
"Saya terima nikahnya Lubi al arumi binti Mifda Rumi dengan seperangkat alat sholat dan 4.380 dirham dibayar tunai."
"SAH."
.........
"Bi, gak jadi ke Barcelonanya."
Thubi keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada dan memakai handuknya.
Lubi menutup kedua matanya.
"Buruan pakai celana!"
"Udah muhrimkan."
"Iya tapi gak gitu juga."
Lubi melempar celana ke Thubi.
Thubi berjalan mendekati Lubi, dengan masih memakai handuk. Lubi hampir terlihat gugup nyaris ia tak sanggup berdiri lagi, kakinya kini seakan gemetar.
Dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Pasti akal-akalan kamu ajakan? pake acara pindah tugas segala."
Tebak Lubi merapikan tempat tidur.
Thubi memeluk Lubi dari belakang. Harum sabun wangi masih tercium oleh hidung Lubi karna jarak mereka begitu sangan dekat sekali.
"Ya jadilah, tapi buat honeymoon ya Bi, sekarangkan udah muhrimkan."
Thubi menciumi leher Lubi, begitu merindingnya Lubi melepaskan pelukan Thubi.
"Sayang udah, dong."
Lubi dengan perlahan ingin lepas dari pelukan Thubi.
"Kiss dong."
__ADS_1
Goda Thubi ke Lubi. Yang sedang memakai baju dan celana, baru sehari jadi suami istri mungkin Lubi belum terbiasa. Ngeliat Thubi cuma pake handuk.
"Kamu gak mandi Bi?
Lubi menggeleng cepat.
"Gak deh."
"Mandi aja biar fresh." Bujuk Thubi.
"Gak apaan sih."
"Masih tetep cantik kok walau kamu gak mandi." gombal Thubi.
"Bi pacaran aja dulu ya? kan baru muhrim."
"Apaan sih, udah malam."
"Dikamar aja, pengen dong berduaan sama istri, gak pengen ya punya baby twins kayak Shiren."
"Buru-buru amat, baru juga sehari."
........
"Ngantuk, besok aja nontonnya."
"Ini malam pertama."
"Kan jadi suami istri gak satu hari aja."
Lubi kembali tidur, menarik selimut.
Thubi mencium dahi Lubi, gak ada respon emang sepertinya kecapek'an si Lubi.
Lubi sih pura-pura tidur, masih gugup Lubi tidur seranjang dengan Thubi. Apalagi bersebelahan kayak gini.
.....
"Morning, sayang."
Thubi mencium dahi Lubi.
Mendadak Lubi melompat bangun, namun keburu ditarik Thubi kedalam pelukannya.
__ADS_1
Kiss.
Thubi mencium bibir Lubi. Cukup lama. Bahkan sangat lama. Thubi mengusap punggung Lubi dengan pelan. Dengan perlahan Thubi menjatuhkan Tubuh Lubi ke ranjang. Ia menciumi seluruh leher , turun ke dada.
Mata Lubi menutup. Mencoba mendorong tubuh Thubi ke belakang.
Namun sekuat apapun Lubi melepaskan pelukan Thubi. Sekuat itu juga Thubi mendekap.
"Gak mau mesra-mesraan dulu apa?"
"Gak enak sama Mamah, kan harus siapin sarapan dulu."
"Kiss dulu, baru di lepas."
"Gak."
Kiss, Thubi mencium bibir Lubi. Kali ini begitu lama, Thubi tak mudah melepaskannya.
Lubi mendorong Thubi. Akhirnya terlepas.
"Aku udah lama, untuk melepaskan hasrat sama kamu Bi, kita kan udah nikah."
Lubi menangis, menutup mulut.
"Wajar juga suami ke istri, udah sah. Aku nikahin kamu gak mungkin juga aku gak sama sekali menyentuh istriku sendiri?"
Lubi masih tetep nangis sejadinya. Menutup wajahnya.
Thubi langsung memeluk Lubi.
"Maaf ya sayang, gak seharusnya aku terlalu maksa."
Thubi menenangkan Lubi.
Lubi menangis sejadinya di pelukan Thubi.
"Aku belum pernah ciuman. Belum terbiasa sama sekali." Jelas Lubi merengek nangis dipelukan Thubi.
"Aku ajarin ya atau dipraktekkan langsung sama orangnya." goda Thubi tersenyum sambil melap air mata di pipi Lubi.
Lubi memukul bahu Thubi.
Bersambung...
__ADS_1