
Lubi membereskan seluruh pakaiannya di lemari, Mamah menelponnya, ada getaran suara yang begitu membuatnya terpukul. Jantung Mamah kambuh. Lubi tak berpikir panjang lagi. Ia harus segera ke rumah sakit, ingin memberitahukan suaminya namun sangat berat untuk menekan tombol kontak suaminya. Takut di abaikan, karna akhir-akhir ini suaminya sering lembur.
Lubi hanya menuliskan surat di atas meja.
Ia memesan taxi on line. Keputusannya sudah bulat.
membawa beberapa tasnya.
.....
Pintu rumah masih terkunci rapat, gelap dan sunyi.
Thubi hanya berdiri di depan teras rumah. Sungguh kali ini ia sempat akan menelpon istrinya. Karna beberapa hari ini mereka tak saling bertemu.
Thubi menatap langit malam, tak bersahabat mulai mendung. Thubi membuka pintu ia menghidupkan lampu.
Terang dan sunyi. Meja makan telah rapi, semua bersih. Thubi membuka kancing bajunya. Berjalan menuju dapur. Meneguk air ke dalam kerongkongannya yang sangat kering.
Ekor mata Thubi menatap secari kertas tergeletak, namun konsentrasinya buyar ada sebuah panggilan masuk di hand phonenya. Kertas itu terjatuh di lantai masuk ke dalam kolong meja. Pupus sudah akan terlupakan.
Sebuah percakapan ringan, ada pertemuan investor malam ini di tempat makan malam. Thubi menatap jam tangannya yang telah melingkar. Lima belas menit lagi jam delapan malam.
Thubi mempercepat langkahnya menuju kamar mengambil handuk lantas mandi.
Tak butuh waktu lama ia kini membuka lemari, nafasnya seakan terhenti. Tak di temukannya lagi pakaian-pakaian istrinya kali ini, tas dan kopernya ikut raib menghilang dari tumpukan paling atas. Gerakan tangan Thubi kali ini terhenti.
Memikirkan pernikahannya yang tak akan memiliki harapan lagi.
Thubi terduduk di tempat tidur menatap foto pernikahan mereka.
"Apakah semuanya pelan-pelan akan selesai?" bisik Thubi menatap foto wajah istrinya.
"Kau telah meninggalkan rumah ini, setidaknya kau mulai perlahan-lahan meninggalkan pernikahan kita."
Kini malam itu terlewati begitu saja, hambar dan menggantung.
.....
"Apa istrimu tak memberitahu? Ibu mertuamu sudah tidak ada lagi." suara Mamah pagi ini terisak menahan tangis.
Thubi yang belum sadar betul bangun pagi ini, seakan di tampar mendadak mendengar berita itu. Thubi meloncat dari ranjang langsung mengambil handuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Tak sempat apapun, hanya seadanya.
Thubi meluncur cepat menuju rumah Mamah mertuanya.
"Kenapa Lubi tak memberitahu? apa ini alasannya ia tak pulang ke rumah dari bebepa hari yang lalu?"
Selama perjalanan Thubi terus berpikir.
Sesampai di depan rumah mertuanya, bendera hijau itu telah terpasang. Beberapa orang hilir mudik mempersiapkan kedatangan jenazah.
Subuh tadi Ibu mertua menghembuskan nafasnya terakhir.
Thubi yang memakai kemeja hitam lengkap dengan kopiah, keluar dari mobil. Tepat saat mobil ambulan baru tiba. Semua orang menepi. Penglayat mulai ramai. Nampak keluar Lubi dari mobil ambulan dengan wajah yang layu, dan cekung dapat di lihat semalaman ia tidak tidur.
Thubi mendekat, di bantu sanak keluarga lain menurunkan jenazah dari mobil.
Terdengar riuh isak tangis pecah, saat jenazah memasuki rumah. Lubi hanya diam, wajahnya pucat. Meski air matanya terus mengalir deras namun tangisnya kali ini tak bersuara.
Di dalam rumah jenazah di turunkan, Thubi masih menatap Lubi hanya tertunduk layu.
Muram dan kelabu wajahnya polos dan pucat sama sekali. Thubi mulai ragu ingin mendekat, akhirnya ia hanya berani menatapnya dari kejauhan. Thubi hanya memberikan waktu untuk Lubi tak terlalu terbebani.
.....
Pintu sama sekali tak terkunci.
"Apa boleh aku masuk?"
Lubi menatap Thubi yang masuk, berjalan mendekati Lubi yang masih duduk di ranjang.
Thubi menatap tas dan koper Lubi yang masih di luar lemari.
"Maaf mengganggu."
Lubi diam tak menjawab.
"Aku tak ingin kita berdebat lagi."
Lubi menatap jauh ke arah lain.
"Seharusnya Aku..."
__ADS_1
"Aku ingin sendiri, bolehkah?"
Lubi kali ini berkata pelan.
"Biarkan Aku sendiri, baru saja Aku di tinggalkan Mamah. Aku butuh waktu untuk sendiri."
Lubi mengulang kembali ucapannya.
Thubi mengangguk pergi meninggalkan Lubi. Dengan menutup pintu kamarnya kembali.
"Apakah pernikahan kita bisa di pertahankan?" bisik Thubi bersender di pintu kamar Lubi.
.......
"Bisa kita bertemu?" Thubi kali ini menunggu jawaban Lubi.
Lubi masih diam tak menjawab.
"Tak bisa seperti ini, kelanjutan pernikahan kita akan di bawa ke mana?"
Masih tak ada jawaban dari mulut Lubi.
"Kau boleh bersedih, tapi pikirkan perasaanku? pernikahan kita?"
"Terserah Kau akan membawanya ke mana, Aku pasrah. Tak memiliki kendali sama sekali, Ku hormati segala keputusanmu. Aku terlalu lelah, tak berdaya dengan jalan pikiranmu. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu hingga tak ada ruang lagi bagi keluarga dan istrimu."
Itu jawaban Lubi di telpon. Yang ia matikan secara sepihak begitu saja. Memang belum empat puluh hari meninggal Mamahnya. Namun selama itu juga Lubi tak pulang ke rumah mereka.
Cukup bersabar Thubi menghadapi semua ini. Lubi kali ini memberi jarak. Mereka makin memperlebar kerumitan permasalahannya.
Thubi menelpon kembali, namun kali ini malah di tolak.
"Seharusnya pernikahannya tak bisa di buat begini, sulit meredam. Bahkan pilihan menghindar di jadikan alat."
Thubi kali ini menatap cincin pernikahan mereka yang masih ia pakai, tapi entah dengan istrinya.
Bersambung...
__ADS_1