
Setelah kejadian itu semua Lubi tak ingin
menemui siapa-siapa mengurung diri di kamar, kepalanya akan bertambah sakit
jika ia mencoba memaksa ingatan-ingatan dulu. Akhirnya Lubi membuka foto album
kenangan ia semasa kecil dahulu. Menatap tiap wajah-wajah lugunya dulu.
...................
Sore di Plaça
Catalunya. Udara Barcelona terasa dingin dibalut beberapa derajat Celcius. Bangku panjang di Plaça Catalunya terisi
penuh. Sudah setengah hari lebih Lubi
menyusuri jalan–jalan dengan kamera yang menggantung dilehernya, di Las Ramblas
Barcelona ada sebuah tangki hitam dengan keran berwarna emas disekelilingnya
yang merupakan sumber air yang bebas diminum oleh siapapun.
Diplakat tertulis bahwa siapapun yang meminum
air dari font de Canaletes, maka meskipun pergi jauh ia akan selalu kembali
ketempat itu. Pada awalnya Lubi hanya menghilangkan
rasa haus, mitos baginya untuk kembali ketempat itu lagi. Namun entah langkah kakinya menuju ditempat
itu, Lubi hanya bisa mematung sambil memandangi La Rambla, Bulevar yang
amat tersohor dikota yang bertepi di Laut Tengah itu. Menyusuri La Rambla.
Lubiduduk di sudut La Rambla, terlihat barisan pepohonan.
Hanya batang, cabang, dan tangkainya. Daun–daunnya
berguguran menyambut datangnya musim
semi. Di sepanjang jalan, bangunan–bangunan paduan arsitektur gotik dan modern seperti untaian sejarah mozaik yang tak pernah terputus. Lubi sibuk menuliskan sesuatu dibuku yang sering ia bawa kemanapun
pergi, entah sudah empat buku yang penuh dengan puisi-puisi yang mengalir
tergores dikertas.
Ya…sejarah untuk pertama kalinya Lubi bertemu dengan Thubi di depan mushola sekolahnya dulu sewaktu SMA.
Lubi
menuliskan dibuku catatan fisikanya kalau ia mengagumi sosok Thubi suaminya
sekarang saat ini yang telah menjadi suaminya.
Namun ia pendam karna perasaan itu hanya perasaan kagum semata tak lebih. Karna ia sadar betul Thubi saat itu tak ingin berpacaran, Lubi yang saat itu belum berjilbab hanya mampu menuliskan luapan
hatinya dengan puisi, tiap hari, tiap jam bahkan tiap ia berjumpa atau sekedar
melihat Thubi diperpustakaan, kantin dan kelas.
Itulah perasaan Lubi saat itu begitu aneh dan sempat membuat Lubi gugup jika
berpapasan atau bahkan ia sengaja melewati kelas Thubi untuk melihatnya saja.
Siapa yang tak akan tertarik dengan sosok Thubi yang cerdas, santun, lantunan
__ADS_1
Al-qur’an indah dari merdu suaranya. Sudah menjadi takdir bila Lubi di pertemukan dengan Thubi dan sekarang menjadi suaminya saat ini. Namun pernikahannya kali ini hambar dan hampa.Setelah kejadian
kehilangan ingatannya.
Saat tahun pertama pernikahannya Lubi berada di Canaletes,
air perjumpaan. Masih ingat jelas di ingatan Lubi tanpa sengaja cicin pernikahan
di jari manisnya terjatuh di La Rambla, sehingga membuatnya terpisah dari suaminya. Karna Kebingungan apa yang harus di lakukannya Lubi menangis mengelilingi Canaletes 7 kali, Thubi yang baru saja menyadari membuka matanya setelah mengucapkan satu permohonan di depan Canaletes, memperhatikan Lubi
dari tadi heran, tanpa permisi ia langsung membungkukkan badan Lubi dipancuran CanaLetes, takdir…saat mereka membungkuk bersamaan mereka meneguk air tersebut yang bersebelahan.
“Kau adalah takdirku…”
Tanpa kenal sebelumnya dari sekian banyak pengunjung dari belahan negara dua insan satu rumpun di pertemukan di CanaLetes. Perkenalan pun berlanjut, di pertemuan berikutnya.
“Temui aku di air perjumpaan ini, dan kau akan mendapatkan cincinmu.” Thubi melambaikan tangannya kearah Lubi yang masih bengong. Perjumpaan itu pun berlanjut di depan CanaLetes di hari berikutnya. Entah mengapa Lubi datang seperti apa yang di janjikan laki-laki itu, sambil memegang Digital Lubi mengambil
seluruh gambar bangunan di sekitar CanaLetes.
Tanpa sadar laki-laki itu sudah berdiri di depan kamera Lubi. Menjadi objek kamera Lubi.
