
Nisa tak memperdulikan Bima yang dari tadi mondar-mandir di hadapan Nisa.
"Kita buat perjanjian. Jika Kau berani membuka mulut pada Delima. Kau harus mengikuti aturan di rumah ini. Sementara Nenek tak berada di rumah, jika berani melanggar. Kau tanggung sendiri akibatnya."
"Itu ancaman bukan kesepakatan. Dan Kau tak bisa memaksa kehendakmu."
Nisa angkat bicara kali ini.
"Tak perlu membantah."
"Tidak malu dengan seragam mu?"
"Terserah, jika sampai Delima tahu, Kau akan tahu sendiri akibatnya."
Bima meninggalkan Nisa sendiri di ruang tengah.
"Dasar aneh." gerutuk Nisa melanjutkan membereskan dokumen-dokumennya.
Nisa mengetuk pintu kamar Bima.
"Apa Kau bisa memperbaiki pintu kamarnya lagi?"
Bima keluar membukakan pintu.
"Masih butuh bantuan?"
"Aku terlalu keras membantingnya semalam, jadi pintunya tak mau terkunci."
"Perbaiki saja sendiri!" Bima menutup kembali pintu kamar.
"Dasar cowok tak bertanggung jawab."
Nisa mencari Bibiknya ke dapur.
"Bik, apa ada orang yang bisa di suruh membetulkan pintu kamar."
__ADS_1
Bibik menggeleng.
"Bima memangnya ke mana?"
"Dia mana mau membantu." Nisa nampak kesal.
"Gimana ya, Bibik juga bingung. Memang parah ya gak bisa di tutup sama sekali?"
"Kalau gak parah, mana mungkin Nisa tanya ke Bibik, Gimana kalau ganti baju? tiba-tiba ada yang lewat?"
"Iya juga sih, oh ya Bibik ada ide? minta bantuan sama tetangga di samping."
"Bibik kenal?"
"Sering menyapa, tapi gak terlalu dekat. Nanti Bibik coba tanya dulu."
Bibik keluar sebentar dan menuju tetangga samping.
Lima belas menit kemudian.
Nisa tersenyum mengucapkan terimakasih.
"Boleh tahu siapa namanya?"
"Adam."
"Nisa."
"Baiklah kalau tidak ada kepentingan lagi, Aku pulang."
Bima keluar dari kamar samping yang kebetulan sesampingan dengan kamar Nisa.
"Siapa suruh membawa laki-laki asing masuk? sudah berani?"
"Ke siapa lagi meminta bantuan?" bentak Nisa kesal.
"Saya permisi." kali ini Adam menyela pembicaraan mereka. Meninggalkan mereka berdua yang masih beradu tatapan sinis.
__ADS_1
"Sudah berani menjawab?"
"Dasar, selalu mencari ribut. Gak bosen apa?"
"Kamu yang mulai, awas kalau sampai berani membawa masuk cowok asing lagi."
bentak Bima
"Kalau kamu siap membantu gak masalah, ini sok cuek."
"Kan gak mesti sekarang, bisa nanti sore memperbaikinya. Dasar cewek gak sabaran."
"Makannya dari tadi ngomong, kalau gak niat gak usah menawarkan diri."
Nisa pergi membantingkan pintu, pergi masuk ke kamar tanpa memperdulikan Bima yang masih mengomel dari luar.
"Dasar cewek egois, beraninya membawa masuk cowok ke rumah. Besok-besok siapa lagi yang di mintanya bantuan."
......
"Kenapa mesti harus serumah dengan dia?" gerutuk Nisa di dalam kamar.
Apa sebaiknya menyewa rumah saja, tapi mana mungkin Nenek mengizinkan. Gimana caranya biar gak sering ketemu dia lagi. Nisa mencari ide mondar-mandir di dalam kamar. Tapi tadi tetangga itu gak sekali pun ngeliat Aku cuek banget, gak ngomong kalau gak di tanya. Tapi masih mending Adam dari pada si Bima yang menyebalkan itu.
Bima boro-boro peduli, menyebalkan pasti. Dasar cowok aneh maunya ngajak berantem terus tiap ketemu. Ada-ada aja yang di ributkan. Bisa stres kalau lama-lama tinggal di sini. Nenek kapan sih pulangnya? Nisa mengoceh sendiri di dalam kamar.
__ADS_1