
Paginya, Thubi tak mendapati Lubi di kamarnya. Dengan membuka matanya perlahan.
Thubi mengintip Lubi sedang asyik membaca buku hariannya masa lalu.
....
Kisah yang pernah mereka lewati beberapa tahun lalu. Sebelum ingatannya terlupakan.
Thubi beberapa kali menyelipkan surat dan puisi untuk wanita yang ia sukai namun tak pernah ada jawaban. Hingga waktu itu Thubi tak bisa melihat lagi wanita pujaan hatinya. Hanya surat balasan singkat yang ia temukan diatas mejanya. Ia masih menyimpan surat belasan tahun itu yang sudah lusuh.
Perkenalan itu sangat singkat. Karna penasaran di ulanginya lagi pertemuan itu. Entah sudah keberapa kalinya berpapasan yang tak sanggup memandang mata.
Cinta diam-diamkah yang dipilihnya.
Pada wanita yang bernama Lubi, seluruh media sosial di ikutinya demi wanita pujaan hatinya. Namun tak ada satupun instagram, facebook, twitter, Wa atau apapun itu tentang Lubi.
Wanita biasa yang entah begitu spesialnya ditiap pandangan.
tiap berpapasan degup jantungnya memacu hebat, hingga tak tertahan lagi, keringat sebiji jagung mulai mengucur.
Tahukah loceng hati Thibil mengalun tak berhenti, dari jarak tiga meter aroma wanita pujaannya terus mengintai.
Benarkah ini cinta? atau penasaran beberapa kali di acuhkan?
Lubi, wanita cerdas yang bergelimang prestasi, siapa yang tak mengenalinya. Setiap gerak-geriknya ada kontrol orang tuanya.
Hanya orang-orang tertentu yang dapat mendekatinya.
Ponsel berada dibawah pengawasan ibu yang seperti sekuriti harian. Sorot mata tajam seperti cctv siap mendeteksi siapapun dengan gerak gerik mencurigakan.
Thubi kini mencuri-curi lirikan mencoba menyelipkan surat dibuku yang sering dibacanya diperpustakaan.
Thibil sudah hapal betul, dengan menelan ludah, surat yang ia tulis semalam dengan rangkaian puisi yang ia renungkan agar bisa mencuri perhatian Lubi.
Seperti biasa jam istirahan Lubi menyempatkan waktu ke perpustakaan.
Skenario Thubi berhasil tepat memilih buku yang akan dipinjam Lubi.
Keberhasilan pertama pendekatan, namun apakah surat itu terbaca Lubi, atau terjatuh sebelum dibaca. Banyak praduga yang berkecamuk.
Semenjak itu Lubi pindah sekolah, karna orangtuanya pindah tugas.
Hingga besok paginya tepat diatas meja Thubi terselip kertas yang sama.
Thubi terdiam. Meremas kertasnya.
"Simpan cintamu, simpanlah tulisanmu kelak, kesempatan yang akan mengambil cintamu."
Entah itu penolakan atau apalah. Thubi kini masih menyimpan kertas kusut itu.
Dia kini menjadi nomor satu di dua perusahaannya. Hingga kini ia masih sendiri, tak pernah bertemu Lubi cinta pertamanya, perasaan itu begitu hambar.
Beberapa kali ia dijodohkan, namun entah ia menghindar, banyak wanita yang siap untuk dinikahinya, namun Thubi tetaplah setia pada cinta pertamanya.
Namun satu minggu kemarin perasaannya hancur, pertemuan dengan Lubi yang sibuk berbelanja perlengkapan bayi. Praduga pikirannya mulai menguasai, sungguh kacaunya perasaan yang terpendam, begitu lemas. Thibil mengurungkan niat untuk menyapanya duluan.
Lubi sudah banyak berubah, begitu anggun dan dewasa. Jilbabnya yang lembut begitu senada dengan gamis, sepatu dan tas yang dikenakannya.
Begitu lamanya Thubi tak melihat wajah itu, tapi pertemuannya sudah tak mengenakan dengan tumpukan perlengkapan bayi. Thubi masih mencari-cari dimanakah suami Lubi?
Thubi memilih meninggalkan dari tempat itu. Berusaha menguatkan perasaannya, seharusnya ia tak percaya cinta pertama, dan seharusnya ia menutup lembaran lama.
Thubi tak melihat lagi wanita cinta pertamanya. Kini ia menunduk menatap ponselnya. beberapa panggilan dari ibunya yang sibuk ingin memperjodohkannya dengan teman anaknya.
