Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 42


__ADS_3

Shiren membenarkan apa yang di ceritakan


Thubi, suaminya Lubi.


“Dia memang cinta pertamamu sewaktu SMA.”


“Tapi aku benar-benar tak ada rasa cinta?


apa mungkin ingatanku terputus saat bersama Adrian?”


“Bisa jadi, tapi berita buruknya Adrian


akan menikah.”


“Apa?”


“Kau belum tahu sama sekali, bahkan Adrian


tak menceritakannya padamu?”


Lubi menggeleng.


“Apa jadinya takdirku memang bernasib


begini? seumur hidup tak memiliki rasa cinta pada suami sendiri yang ku anggap


jadi orang asing?”


“Jika kalian terus serumah, perasaan cinta


itu akan tumbuh, dan pelan-pelan ingatanmu pulih. Berusahalah demi anak


kalian.”


“Tapi hatiku sakit, mendengar Adrian akan


menikah. Bahkan ia tak pernah menceritakannya padaku.”


“Mungkin dia menjaga perasaanmu.”


“Apa baiknya, aku menemuinya untuk mengubah


keputusannya?”


“Untuk apa lagi, jangan bodoh...kau tak


memikirkan perasaan suamimu?”


Lubi menangis.


“Tapi itulah yang aku inginkan...”


“Itu yang kau yakini, karna tersugesti


ingatanmu yang masih kacau, hingga tak mempedulikan lagi kebenarannya, jangan


mengatas namakan ingatan? jika kau masih ingin menemuinya, kau sama saja


merusak rumah tanggamu sendiri.”


“Tapi aku tak bisa apa-apa, itu lah yang


ada di ingatanku terakhir kalinya.”


“Stop, jangan memperkarakan ingatan lagi.”


Suara Shiren kali ini agak meninggi.


“Tenangkan dirimu, lihatlah suamimu.


Bagaimana ia berusaha mendapatkanmu dulu dan kalian harus mempertahankan rumah


tanggamu. Jangan terbawa ego sesaat hanya mengatas namakan ingatan.”


“Aku tak bisa...”


“Jika posisimu sekarang seperti suamimu?


bagaimana? apa kau masih setega itu? apa hanya memikirkan perasaanmu? dan apa


kata orang lain? terlebih anak yang kau kandung, suatu saat dia menanyakan


siapa ayah kandungnya? apa kau masih mementingkan perasaanmu? atau kau akan


pelan-pelan di tinggalkan oleh anakmu sendiri suatu saat dia dewasa kelak karna

__ADS_1


ia mengetahui bukti nyata bahwa perpisahan Ayah dan Ibunya karna lebih


mementingkan ingatan?”


Lubi terdiam, hanya bisa menangis. Tak bisa


berkata apa-apa lagi.


“Bersabarlah, ikuti saja posisimu saat ini.


Belajar cintai suamimu yang telah berusaha menunggumu untuk membantu memulihkan


ingatanmu. Stop memikirkan Adrian, meskipun dia adalah sepupuku, sungguh tak


akan pernah aku menjerumuskan kalian berdua.”


Shiren memeluk Lubi, untuk menenangkan


sahabatnya yang begitu lemah.


Hingga malam Lubi di rumah Shiren, akhirnya


Thubi menjemputnya.


.......


Sepanjang jalan, di dalam mobil. Mata Lubi


masih sembab, Thubi tak berani menanyakan apapun ia tak ingin mengusik istrinya


untuk saat ini.


“Apa sebaiknya kita makan di luar mencari


suasana baru?”


Lubi hanya diam tak mengubris.


“Ada tempat makan yang enak, dulu kamu


sering minta di ajak ke tempat itu.”


Tanpa basa-basi Thubi memutar arah jalan.


Malam itu cerah, banyak bintang-bintang di


“Kamu sering memesan minuman jahe ini untuk


menghangatkan badan, aku pesankan satu ya...”


Thubi memanggil pelayan dan memesan makanan


dan minuman.


Lubi hanya sibuk menatap keadaan di


sekitar. Apakah dulu memang ia sering mengajak suaminya ke tempat ini? Ah sudahlah


kali ini Lubi hanya mengikuti saja. Benar kata Shiren tak ada salahnya


mengikuti alur posisi keadaannya saat ini.


Thubi sibuk memilihkan menu, tak lama Lubi


menatap wajah suaminya dari dekat. Sesabar inikah suaminya memperlakukannya? Hingga


kadang jawaban ketus Lubi atau bahkan mengacuhkan suaminya menjawab atau cuek


dengan responnya tiap kali di ajaknya berbicara.


Lubi menunduk sesaat, kadang ia merasa


bersalah dengan sikapnya yang keterlaluan namun kadang kondisi perasaannya


berubah. Mungkin saat ini Lubi butuh beradaptasi dengan kondisi perasaannya


saat ini.


“Kenapa melamun? Bagaimana sudah ada titik


terang tadi ngobrol dengan Shiren?”


Lubi menggeleng pelan.


“Tidak apa-apa perlu proses untuk mengingat

__ADS_1


kembali masa lalu bukanlah hal yang mudah.”


Jelas Thubi sesaat.


“Berapa lama kita tak bertemu dari SMA?”


Tanya Lubi.


“Belasan tahun, kenapa? Kau ingat tentang


SMA?”


“Belum, tapi cuma ingin tahu seberapa lama


kita terpisah semenjak SMA.”


“Kita hidup masing-masing setelah SMA, tak


ada kabar maupun berita semua tak saling menghubungi. Mungkin sudah takdir di


pertemukan dengan perjodohan antara Mamah kita yang sama-sama teman arisan.


Kita sama-sama tidak tahu kalau di jodohkan? dan begitulah kita di pertemukan


kembali.”


“Sebelumnya apa kamu tak dekat dengan


seorang wanita?”


Thubi menggeleng.


“Hanya kamu...”


“Bohong...”


Thubi mengingatkan kembali.


“Siapa Tari...”


“Oh...dia hanya sekretarisku...”


“Dan sudah dekat dengan anaknya. Pertemukan


aku dengan Tari?”


“Dia sudah mengundurkan diri...”


“Alasannya? atau memang sengaja kau tutupi?”


“Terakhir sebelum kecelakaan itu, kau


sempat menemuinya sepulang kita liburan. Kau sendiri menemui Tari menanyakan


alasannya dia mengundurkan diri. Sekarang aku tak tahu di mana dia sekarang.”


“Tapi rumahnya ingatkan?”


Thubi terdiam entah kali ini suasana


berubah jadi tak nafsu untuk makan. Entah pertengkaran demi pertengkaran


membuatnya kadang lebih ingin mundur perlahan namun ia harus bersabar demi


anaknya.


“Terserahlah, kadang penjelasanku tak


berarti.”


Kali ini Thubi tak ingin bicara lagi.


“Sebaiknya memang begitu. Tak ada kecocokan


lagi.”


Jelas Lubi pergi meninggalkan Thubi yang


hanya duduk terdiam. Sementara makanan dan minuman yang di pesan sudah


terhidang.


“Maaf, Mba ini bungkus saja semua, saya


tunggu di mobil.” Jelas Thubi memberikan uang kepada pelayan.

__ADS_1


Lubi membanting pintu masuk ke mobil.


Bersambung....


__ADS_2