Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 43


__ADS_3

Setelah kejadian itu semua Lubi tak ingin


menemui siapa-siapa mengurung diri di kamar, kepalanya akan bertambah sakit


jika ia mencoba memaksa ingatan-ingatan dulu. Akhirnya Lubi membuka foto album


kenangan ia semasa kecil dahulu. Menatap tiap wajah-wajah lugunya dulu.


...................


 


Sore di Plaça


Catalunya. Udara Barcelona terasa dingin dibalut beberapa derajat Celcius.  Bangku panjang di Plaça Catalunya  terisi


penuh.  Sudah setengah hari lebih Lubi


menyusuri jalan–jalan dengan kamera yang menggantung dilehernya, di Las Ramblas


Barcelona ada sebuah tangki hitam dengan keran berwarna emas disekelilingnya


yang merupakan sumber air yang bebas diminum oleh siapapun.


 Diplakat tertulis bahwa siapapun yang meminum


air dari font de Canaletes, maka meskipun pergi jauh ia akan selalu kembali


ketempat itu.  Pada awalnya Lubi hanya menghilangkan


rasa haus, mitos baginya untuk kembali ketempat itu lagi.  Namun entah langkah kakinya menuju ditempat


itu, Lubi hanya bisa mematung sambil memandangi La Rambla, Bulevar yang


amat tersohor dikota yang bertepi di Laut Tengah itu. Menyusuri La Rambla.


Lubiduduk di sudut La Rambla, terlihat barisan pepohonan.


Hanya batang, cabang, dan tangkainya.  Daun–daunnya


berguguran  menyambut datangnya musim


semi.  Di sepanjang jalan, bangunan–bangunan paduan arsitektur gotik dan modern seperti  untaian sejarah mozaik yang tak pernah terputus. Lubi sibuk menuliskan sesuatu dibuku yang sering ia bawa kemanapun


pergi, entah sudah empat buku yang penuh dengan puisi-puisi yang mengalir


tergores dikertas.


Ya…sejarah untuk pertama kalinya Lubi bertemu dengan Thubi di depan mushola sekolahnya dulu sewaktu SMA.


Lubi


menuliskan dibuku catatan fisikanya kalau ia mengagumi sosok Thubi suaminya


sekarang saat ini yang telah menjadi suaminya.


Namun ia pendam karna perasaan itu hanya perasaan kagum semata tak lebih. Karna ia sadar betul Thubi saat itu tak ingin berpacaran, Lubi yang saat itu belum berjilbab hanya mampu menuliskan luapan


hatinya dengan puisi, tiap hari, tiap jam bahkan tiap ia berjumpa atau sekedar


melihat Thubi diperpustakaan, kantin dan kelas.


Itulah perasaan Lubi saat itu begitu aneh dan sempat membuat Lubi gugup jika


berpapasan atau bahkan ia sengaja melewati kelas Thubi untuk melihatnya saja.


Siapa yang  tak akan tertarik dengan sosok Thubi yang cerdas, santun, lantunan

__ADS_1


Al-qur’an indah dari merdu suaranya. Sudah menjadi takdir bila Lubi di pertemukan dengan Thubi dan sekarang menjadi suaminya saat ini. Namun pernikahannya kali ini hambar dan hampa.Setelah kejadian


kehilangan ingatannya.


Saat tahun pertama pernikahannya  Lubi berada di  Canaletes,


air perjumpaan. Masih ingat jelas di ingatan Lubi tanpa sengaja cicin pernikahan


di jari manisnya terjatuh  di  La Rambla, sehingga membuatnya terpisah dari suaminya.  Karna Kebingungan apa yang harus di lakukannya  Lubi menangis  mengelilingi Canaletes  7 kali, Thubi yang  baru saja menyadari membuka matanya setelah mengucapkan satu permohonan di depan Canaletes, memperhatikan  Lubi


dari tadi heran, tanpa permisi ia langsung membungkukkan badan Lubi  dipancuran CanaLetes, takdir…saat mereka membungkuk bersamaan mereka meneguk air tersebut  yang bersebelahan.


“Kau adalah takdirku…”


Tanpa kenal sebelumnya dari sekian banyak pengunjung dari belahan negara  dua insan satu rumpun di pertemukan di CanaLetes. Perkenalan pun berlanjut, di pertemuan berikutnya.


“Temui aku di air perjumpaan ini, dan  kau akan mendapatkan  cincinmu.” Thubi melambaikan tangannya kearah Lubi yang masih bengong. Perjumpaan itu pun berlanjut di depan  CanaLetes di hari berikutnya. Entah mengapa Lubi datang seperti apa yang di janjikan laki-laki itu, sambil memegang Digital Lubi mengambil


seluruh gambar bangunan di sekitar CanaLetes.


Tanpa sadar laki-laki itu sudah berdiri di depan kamera Lubi. Menjadi objek kamera Lubi.


