
"Menikahimu butuh keberanian. Meski kadang untuk menyerah itu sulit." bisik Thubi masih mencari istrinya menelusuri jalanan.
Kamera cctv nya tak berfungsi dengan baik, sudah dua bulan yang lalu rusak. Sama sekali tak berfungsi.
"Ke mana Aku harus mencarinya?" Thubi ingin meminta bantuan polisi namun harus menunggu satu kali dua puluh empat jam.
Thubi mendatangi penginapan Adrian kali ini. Namun Lubi sama sekali tak berada di sana.
Sangat jauh dari harapan, akhirnya Adrian dan Tari ikut mencari keberadaan Lubi.
"Tak seharusnya Aku meninggalkannya sendirian." sesal Thubi.
Adrian menepuk pundak Thubi.
"Jangan menyerah, kita pasti bisa menemukan Lubi."
"Kalian tinggal saja dipenginapan. Jangan ada yang boleh keluar sebelum Aku pulang." jelas Adrian pada Tari dan Windi.
Setelah Thubi memulangkan seluruh barang-barang belanjaan di penginapan. Adrian membantu Thubi mencari Lubi.
"Kita harus berpencar. Jika terjadi apa-apa langsung hubungi satu sama lainnya." jelas Adrian membuat kesepakatan."
"Baiklah."
...
Hari hampir sore namun belum membuahkan hasil yang maksimal. Mereka akhirnya pulang ke penginapan masing-masing.
Langkah Thubi terlihat lesu dan tak bersemangat kali ini. Nampak kesal jelas sekali.
Setelah tiba di depan penginapan. Thubi tersentak kaget.
"Lubi?"
Thubi berlari memeluk istrinya.
"Aku mencarimu dari siang tadi? apa Kau baik-baik saja? Kau ke mana saja? sungguh sangat mengkhawatirkanmu."
Thubi terus memeluk istrinya.
"Kau tidak boleh pergi lagi."
"Aku mencarimu, kenapa meninggalkanku seorang diri? Aku takut di tinggalkan akhirnya pulan sendiri."
"Aku pikir Kau hilang tiba-tiba?"
"Tadi Aku sempat membantu orang lain mencari alamat. Aku kembali ke toko bunga itu Kau tak ada lagi." jelas Lubi pelan.
Thubi terus memeluk istrinya.
"Kau tidak boleh kemana-mana lagi."
Thubi langsung menelpon Adrian jika Lubi telah di temukan.
"Kau membuat kami cemas saja."
"Apa kalian semua mencariku?"
Thubi mengangguk.
"Apa Kau merasa kehilangan?"
"Pastinya, Aku tak ingin terulang kembali lagi,berjanjilah Kau harus pamit terlebih dahulu."
Lubi mengagguk dalam pelukan suaminya.
"Beristrahatlah dulu." Thubi mengajak istrinya masuk ke dalam penginapan.
"Kau pasti kelelahan telah berjalan kesana-kemari mencariku."
__ADS_1
"Itu sebanding dengan rasa kekhawatiranku padamu. Jangan buat jantungku kacau ya." jelas Thubi.
"Kau terlalu mengkhawatirkanku. Terimakasih untuk rasa kekhawatirannya." sambung Lubi.
"Ada banyak hal yang aku ingin ceritakan padamu setelah kejadian ini semua."
"Aku mandi dulu menyegarkan badan." Lubi menuju kamar mandi.
Setelah keadaan kembali normal. Lubi tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Thubi mengetuk pintu memastikan keadaan istrinya.
"Apa Kau baik-baik saja di dalam?"
Belum ada jawaban.
"Lubi, jawablah?"
"Iya Aku sedang berpakaian." jelas Lubi.
Langkah Thubi mundur, bernafas lega.
Lubi membukakan pintu kamar mandi. Berjalan keluar.
Tari, Adrian dan Windi mengetuk pintu kamar penginapan mereka.
Malam itu ingin mengadakan makan malam bersama bertukar cerita menghabiskan malam-malam terakhir liburan mereka.
"Kalian sudah datang rupanya." Lubi mempersilahkan masuk pada Tari dan Windi.
"Kau kemana saja? Kami tadi ketakutan terus mengkhawatiranmu."
"Tenang saja Aku baik-baik saja."
Lubi memberitahukan mereka, dengan pelan-pelan Lubi membisikkan sesuatu ke Tari.
Rencana yang tertukar waktu, Lubi tak bisa menghandlenya lagi. Karna takut akan ketahuan semuanya akan berakhir sia-sia jika gagal berantakan.
"Kalian mau kemana?" tanya Adrian barusan melihat Lubi dan Tari berkemas seperti tergesa-gesa ke luar penginapan.
"Kami memiliki urusan penting." jelas Tari.
"Kau mau membawa kemana Lubi? barusan dari menghilang setengah hari. Kau malah membawanya keluar."
