
Lubi merapikan pakaian dilemari dengan duduk di tempat tidur. Sesekali ia istirahat dan mengulang kembali menyusun pakaiannya. Lubi menatap jam di dinding. Pinggangnya begitu terasa ngilu. Perutnya kram sakit melilit, Lubi mencoba berdiri dan mengambil ponselnya menelpon suaminya kini.
Namun kali ini ia mengurungkan niatnya ia tak ingin membuat suaminya khawatir. Kepalanya sempoyongan kali ini terasa berat.
Lubi mengangkat koper lagi, namun kali ini di rasakannya perutnya bertambah kram.
"Mbaaa Tini...."
Jerit Lubi menahan sakit luar biasa.
Lubi terduduk lemas. Kopernya terjatuh ke lantai.
Mbak Tini ketakutan, karna di lantai sudah ada bercak darah mengalir dari kaki Lubi.
......
"Bapak pulang jam berapa?"
Suara Mbak Tini mengecil.
"Kenapa?"
"Istri Bapak di rumah sakit sekarang"
....
Lubi masih belum sadar. Namun sudah melewati masa kritisnya.
"Jangan ceritakan apa-apa dulu saat dia sadar nanti."
Thubi masih menggenggam tangan istrinya yang masih di infus.
Memang kandungannya sudah lemah akibat kecelakaan terjatuh dari tangga, di tambah keletihan pindahan rumah dan membereskan pakaian dan mengangkat koper. Kini hanya menuggu kesadaran Lubi untuk membuka matanya.
__ADS_1
Malam itu Lubi membuka matanya, meski berat di lihat suaminya tertidur di sofa.
"Apakah bayiku sudah tak ada lagi?" Lubi kali ini memegang perutnya.
Air matanya menetes.
"Aku gagal menjaga anakku?"
Thubi terbangun sesaat di lihatnya Lubi menangis dengan memaksa melepaskan infus di tangannya.
Thubi langsung bangun menghentikan tangannya Lubi.
"Aku ingin pulang, tak ingin berada di sini, aku telah gagal menjaga anakku..."
"Itu bukan kesalahanmu."
"Biarkan aku mati saja, menemani anakku."
"Aku gagal..."
Thubi menenangkan istrinya.
"Kondisi kandunganmu memang lemah setelah kecelakaan itu hanya saja kuat oleh obat, kamu mengalami pendarahan karna fisikmu kelelahan itu pencetusnya."
Lubi masih menangis semakin menjadi. Thubi menenangkan istrinya. Mencoba menghiburnya. Dengan semampunya agar memulihkan mental istrinya yang terpukul.
"Semuanya akan baik-baik saja, tidak akan mengurangi rasa cintaku sedikitpun. Kita masih bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan anak kembali."
Lubi masih menangis tak menjawab sepatah katapun.
"Anak kita sudah tenang disana, Allah lebih menyayanginya. Percayalah bukannya kau saja yang merasa kehilangan aku lebih terpukul, namun kita tak bisa berbuat apa-apa. Itu semua sudah ketentuan dari-Nya."
Thubi masih memeluk istrinya di atas ranjang.
__ADS_1
.....
Lubi lebih banyak melamun di kamar, menatap foto-foto di dalam ponsel.
Thubi menawarkan kembali tiket pesawat ke hadapan Lubi.
"Aku tak ingin kesana."
Lubi menolak kali ini.
"Kenapa? apa karna mimpi itu."
"Aku tak ingin kehilangan lagi, aku akan lebih menyesal jika sampai itu terjadi."
"Apa yang kau inginkan sekarang?"
Lubi menggeleng tak tahu.
"Apakah hanya di rumah? berkurung di dalam kamar melamun seharian menunggu malam tiap hari? aku tak ingin membuatmu menyesali yang telah terjadi, meratapi penyesalan dengan mengurung diri? jika memang tak ingin ke sana, kita bisa pergi ke tempat lain."
"Aku tak memiliki semangat lagi untuk bersenang-senang, memikirkannya pun sulit. Sepertinya terlalu sulit untuk bersenang-senang dalam kondisi seperti ini."
"Kadang dari kesedihan ingin memperlihatkan kebahagiaan yang kadang kita lupa untuk memikirkannya, mungkin Tuhan mengirimkan kondisi seperti ini untuk membuat kita untuk lebih puas bersama, memiliki waktu hanya berdua dan menghabiskan malam berdua."
Lubi menatap wajah suaminya.
"Apa karna kehilangan ingatanku ini? Tuhan ingin kita mengulang kembali?"
"Memulai dari awal hingga itu akan adil di waktu yang tepat."
Thubi mendekat mencium kening istrinya.
Bersambung....
__ADS_1