
“Poin ke empat, bersikap acuh tanpa sebab, denda mengajak shopping full di bayarkan tanpa batas.”
Lubi kali ini memasuki sebuah butik dengan menarik tangan Thubi.
“Kau boleh duduk bersantai terlebih dahulu, nanti setelah selesai Aku akan memanggil dirimu.”
“Jatah waktumu hanya satu jam, lebih dari itu Aku tak ingin membayar barang-barang yang Kau beli. Mengerti! jangan terlewat satu detikpun.” Thubi memperingatkan istrinya kali ini supaya tidak kebablasan waktunya.
“Tapikan perjanjiannya full di bayar tanpa batas?”
“Memang, tapi Aku yang mengatur waktunya saat ini. Jika tidak mau batalkan saja perjanjian itu.” Thubi memperlihatkan waktu di ponselnya.
“Kau telah melewatkan dua menit hanya untuk berdebat denganku saat ini, atau Kau hanya akan membuang waktumu percuma.”
Lubi pergi meninggalkan Thubi yang masih memperlihatkan waktu di ponselnya.
“Kau menang saat ini.”
Lubi mengambil seluruh barang belanjaannya di kasir, menumpukkan.
“Kau ingin memindahkan seluruh isi butik ini? berapa yang mesti kita anggarkan untuk membayar bagasi di pesawat nanti hanya untuk pelampiasan barang belanjaan sebanyak ini? ambil sesuai kebetuhan!” gerutuk
Thubi pada istrinya.
“Aku yang akan membayar bagasi di pesawatnya. Kau tenang saja.”
“Karna telah Aku peringatkan, jangan salahkan jika bermasalah di kemudian.”
"Terimakasih suamiku telah memperingatkan." Lubi tersenyum manis memandang suaminya.
__ADS_1
Thubi memberikan kartu ATM nya di atas meja kasir.
"Suamiku hari ini sedang berbaik hati, jadi ia membebaskanku belanja apapun saat ini." jelas Lubi pada wanita yang menunggu meja kasirnya.
Wanita penjaga kasir itu hanya tersenyum sesaat dan kembali lagi menghitung belanjaan Lubi.
Memasukkan seluruh belanjaannya ke dalam kotak dan kantong pakaiannya.
Thubi menunggunya di luar butik, sambil mengamati kafe-kafe di pinggiran jalan. Mencoba memesan secangkir kopi.
"Kau sudah membayarnya?"
Lubi menyerahkan kembali kartu milik suaminya.
"Kenapa belanjaanmu sedikit? bukankah belanjaanmu segunung di meja kasir tadi?"
Thubi melihat hanya dua kantong tas yang ada di tangan istrinya.
"Pemborosan juga tidak baik, seperlunya saja sesuai kebutuhan." bisik Lubi pada suaminya.
"Kan menjadi istrimu bukan hanya hari ini saja? masih banyak waktu untuk berbelanja di lain waktu." goda Lubi melangkah jalan mendahului suaminya kali ini.
"Kita ke kafe sebentar, Aku telah memesan minuman." jelas Thubi menunjukkan jari telunjuk ke arah kafe yang ia incar sebelumnya.
Lubi menghentikan langkahnya memutar balik.
"Temani Aku minum secangkir kopi."
"Kau cicipilah kopi di tempat ini, akan membuatmu ketagihan oleh keharuman kopinya saat hirupan pertama."
jelas Thubi memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Memang Kau pernah meminum kopi di sini sebelumnya?"
Thubi menggeleng pelan sambil tersenyum mengembang.
"Aku membaca dari sebuah blog pecinta kopi. di sini terkenal dengan kenikmatan ciri khasnya."
Lubi menggeserkan bangkunya. Meletakkan seluruh barang belanjaannya.
Meja dan kursi yang sangat minimalis serta pelayan yang ramah.
"Onibus coffee." eja Lubi pelan.
Lubi kali ini memfoto wajah suaminya dari samping.
"Kenapa Kau diam-diam mengambil foto diriku yang belum siap, ketampananku belum terlihat maksimal jika dari samping." goda suaminya kali ini mulai berpose.
"Itu sudah tidak natural lagi, jika objek yang di foto menyadarinya."
Jelas Lubi menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Fotolah sekali lagi, sebagai kenang-kenangan. Sekali-kali membahagiakan suamimu mendapat pahala."
"Narsis, nanti saja. Galeri ponselku tiba-tiba penuh mendengar ocehanmu barusan." celetuk Lubi tertawa.
**Untuk pembaca setia MCP yang baik hati, jangan lupa vote poin/koin, komentar positif tiap episode, like 5 boom rate, jadikan favorite
Follow
ig: zuzanaoktober**
Salam
__ADS_1
MCP