Thubi mengangkat ponselnya, dengan tanpa alasan banyak ia menyetujui pertemuan itu. Anggukan batinnya begitu kuat untuk melupakan.
Inilah langkah untuk melupakan cinta pertamanya. Dan melupakan Lubi secepatnya.
Selamat untuk menutup cinta yang tak pernah terbalas.
Lubi dari jauh sana tanpa sengaja menoleh kearah tubuh ThubiΒ yang membelakanginya.
Lubi hapal betul postur tubuh itu, seakan tak percaya, ia mengingat-ingat kembali laki-laki itu, begitu tak asing dipandangannya.
Belasan tahun lalu.
Surat itu, ya surat yang di titipkannya disatpam sekolah.
Apakah surat itu tersampaikan?
Apakah Thubi sempat membacanya?
Atau surat itu terpendam begitu saja?
Hingga rahasia hati Lubi tak ada yang tahu.
..............
Dari jauh sana Lubi menggigit bibirnya, menatap wanita yang sedang hamil ditemani suaminya mencermati tiap pernak-pernik perlengkapan bayi. Lubi menghela nafas yang hampir tersangkut, apa yang kurang dari Lubi sudah cantik, pintar dan kariernya cemerlang namun kenapa dia begitu sulit untuk membuka hatinya.
__ADS_1
Lubi sempat mengumpat dalam batin, apa karna orang tua Lubi protektif dimasa sekolah dan kuliahnya dulu, mengharamkan pacaran ataupun belum dibolehkan mendekati kaum adam.
Alhasil sekarang dia kesulitan, semua sahabatnya sudah menikah. Dwi sedang hamil muda, Shiren sedang repot mengurus bayi kembarnya sedangkan Vio sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya.
Lubi beberapa kali dijodohkan oleh orang tuanya, tapi selalu gak ada yang beres dengan calon-calon suaminya, apa karna Lubi terlalu pemilih.
Tapi ljikan menikah satu kali seumur hidup? Ia tak ingin salah pilih.
Sungguh tak ingin salah orang yang malah ujung-ujungnya gak akan bahagia.
Seandainya dirinya sama seperti sahabat-sahabatnya dulu telah pacaran dari jaman SMA dulu. Mungkin Lubi sekarang tak kesulitan mencari suami.
Umurnya sudah akan menginjak angka 29 tahun depan sudah kepala tiga, masa sampai sekarang kemana-mana selalu sendiri.
Astagfirullah, Lubi membatin mengingatkan hatinya yang goyah dengan keadaan. Apapun yang terjadi mungkin Allah telah menyimpan jodohku yang terbaik. Bersabar, berprasangka baik dan...
Lubi masih kepikiran dengan surat yang ia titipkan ke pak satpam sekolah.
Belasan tahun lalu cerita lama yang terus kepikiran dibenaknya.
Namun sampai saat ini belum mendapatkan balasan.
" Ah, sudahlah..."
Lubi membuang khayalan laki-laki yang pernah mengiriminya puisi sebelum ia pindah, karna ayahnya pada saat itu pindah tugas.
Tangan Lubi kali ini memilih kado untuk baby twins anak Shiren sahabatnya.
Seandainya kali ini ia memilihkan baju-baju baby yang lucu-lucu untuk anaknya, dan bisa ditemani suaminya.
Lubi menggeleng pelan.
"Stop..."
Lubi beristigfar berkali-kali, ia memfokuskan diri kembali dari lamunan kacaunya.
Diseberang sana muncul bayangan laki-laki di depan pintu kaca.
Lubi menelusuri mencoba mendekat, namun laki-laki tersebut membelakangi Lubi.
Degup jantung dengan irama yang tak beraturan.
Lubi semakin penasaran.
Laki-laki itu sedang mengangkat telpon tak lama menunduk lalu
Tegak berjalan.
Namun Lubi kesusahan melihat wajahnya karna sepasang istri hamil lewat didepan Lubi.
Laki-laki berkacamata itu sudah tidak ada lagi ditempat itu.
Lubi mencari-cari disekitar namun sudah tak ditemukannya lagi.
Lubi menghela nafas kecewa.
Ponselnya berdering, memotong lamunannya.
Suara diseberang menyuruhnya untuk pulang cepat.
Lubi mempergegas langkahnya menuju kasir.
Diparkiran tanpa sengaja Lubi menjatuhkan kunci mobil, tepat dibawah mobil yang bersampingan dengan mobilnya.
Tak lama, suara laki-laki itu menyapa. Begitu tak asing.
