bima keluar dari mobil, berjalan ke arah Nisa dan menarik tangan Nisa untuk masuk ke dalam mobil.


Delima terdiam tubuhnya kini bagai kaku tak mempercayai ucapan Bima barusan.


"Pulanglah, mungkin kita belum bisa berjodoh." ucap Bima melewati Delima dan masuk ke dalam mobil.


Delima otomatis menggeser tubuhnya untuk minggir memberikan jalan mobil Bima lewat.


Di dalam mobil Nisa hanya terdiam kaku. Kenapa bisa ia masuk ke dalam permasalahan Bima yang sebisa mungkin ia hindari dari dulu.


"Kenapa diam, itu cuma alasan agar Delima berhenti mengganggu hidupku. Jangan Kau anggap serius ucapanku barusan."


Nisa terdiam, apa yang di takutkannya itulah yang akan terjadi. Tidak seharusnya ia mengikuti skenario Bima.


Walau bagaimanapun juga Nisa wanita biasa, yang hatinya baru saja patah, mendapatkan perhatian sedikit saja dari laki-laki akan membuatnya kacau atau bahkan dia anggap obat untuk penyembuh luka. Namun penjelasan Bima lima menit yang lalu mematahkan kembali harapannya yang baru bermekaran.


"Kau akan kemana? biar Aku antar."


"Berhenti di sini saja, Aku ada urusan." ucap Nisa terbata.


"Aku tidak akan menghentikan mobil di jalanan. Sebenarnya Kau akan kemana?"


"Aku bilang berhenti di sini saja, apa Kau tak mendengar, jangan jadikan Aku alat untuk Kau bisa menghindar dengan delima. Selesaikan masalahmu tanpa harus melibatkan orang lain." ketus Nisa mengangkat tasnya dengan cepat.


"Kenapa dia yang marah-marah? dasar aneh? apa dia menganggap serius ucapanku barusan? ah sudahlah..."


Bima meninggalkan Nisa yang masih menunggu angkutan umum.


"Dasar cowok brengsek. Tak akan ku biarkan Aku di jadikan alat untuk menghindari wanita lain."

__ADS_1


cerca Nisa kesal.


"Membuat moodku pagi ini kacau, awas saja Kau."


......


"Kau di antar siapa? kenapa baru pulang? apa Kau tahu Nenek menelponmu, kenapa Kau tak angkat?"


"Apa pedulimu. Bukan urusanmu."


Nisa pergi meninggalkan Bima yang masih saja mengoceh.


"Masaklah Aku lapar."


"Kau bisa masak sendiri. Kenapa mesti menunggu Aku?"


"Kau ini kenapa? marah-marah? Nenek yang menyuruhmu masak."


"Nenek ada di rumah? sudah pulang? kapan dia sampai? di mana dia sekarang?"


"Cepatlah memasak! Nenek sudah lapar. Lima belas menit lagi dia sampai."


"Aku ganti baju dulu. Dasar cerewet."


Cepat-cepat Nisa berganti pakaian dan menuju dapur, membuka kulkas mengambil segala sesuatu yang bisa di masak.


Setelah hidangan selasai di atas meja makan. Nisa mengetuk pintu  Bima.


"Jam berapa Nenek sampai? katanya lima belas menit?"


"Tunggu saja." Bima keluar dari kamar menuruni anak tangga dan langsung ke meja makan.


"Aku menunggu Nenek."


"Aku makan duluan saja." Bima mengambil piring dan mewadahi seluruh makanan yang ada di atas meja.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia angkat dan tak lama mengangguk seperti mengiyakan sesuatu.


"Dari siapa? apakah dari Nenek?"


Bima mengatur nafasnya sesaat.


"Nenek tidak jadi pulang."


"Apa Kau memanfaatkan Aku?"


"Aku tidak memanfaatkanmu, tadi memang Nenek sendiri yang mengatakan akan pulang, ya mana ku tahu  tiba-tiba batal begitu saja. Kenapa menyalahkanku?"


"Itu akal-akalanmu saja."


Nisa kali ini memukul meja.


"Kenapa Kau yang marah? apa kau tidak  ingin makan?"


"Aku sudah kenyang dengan kebohonganmu."


Nisa kali ini begitu kesal dengan Bima.

__ADS_1


"Awas saja ku beri tahu dengan Delima, jika ucapanmu pagi tadi hanya untuk mengusirnya sesaat."


"Coba saja kalau Kau berani." ancam Bima


"Kau pikir Aku tidak berani."


"Jika sampai Kau memberitahunya, hidupmu akan susah selamanya."


"Kau berani mengancamku, baik tunggu saja pembalasanku."


"Silahkan dengan senang hati ku tunggu ancamanmu." ketus Bima


 Nisa membanting pintu kamarnya sesaat.


"Beraninya dia memperalatku." Nisa menggerutuk meninju bantal.


"Seharusnya Aku tak serumah dengan cowok aneh itu, tapi tadi pagi Aku baru saja mendaftar kuliah magister. Apa Aku pindah menyewa rumah saja. Tapi Nenek pasti akan marah."


Nisa menutup wajahnya dengan bantal.


.............


"Oh ternyata dia tadi pagi mendaftar untuk melanjutkan studinya, bakal lama dia tinggal disini." Bima tertawa renyah setelah menelpon Nenek barusan di dalam kamarnya.


"Berani mengancamku, tidak tahu dia berurusan dengan siapa." Bima menyeringai kemenangannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2