
Shiren membenarkan apa yang di ceritakan
Thubi, suaminya Lubi.
“Dia memang cinta pertamamu sewaktu SMA.”
“Tapi aku benar-benar tak ada rasa cinta?
apa mungkin ingatanku terputus saat bersama Adrian?”
“Bisa jadi, tapi berita buruknya Adrian
akan menikah.”
“Apa?”
“Kau belum tahu sama sekali, bahkan Adrian
tak menceritakannya padamu?”
Lubi menggeleng.
“Apa jadinya takdirku memang bernasib
begini? seumur hidup tak memiliki rasa cinta pada suami sendiri yang ku anggap
jadi orang asing?”
“Jika kalian terus serumah, perasaan cinta
itu akan tumbuh, dan pelan-pelan ingatanmu pulih. Berusahalah demi anak
kalian.”
“Tapi hatiku sakit, mendengar Adrian akan
menikah. Bahkan ia tak pernah menceritakannya padaku.”
“Mungkin dia menjaga perasaanmu.”
“Apa baiknya, aku menemuinya untuk mengubah
keputusannya?”
“Untuk apa lagi, jangan bodoh...kau tak
memikirkan perasaan suamimu?”
Lubi menangis.
“Tapi itulah yang aku inginkan...”
“Itu yang kau yakini, karna tersugesti
ingatanmu yang masih kacau, hingga tak mempedulikan lagi kebenarannya, jangan
mengatas namakan ingatan? jika kau masih ingin menemuinya, kau sama saja
merusak rumah tanggamu sendiri.”
“Tapi aku tak bisa apa-apa, itu lah yang
ada di ingatanku terakhir kalinya.”
“Stop, jangan memperkarakan ingatan lagi.”
Suara Shiren kali ini agak meninggi.
“Tenangkan dirimu, lihatlah suamimu.
Bagaimana ia berusaha mendapatkanmu dulu dan kalian harus mempertahankan rumah
tanggamu. Jangan terbawa ego sesaat hanya mengatas namakan ingatan.”
“Aku tak bisa...”
“Jika posisimu sekarang seperti suamimu?
bagaimana? apa kau masih setega itu? apa hanya memikirkan perasaanmu? dan apa
kata orang lain? terlebih anak yang kau kandung, suatu saat dia menanyakan
siapa ayah kandungnya? apa kau masih mementingkan perasaanmu? atau kau akan
pelan-pelan di tinggalkan oleh anakmu sendiri suatu saat dia dewasa kelak karna
__ADS_1
ia mengetahui bukti nyata bahwa perpisahan Ayah dan Ibunya karna lebih
mementingkan ingatan?”
Lubi terdiam, hanya bisa menangis. Tak bisa
berkata apa-apa lagi.
“Bersabarlah, ikuti saja posisimu saat ini.
Belajar cintai suamimu yang telah berusaha menunggumu untuk membantu memulihkan
ingatanmu. Stop memikirkan Adrian, meskipun dia adalah sepupuku, sungguh tak
akan pernah aku menjerumuskan kalian berdua.”
Shiren memeluk Lubi, untuk menenangkan
sahabatnya yang begitu lemah.
Hingga malam Lubi di rumah Shiren, akhirnya
Thubi menjemputnya.
.......
Sepanjang jalan, di dalam mobil. Mata Lubi
masih sembab, Thubi tak berani menanyakan apapun ia tak ingin mengusik istrinya
untuk saat ini.
“Apa sebaiknya kita makan di luar mencari
suasana baru?”
Lubi hanya diam tak mengubris.
“Ada tempat makan yang enak, dulu kamu
sering minta di ajak ke tempat itu.”
Tanpa basa-basi Thubi memutar arah jalan.
Malam itu cerah, banyak bintang-bintang di
“Kamu sering memesan minuman jahe ini untuk
menghangatkan badan, aku pesankan satu ya...”
Thubi memanggil pelayan dan memesan makanan
dan minuman.
Lubi hanya sibuk menatap keadaan di
sekitar. Apakah dulu memang ia sering mengajak suaminya ke tempat ini? Ah sudahlah
kali ini Lubi hanya mengikuti saja. Benar kata Shiren tak ada salahnya
mengikuti alur posisi keadaannya saat ini.
Thubi sibuk memilihkan menu, tak lama Lubi
menatap wajah suaminya dari dekat. Sesabar inikah suaminya memperlakukannya? Hingga
kadang jawaban ketus Lubi atau bahkan mengacuhkan suaminya menjawab atau cuek
dengan responnya tiap kali di ajaknya berbicara.
Lubi menunduk sesaat, kadang ia merasa
bersalah dengan sikapnya yang keterlaluan namun kadang kondisi perasaannya
berubah. Mungkin saat ini Lubi butuh beradaptasi dengan kondisi perasaannya
saat ini.
“Kenapa melamun? Bagaimana sudah ada titik
terang tadi ngobrol dengan Shiren?”
Lubi menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa perlu proses untuk mengingat
__ADS_1
kembali masa lalu bukanlah hal yang mudah.”
Jelas Thubi sesaat.
“Berapa lama kita tak bertemu dari SMA?”
Tanya Lubi.
“Belasan tahun, kenapa? Kau ingat tentang
SMA?”
“Belum, tapi cuma ingin tahu seberapa lama
kita terpisah semenjak SMA.”
“Kita hidup masing-masing setelah SMA, tak
ada kabar maupun berita semua tak saling menghubungi. Mungkin sudah takdir di
pertemukan dengan perjodohan antara Mamah kita yang sama-sama teman arisan.
Kita sama-sama tidak tahu kalau di jodohkan? dan begitulah kita di pertemukan
kembali.”
“Sebelumnya apa kamu tak dekat dengan
seorang wanita?”
Thubi menggeleng.
“Hanya kamu...”
“Bohong...”
Thubi mengingatkan kembali.
“Siapa Tari...”
“Oh...dia hanya sekretarisku...”
“Dan sudah dekat dengan anaknya. Pertemukan
aku dengan Tari?”
“Dia sudah mengundurkan diri...”
“Alasannya? atau memang sengaja kau tutupi?”
“Terakhir sebelum kecelakaan itu, kau
sempat menemuinya sepulang kita liburan. Kau sendiri menemui Tari menanyakan
alasannya dia mengundurkan diri. Sekarang aku tak tahu di mana dia sekarang.”
“Tapi rumahnya ingatkan?”
Thubi terdiam entah kali ini suasana
berubah jadi tak nafsu untuk makan. Entah pertengkaran demi pertengkaran
membuatnya kadang lebih ingin mundur perlahan namun ia harus bersabar demi
anaknya.
“Terserahlah, kadang penjelasanku tak
berarti.”
Kali ini Thubi tak ingin bicara lagi.
“Sebaiknya memang begitu. Tak ada kecocokan
lagi.”
Jelas Lubi pergi meninggalkan Thubi yang
hanya duduk terdiam. Sementara makanan dan minuman yang di pesan sudah
terhidang.
“Maaf, Mba ini bungkus saja semua, saya
tunggu di mobil.” Jelas Thubi memberikan uang kepada pelayan.
__ADS_1
Lubi membanting pintu masuk ke mobil.
Bersambung....