Dan tanpa permisi laki-laki itu memasangkan cincin di jari Lubi.
“Tapi ini bukan cincinku yang hilang….” sela Lubi.
“Pengganti cincinmu….apa kau mau menerimanya?”
Lubi terdiam menatap cincin tersebut.
“Tapi aku tak mengenalimu, kita bertemu baru kemarin…”
“Apa kau tahu doaku didepan Canaletes kemarin?”
Lubi menggeleng pelan.
“Kau adalah takdirku…”
“Sudahlah….apa kau tahu kita sering bertemu di Indonesia, tapi kau tak melihatku…aku memperhatikanmu saat keluar rumah dan saat kau bersama teman-temanmu, apa ini menurutmu kebetulan? dunia seluas ini kita di pertemukan di depan air perjumpaan dan aku ingin mengikatmu dengan cincin
ini biar kau ingat bahwa kita dipertemukan di Canateles”
Lubi menatap Thubi masih heran.
Entah magnet apa Lubi terdiam, seperti mengangguk.
Thubi mengajak Lubi tak jauh dari La Rambla di jalan Montsio, sekitar 300 meter dari Plaça Catalunya. Mereka menghabiskan waktu ke katedral sagrada familia danpark Guell taman karya Gaud dengan bus
bertarif 18 Ruro.
Mozaik yang indah penuh warna-warni, tak ada keraguan Lubi di tuntun oleh laki-laki itu menyusuri jalanan park Guell.
Namun kini hanya kenangan yang sudah mulai lenyap. Lubi tak ingin mengingatnya lagi, Canaletes air itu sudah membuktikan Lubi dapat menginjakkan kaki di kota ini lagi.
Percaya atau tidak Lubi memandang Canaletes dari kejauhan, tempat di mana untuk pertama kalinya Lubi
bertemu dengan Thubi.
Entah kemana cincin itu berada? lubi membuangnya begitu saja.
Di sepotong jalan itulah, menjelang sore hingga malam, orang–orang dari berbagai penjuru berkumpul. La
Rambla ibarat lorong pertemuan. Dari sepasang kakek nenek hingga muda-mudi.
Tempat perjumpaan yang meninggalkan kenangan.
“Telepati itu kini tertuju padamu tahukah? lonceng hatiku mengalun untukmu”
__ADS_1
Hari ini begitu melelahkan, tanpa berpikir panjang Lubi berbaring di tempat tidur hingga ia pun terlelap
melupakan peristiwa hari ini yang di laluinya.
BIP…BIP…BIP…BIP...BIP...
Saat Lubi melihat layar ponselnya betapa terkejutnya ia mendapati 33 pesan yang ia terima dengan 13
panggilan tak terjawab.
Satu-persatu ia membuka pesan singkat itu.
BIP… (19:30)
\== Jemput aku di bandara…
(20:30)
\== Aku masih menunggumu…
(21:30)
\== Jika kau tak dating, aku akan tetap menunggumu …
(21:35)
\== Jantungku berdetak kuat, menantimu
dirimu
(22:35)
\==Apa kau akan benar-benar dating?
(22:45)
\==Walau dingin beberapa celcius aku tetap menuggumu, kau ingat hari pertama kita
bertemu di kota ini?
(22:55)
\== Di sini ramai, aku yakin kau langsung bisa mengenaliku.
(23:00)
\==Datanglah, aku akan selalu menunggumu.
(23:02)
\== Tahukah? saat ini aku tak bisa meninggalkan tempat
duduk ini sedetikpun, takut kau dating dan aku tak ingin membuatmu
mencari-cariku, datanglah…
Thubi masih duduk di bandara dengan tenang, meski suhu saat itu sudah berada di bawah derajat celcius namun
kali ini ia tak beranjak bangun sama sekali. Tak terlihat sosok orang yang ditunggu-tunggunya akan muncul dari arah utara. Sedikit kegelisahan namun ia tepis untuk meyakinkan dirinya bahwa Lubi akan datang menjemputya.
Entah beberapa jam telah terlewati, detik menit dan jam namun masih tak ada tanda-tanda Lubi akan
berjalan sambil melambaikan tangan, atau sama sekali bayangannya pun seolah enggan untuk muncul. Thubi masih menunggu dan menunggu entah mungkin untuk berapa lama sementara hawa dingin mulai memasuki sela-sela mantel dinginnya. Beberapa orang di bandara mulai berkurang satu persatu mulai lenyap hingga
tersisa beberapa orang yang memang memiliki keperluan penting untuk melangkah keluar di jalanan, Thubi mengambil ponsel di saku mantelnya, sesaat ia meragukannya. Namun dengan cepat ia mengetik sebuah pesan singkat ke no ponsel Lubi.
Satu detik, dua menit, tiga jam…
__ADS_1
Tak ada balasan dari Lubi.
Bersambung..........