Dan tanpa permisi laki-laki itu memasangkan cincin di jari Lubi.


“Tapi ini bukan cincinku yang hilang….” sela Lubi.


“Pengganti cincinmu….apa kau mau menerimanya?”


Lubi terdiam menatap cincin tersebut.


“Tapi aku tak mengenalimu, kita bertemu baru kemarin…”


“Apa kau tahu doaku didepan Canaletes kemarin?”


Lubi menggeleng pelan.


“Kau adalah takdirku…”


“Sudahlah….apa kau tahu kita sering bertemu di Indonesia, tapi kau tak melihatku…aku memperhatikanmu saat keluar rumah dan saat kau bersama teman-temanmu, apa ini menurutmu kebetulan? dunia seluas ini kita di pertemukan di depan air perjumpaan dan aku ingin mengikatmu dengan cincin


ini biar kau ingat bahwa kita dipertemukan di Canateles”


Lubi menatap Thubi masih heran.


Entah magnet apa Lubi terdiam, seperti mengangguk.


Thubi mengajak Lubi tak jauh dari La Rambla di jalan Montsio, sekitar 300 meter dari Plaça Catalunya. Mereka menghabiskan waktu ke katedral sagrada familia  danpark Guell taman karya Gaud dengan bus


bertarif 18 Ruro.


Mozaik yang indah penuh warna-warni, tak ada keraguan Lubi di tuntun oleh laki-laki itu menyusuri jalanan park Guell.


Namun kini hanya kenangan yang sudah mulai lenyap. Lubi tak ingin mengingatnya lagi, Canaletes  air itu sudah membuktikan Lubi dapat menginjakkan kaki di kota ini lagi.


Percaya atau tidak Lubi memandang Canaletes dari kejauhan, tempat di mana untuk pertama kalinya Lubi


bertemu dengan Thubi.


Entah kemana cincin itu berada? lubi membuangnya begitu saja.


Di sepotong jalan itulah, menjelang sore hingga malam, orang–orang dari berbagai penjuru  berkumpul.  La


Rambla ibarat lorong pertemuan. Dari sepasang kakek nenek hingga muda-mudi.


Tempat perjumpaan yang meninggalkan kenangan.


“Telepati itu kini tertuju padamu tahukah? lonceng hatiku mengalun untukmu”

__ADS_1


Hari ini begitu melelahkan, tanpa berpikir panjang Lubi berbaring di tempat tidur hingga ia pun terlelap


melupakan peristiwa hari ini yang di laluinya.


BIP…BIP…BIP…BIP...BIP...


Saat Lubi melihat layar ponselnya betapa terkejutnya ia mendapati 33 pesan yang ia terima dengan 13


panggilan tak terjawab.


Satu-persatu ia membuka pesan singkat itu.


BIP… (19:30)


\== Jemput aku di bandara…


(20:30)


\== Aku masih menunggumu…


(21:30)


\== Jika kau tak dating, aku akan tetap menunggumu …


(21:35)


\== Jantungku berdetak kuat, menantimu


dirimu


(22:35)


\==Apa kau akan benar-benar dating?


(22:45)


\==Walau dingin beberapa celcius aku tetap menuggumu, kau ingat hari pertama kita


bertemu di kota ini?


(22:55)


\== Di sini ramai, aku yakin kau langsung bisa mengenaliku.


(23:00)


\==Datanglah, aku akan selalu menunggumu.


(23:02)


\== Tahukah? saat ini aku tak bisa meninggalkan tempat


duduk ini sedetikpun, takut kau dating dan aku tak ingin membuatmu


mencari-cariku, datanglah…


Thubi masih duduk di bandara dengan tenang, meski suhu saat itu sudah berada di bawah derajat celcius namun


kali ini ia tak beranjak bangun sama sekali. Tak terlihat sosok orang yang ditunggu-tunggunya akan muncul dari arah utara. Sedikit kegelisahan namun ia tepis untuk meyakinkan dirinya bahwa Lubi akan datang menjemputya.


Entah beberapa jam telah terlewati, detik menit dan jam namun masih tak ada tanda-tanda Lubi akan


berjalan sambil melambaikan tangan, atau sama sekali bayangannya pun seolah enggan untuk muncul. Thubi masih menunggu dan menunggu entah mungkin untuk berapa lama sementara hawa dingin mulai memasuki sela-sela mantel dinginnya. Beberapa orang di bandara mulai berkurang satu persatu mulai lenyap hingga


tersisa beberapa orang yang memang memiliki keperluan penting untuk melangkah keluar di jalanan, Thubi mengambil ponsel di saku mantelnya, sesaat ia meragukannya. Namun dengan cepat ia mengetik sebuah pesan singkat ke no ponsel  Lubi.


Satu detik, dua menit, tiga jam…

__ADS_1


Tak ada balasan dari Lubi.


Bersambung..........


__ADS_2