Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 48


__ADS_3

Sebuah pernyataan mengejutkan untuk Ibunya Adrian kali ini, wanita yang dulu sengaja ia pisahkan kini terpaksa ia bertemu kembali. Pertemuan itu membuka duka lama kembali.


Adrian tidak hanya mengajak Mentari namun  Windi kali ini berdiri di hadapan Ibunya.


Cucunya yang sudah tumbuh besar. Hendak mencium tangan Neneknya.


"Kenapa kau ajak kembali wanita itu ke rumah ini?"


Ibunya Adrian sungguh tak sudi jika wanita yang sengaja ia pisahkan dengan anaknya belasan tahun lalu kini berani menginjakkan kembali kaki di rumahnya.


Adrian memberikan isyarat ke pada Tari untuk mencium juga tangan Ibunya.


Namun masih sama sikapnya seperti dulu cukup tak sudi bersentuhan. Ibunya hanya menerima Windi namun tidak untuk Mentari.


"Apa salahnya Tari, Bu?"


"Karna dia telah merebut dirimu dari sisi Ibu."


"Itu bukan alasan."


"Iya memang benar, masih banyak hal yang tak ku sukai dari wanita itu."


"Tapi dia Ibu dari anakku, tega Ibu menyingkirkan Mentari dengan menyuruhnya menjauh dan bahkan melemparinya uang."


"Oh, jadi dia mengadu padamu? licik dia ingin mengadu domba bukan? sampai kapanpun aku tak akan menerimanya."


Ibunya hanya mengajak Windi masuk ke dalam. Mentari hanya diam tertunduk.

__ADS_1


"Sudahku duga, dari dulu Ibumu tak akan pernah mau menerimaku..."


"Kita harus berusaha lagi, paling tidak Ibu sudah menerima Windi."


"Percuma, rasanya jika terus di paksa."


Kali ini Mentari seakan menyerah.


"Windi bisa di jadikan jalan untuk membujuk Ibu, percayalah bersabarlah..."


Mentari hanya diam tak menjawab.


"Untuk saat ini biarlah Windi tinggal bersama kami, Lama-kelamaan Ibu akan luluh hatinya untuk menerimamu."


Adrian menenangkan Tari  dan mengantarnya pulang.


"Kenapa Nenek begitu membenci Mamah?"


"Kau masih terlalu kecil. Untuk memahami pemikiran orang dewasa."


"Tapi Windi tak ingin jika Nenek dan Mamah tak bisa saling menerima. Apa bedanya dengan Windi?"


"Kamu sama sekali tak bersalah, seharusnya kedua orang tuamu tak pernah bertemu dari dulu."


"Kalau mereka tak bertemu, pasti Windi tak akan ada saat ini bersama Nenek."


"Sudahlah jangan membahas itu lagi, Nenek kesepian tinggallah di sini."

__ADS_1


Windi menggeleng pelan.


"Selama Nenek tak menerima Mamah, apa gunanya Windi bersama Nenek sementara hati Mamah merasakan kesepian dan terluka di sana."


Nenek kali ini terdiam.


"Apakah Mamahmu menghidupimu dengan baik selama ini, bisa-bisanya dia menyembunyikanmu selama ini."


"Kenapa Nenek tak mencari tahu? Mamah sangat menderita membesarkanku, dia menyembunyikan kesedihannya saat tahu Papah akan menikah dengan Tante Nisa, apakah Nenek memikirkan itu."


"Nenek tak tahu dulu kau sudah ada di dalam rahim Mamahmu, Nenek pernah memimpikanmu, menggendong bayi perempuan di pangkuanku. Nenek sungguh tak menyadarinya. Jika dari dulu Nenek tahu..."


"Nenek hanya pasti mengambil diriku dan mencampakkan Mamah begitu saja?"


Nenek menatap Windi sekali lagi.


"Nenek tak akan setega itu, Nenek dulu juga membesarkan Papahmu seorang diri jadi tahu bagaimana rasanya berjuang sendirian. Tak mudah bagi Nenek saat itu tapi sudahlah jangan di ungkit lagi..."


"Bohong, kalau Nenek pernah mengalaminya kenapa tega Nenek memperlakukan Mamahku dengan seperti itu..."


Windi keluar membanting pintu mengejar Mamahnya.


Ibunya Adrian menangis seorang diri di ruangan tersebut, ia hanya menatap bayangan Windi  yang menghilang meninggalkannya.


"Ya...seharusnya aku tak memperlakukan Mamahmu seperti itu, seharusnya aku sudah melakukannya dari dulu. hanya ke egoisanku karna takut anak laki-lakiku akan pergi meninggalkanku di usiaku yang tak muda lagi di ambil oleh Mamahmu..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2