
Lubi memilihkan baju kaos untuk suaminya kali ini di lemari.
Namun ada pakaian yang tergantung menarik perhatian Lubi kali ini.
Jaket itu ya...nampak tak begitu asing bagi Lubi.
Namun Lubi tak ingin merusak suasana pagi ini, ia hanya fokus memilih pakaian-pakaian yang akan mereka bawa untuk berliburan.
Setelah semua pakaian ia masukkan semua ke dalam koper. Lubi menyiapkan seluruh perlengkapan mandi yang mesti ia bawa.
Thubi awalnya tak memperhatikan sikap Lubi yang begitu serius dan detail dalam mempersiapkan segala sesuatnya.
Namun karna keisengannya kali ini ia akan mengerjain Istrinya terlebih dahulu.
"Bi, kayaknya liburan bakal di undur."
"Kenapa?"
"Menurut kamu kenapa?"
"Aneh, deh... mana aku tahu..."
cibir Lubi tak memperdulikan sikap Thubi.
Asyik dengan kegiatannya mempersiapkan barang-barang bawaannya.
"Ini pidahan mudik atau mau liburan?"
Komentar Thubi sudah melihat lima koper berjejer rapi siap di angkut.
"Cuma tiga hari...bukan bertahun-tahun."
"Kan persiapan, kok tiga hari...seminggulah nanggung banget, jarang-jarang lho bisa ke sana..."
" Ya tapi gak gini juga, semua isi lemari dipindahin ke dalam koper."
"Kan penting semua..."
Thubi menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Kamu gak pernah liburan apa?"
"Pernah..."
"Yang penting aja di bawa..."
"Semuanya penting." jelas Lubi singkat.
"Ini masih kebanyakan, kalaupun kurang...kan bisa belanja di sana, cukup bawa tiga pasang pakaian."
"Ya gak bisalah, mana sempat nyuci baju, kan sibuk keliling sana-sini."
"Kan bisa loundry."
"Masa foto-foto bajunya gak ganti-ganti."
"Ya ampun, jadi karna untuk foto doang?"
"bukannya gitu juga..."
"Satu koper aja cukup.."
"Ya gak bisalah, belum lagi obat-obatan, alat make-up..."
"Pokokny gak bisa, kitakan gak tahu seluk beluk daerah itu..."
"Aduh kayaknya ribet banget, gak ada habisnya, kalau masih tetap bawa lima koper, kita batal liburan." Ancam Thubi.
"Aku tuh udah susah lho, kamu gak ngehargain banget usaha istri. Ya udah sekalian balikin semua barang-barang, urus sendiri..."
"Kebiasaan dikit-dikit marah..."
"Kamu duluan nyari gara-gara..."
Lubi diam, tak memperdulikan suaminya kali ini.
"Jaket siapa ini?"
"Jaket akulah...itukan dilemari aku."
__ADS_1
"Ini jaket cewek..." sambung Lubi.
Thubi terdiam sejenak, kok bisa-bisanya ia masih menyimpan jaket itu.
"Jujur aja jaket siapa ini?"
Thubi masih tak menjawab.
"Masih gak mau ngaku?"
"Jaket Tari, waktu aku main kerumahnya, malam itu hujan jadi dipinjeminnya jaket."
" Tari lagi, banyak banget ya kenangan kamu sama Tari? lupa balikin atau emang sengaja?"
"Udah deh, jangan bahas lagi...kan udah clear sama Tarinya."
Lubi melemparkan jaket itu ke kasur.
"Sempat-sempatnya malam mampir ke rumah Tari."
"Windi yang minta di temenin."
" Alasan..."
"Harus mesti berapa kali ngomong ke kamu, kalau aku gak ada perasaan apa-apa sama Tari."
"Udahlah aku capek..."
"Kebiasaan belum selesai udah main kabur."
Lubi pergi ke luar kamar meninggalkan suaminya kali ini.
Semua koper sudah rapi, tiket pesawat sudah siap. Lubi semua yang urus. Namun hanya karna masalah jaket. Kacau lagi liburan.
Thubi hanya menatap langit-langit kamar membayangkan kekecewaan di wajah istrinya yang sudah mempersiapkan ini semua.
Namun entah ujian kali ini muncul lagi.
Terdengar mesin mobil Lubi menyala dari lantai bawah.
__ADS_1
Thubi menatap dari balkon kamar. Jika Lubi sudah pergi membawa mobilnya keluar komplek.
Bersambung...