
Waktu itu belum siang benar, nampak hanya penjaga sekolah dan penyapu halaman sekolah dan pengurus kantin masih mondar-mandir mempersiapkan dagangannya.
Lubi meletakkan tasnya, masuk ke dalam kelas. Masih sepi, namun ada sesuatu yang menarik baginya lembaran kertas origami berwarna - warni membentuk lipatan-lipatan kecil.
Aroma pagi ini begitu wangi, hingga kicauan burung akan cemburu karna aku dan kamu menghirup udara yang sama. Mengalun bahwa lonceng hatiku mengalun untukmu.
Lubi sudah terbiasa dengan hal- hal itu. Malah ditunggu- tunggunya karna dia akan membaca kutipan kata penyemangat, puitis atau apapun. Lubi akan menyimpannya cepat- cepat jika ada yang temannya yang masuk ke kelas berdatangan dan akan melanjutkan membacanya di rumah.
Shiren, Vio, dan Dwi sudah hapal betul. Namun namanya mereka tetap tahu karna tak akan ada yang bisa disembunyikan dari mereka berempat.
"Dapat pesan dari pemuja rahasia lagi."
Shiren menggeserkan bangkunya perlahan nampak di ikuti Vio dan Dwi ikut duduk nimbrung.
Lubi senyum kecil, langsung memasukkannya kedalam tas sebelum para sahabatnya mulai rusuh bacain satu persatu di depan kelas.
"Ciyeeeee..."
Sorak mereka kompak godain Lubi manyun.
"Berisik banget, inget ya hari ini ulangan matematika..."
Ancam Lubi, udah mengeluarkan jimat ampuhnya.
"Ampunnnnnnn, emak jenius ngambek di godaian."
Dwi merangkul lengan Lubi.
"Jangan dengerin mereka, contekin aku aja ya..."
"Uh, maunya..." Lubi melepaskan rangkulan
Dwi yang langsung manja. Vio dan Shiren ikut gak mau kalah manja.
"Emak jenius jangan gampang dikit-dikit ngambek ntar cepet tua, si pemuja rahasianya bakal kabur yang ada. Ngeliat Emak jenius keriput duluan."
Celoteh Vio. Shiren dan Dwi mengangguk kompak mengiyakan.
"Pulang sekolah nonton ya, ada film bagus pemeran cowoknya ganteng banget."
Shiren kasih usul.
__ADS_1
"Kalian gak sadar minggu -minggu ini udah masuk ulangan harian, masih sempet-sempetnya ngajak nonton." Lubi gak setuju.
"Kan ada emak jenius." Jawab Shiren asal.
"Yeeee enak aja, gak kalau satu nonton semuanya harus nonton, biar adil."
Lubi membenarkan gak mau kalah.
Tiba-tiba laki-laki pendiam itu masuk ke kelas. Semua terdiam sejenak menoleh ke arah Thubi yang berjalan dengan dingin.
Thubi, penghuni sekolah, cowok dingin yang jarang banget komunikasi atau sekedar basa-basi, cuma Thubi seorang asik nulis saat jam kosong dan istirahat
Shiren menyenggol lengan Vio dan Dwi.
Mereka curiga kalau yang selama ini ngirimi tulisan-tulisan itu Thubi.
Sempet mereka jadi detektif dadakan untuk membongkar siapa pemuja rahasia Lubi.
Namun selalu gagal tiap kali mengintai gerak-gerik Thubi, keduluan ketahuan melulu, akhirnya ya udahlah toh Lubi seneng nerima pesan-pesan itu. Maklum aja mau sma atau nelpon lewat hand phone, mamahnya Lubi yang pegang hand phone kayak kamera cctv mantau 24 jam non stop, alhasil cowok-cowok sulit pendekatan sama Lubi, kalaupun hang out paling berempat sama Vio, Dwi dan Shiren itupun dibatasi jamnya.
Namun entah mengapa jam istirahat itu, saat seisi kelas kosong.
Biasa Vio, Dwi dan Shiren muncul intuisi detektifnya, dari luar kelas Dwi udah jaga-jaga kalau ada yang memergokin mereka.
"Gua bilang juga apa?"
Mulut Vio komentar, si Dwi geleng-geleng kepala.
"Cepet buruan! Thubi udah jalan kesini." pekik Shiren kasih kode.
Dwi dan Vio mencoba merapikan tas milik Thubi di atas meja.
"Gak ada sama sekali, isinya buku doang."
"Kira-kira siapa ya?"
Vio dan Dwi langsung meninggalkan bangku meja.
"Atau jangan-jangan?"
Vio menempelkan jarinya ke bibir Dwi.
__ADS_1
Sementara Shiren udah kasih kode kalau Thubi udah di depan pintu.
"Bi, kamu ya yang ngirimi Lubi surat-surat itu?"
Ceplos Shiren menembak langsung pertanyaan ke arah Thubi yang santai berjalan tak memperdulikan mereka.
Lubi pun masuk ke kelas mendadak sebelum bel istirahat berbunyi.
"Kalian apaan sih?
Lubi memotong pembicaraan Shiren."
"Dari pada salah sangka, lebih baik tanya langsung ke orangnya kan?"
Jawab Shiren.
"Kamu sukakan sama Lubi?"
Lubi langsung membekap mulut Shiren sebelum mengeluarkan pertanyaan lagi.
Thubi menoleh, berjalan mendekati mereka namun masih dengan sifatnya yang dingin.
Ia mendatangi Lubi langsung, langkahnya pasti mendekat dan lebih dekat lagi.
Hingga hanya berjarak beberapa senti lagi.
Nampak Lubi membentur dinding saking gugup dan takutnya.
Shiren, Vio dan Dwi baru kali ini melihat Thubi yang sedingin itu, entah apa yang ingin dilakukannya pada Lubi.
Baru ingin menggerakkan bibir.
Mengatakan sesuatu, bel masuk sudah berbunyi.
Semua anak-anak langsung masuk.
Thubi mundur dan pergi meninggalkan Lubi yang panik.
Shiren, Vio dan Dwi langsung mengajak Lubi duduk.
Semua saling bertatapan heran.
__ADS_1
Bersambung...