"Mba ada yang bisa dibantu?"
Deg.
Suara itu begitu lama tak ia dengar, Lubi masih kenal suara itu.
Deg.
Lubi menoleh pelan.
Sosok wajah itu, begitu lama belasan tahun tak ia temui.
Lubi terpaku diam.
Sungguh semua terdiam membeku.
Sorot tatapan itu, tak pernah ia lupakan sama sekali, sungguh ingin rasanya ia hilang ingatan saat itu juga.
"Mba kenapa?"
Suara wanita disamping itu lebih menyambar lagi, bak petir di siang hari.
"Apakah dia sudah menikah? Istrinyakah?" Lubi membatin lagi, masih terpaku.
__ADS_1
Banyak pertanyaan di otaknya yang langsung penuh.
"Kunci mobil saya..." Lubi menunjukkan di bawah mobil sampingnya itu.
Laki-laki itu dengan siaga mengambilkan kunci mobil Lubi.
Sungguh tak ada senyuman atau sapaan sama sekali dari laki-laki itu.
Seperti orang asing yang baru pertama kali bertemu.
Apakah dia tak mengingatku? Atau diri ini yang terlalu berharap lebih?
Lubi bengong.
Hingga berkali-kali laki-laki itu mengibas-ibaskan tangannya dihadapan Lubi.
"Mba ini kunci mobilnya."
Ruh Lubi seakan meninggalkan tubuhnya, kini mencoba kembali, menapaki kenyataan jika memang sepertinya laki-laki itu tak mengingatnya sama sekali.
Lubi mencoba tersenyum.
"Terimakasih..."
Lubi tak berani menatap sorot mata itu, memilih menunduk.
Perpisahan itu begitu cepat laki-laki itu berlalu dengan wanita disampingnya lenyap masuk ke mobil.
Lubi terpaku, masih terdiam. Di
luar mobil menatap pelan-pelan mobil disampingnya menyalakan mesin.
Dengan sembunyi-sembunyi Lubi memperhatikan laki-laki yang sedang menyetir itu dari kaca mobilnya
Yang memantulkan bayangan dari mobilnya.
Hati Lubi seakan remuk seketika.
Paling tidak, penasarannya sudah terjawab.
Sudah tak ada lagi menunggu berlarut-larut balasan surat dari laki-laki yang mengiriminya puisinya dulu di masa bangku sekolah.
Perasaan Lubi kandas yang dulu pernah mengagungkan cinta pertama, kini ia sudah menyadari, sebaiknya langsung menikah itu lebih baik, dari pada ia mengalami cinta yang tak bertuan.
Dengan tekat bulat mungkin sebaiknya harus cepat menerima tawaran ibunya,
Mungkin ini sudah jalan Allah yang berikan untuknya.
Dari jauh bayangan Lubi masih ditatapi dari kaca spion mobil yang melaju pelan meninggalkan Lubi terdiam seorang diri.
Thubi menyesal, perasaan berkecamuk.
Harusnya ia perjuangkan pertemuan langka itu namun egonya lebih memuncak.
Kenapa Lubi seorang diri? kemana suaminya? membawa barang belanjaan seorang diri, hingga untuk menolongnya mengambilkan kuncinya pun tak muncul, atau jangan-jangan Lubi masih sendiri?
Mbak Tira kini menepuk bahu Thubi.
"Hey...kenapa bengong? kamu kenal cewek barusan?"
Thubi spontan menggeleng.
"Yakin gak kenal, tapi kenapa kalian berdua segitunya saling bertatapan langsung."
"Kebetulan aja mba."
Mba Tira senyum sendiri.
"Mau ikut sore nanti ketemu anak temennya mama?"
Thubi tak menjawab sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Nanti rugi lho, kalo calonnya cantik kayak cewek tadi."
celetuk Mba Tira.
Dan itu adalah Lubi. Cinta pertama itu mempertemukan kembali.
......
Lubi hanyut dengan pemikirannya sendiri. Ia pernah melewati masa-masa hidup bersama dengan suaminya. Ikatan itu kini kenapa mesti merenggang? Lubi kali ini memegang cincin pernikahan yang ia jadikan liontin kalung.
γ
γ
ππΊπ·βπ»πΌ
Untuk pembaca setia follow ig: zuzanaoktober , untuk bisa tau jadwal up dan lain-lain.
__ADS_1
Mohon dukungan vote poin/koin, like sebanyak-banyaknya utk boster author nulis kelanjutan episodenya. Salam MCP. ππππ