"Kami hanya menghirup udara segar di luar."
"Kalian tak mengajak kami para suami?" Adrian mengajak bicara sesaat.
"Nanti saja setelah urusan kami selesai."
"Kalian pasti merencanakan sesuatu?" tanya Thubi.
"Tidak hanya mencari hawa segar." jelas Lubi langsung menarik tangan Tari.
Windi asyik bermain gadget.
Semuanya sibuk masing-masing, setelah hidangan diluar selesai tersaji.
Tari memanggil Adrian, Thubi dan Windi.
"Kemarilah! nikmati makan malam."
Ajak Tari.
Mereka keluar betapa terkejutnya.
Pesta makan malam siap di serbu, Lubi telah mempersiapkannya. Dengan menggunakan layar project di depan penginapan di pinggir kolam. Video pernikahan mereka dulu telah di putar.
Acara bakar-bakaran sate, bakso, sosis dan seafood.
__ADS_1
"Apa Kau nampak tak terkejut sama sekali? Aku sudah bersusah payah mempersiapkan ini."
"Kau sama sekali tak lucu? mengkhawatirkan orang lain. Jadi ini semua pekerjaanmu tadi siang? dengan berpura-pura menunjukkan alamat orang lain, alasanmu itu membuatku percaya saja."
"Berterimakasihlah atas kejutan malam ini. Janji tak akan kabur menghilang lagi."
Lubi menyilangkan dua telunjuk jarinya.
"Bersiaplah bersenang-senang kita berpesta." jerit Adrian mendorong Thubi masuk ke dalam kolam renang.
"Kalian juga bersekongkol, dasar." Thubi menepi dan menarik semua untuk mencebur ke kolam.
Meski hawa dingin angin malam, mereka saling tertawa bersama-sama. Windi merekam mereka dari atas.
"Bantu Aku naik?"
"Tidak boleh." Adrian mendorong kembali Thubi tercebur ke kolam.
"Kalian bersekongkol." Thubi menyemburkan air ke arah mereka.
"Kalian akan tahu akibatnya." mereka saling sembur, semua terbawa kejahilan masing-masing malam ini.
"Lihatlah videomu itu, sangat menegangkan bukan wajahmu, mengucapkan ijab kabul."
"Padahal Aku sudah menghapalnya berkali-kali di rumah, tak bisa tidur memikirkannya."
"Apakah Kau gugup setengah mati?"
"Itu moment terpenting dalam hidupku. Menerima tanggung jawab yang di serahkan Ayah mertuaku. Makannya Aku kacau jika kehilangan dirimu." Thubi menyembur air ke arah Lubi.
"Kau sangat takut kehilangan diriku, sempat tadi mengintip tingkah laku suamiku gusar ke sana- ke mari seperti kehilangan akal untuk berpikir."
"Kau sangat kelewatan bercandanya."
"Tak apalah bonus terakhir perjanjian kita bukan?"
"Aku harus membuktikan apa lagi? agar kau bisa percaya dan menerimanya?"
"Aku sekarang percaya padamu, karna sudah melihat langsung kepanikanmu." Lubi memeluk suaminya di dalam kolam.
"Hey, kenapa kalian bermesraan di dalam kolam, nanti bisa masuk angin." goda Adrian menatap Tari sepertinya menginginkan juga.
"Apa kau tak cemburu pada keromantisan mereka berdua?"
"Kenapa mesti cemburu?"
"Ku pikir kita tak boleh kalah saingan juga." Adrian kini mendekati memeluk istrinya.
"Kenapa Aku tak di ajak. Kalian para orang tua tak sopan. Ada anak kecil di bawah umur, merekam sikap kalian? apa Aku sebagai anak harus tutup mata saat merekam?" Windi kali ini ikut komentar.
"Kemarilah, kita sudah menjadi keluarga yang utuh bagaimana mungkin kami meninggalkan dirimu, buah cinta kami." jelas Adrian dan Tari.
"Semua harus berbahagia, wajib menyimpan kedekatan seperti sekarang, karna hubungan kedekatan keluarga yang akan menyatukan kita bersama." jelas Thubi.
"Cepatlah kalian program, agar bisa bertambah anggota baru yang akan membuat kalian kerepotan lagi jika ada yang hilang untuk mencarinya."
"Baiklah, bagaimana istriku? usulan itu?" goda Thubi pada istrinya kali ini.
"Sebaiknya kita menghilang dulu sejenak." Tari dan Adrian menutup mata Windi dengan kedua tangan mereka.
💝💕💗💝💝💝💝💝💗💕💝
Untuk pembaca setia *MCP yang baik hati rajin bersedekah
jangan lupa vote koin/poin, komentar tiap episode, like 5 boom rate, jadikan favorite
follow ig: zuzanaoktober
salam MCP*
__ADS_1