
"Istriku memang masih pemalu..."
goda Thubi dengan menyelimuti istrinya.
Keseruan menjadi sepasang suami istri yang telah mereka lewati bersama.
Memandang wajah istrinya dari dekat.
Namun ia terdiam sesaat menatap. Ponselnya kali
ini.
Malam terakhir. Besok sudah pulang ke aktivitas seperti biasa.
Thubi meminum air mineral yang ada disamping tempat tidurnya.
Kehidupan yang tak mudah, meski butuh penyesuaian langsung untuk kedekatan mereka.
....
Adrian sudah mendapatkan apa yang dicarinya. Meski ia simpan rapat-rapat. Namun ia sudah terlanjur menyelidikinya.
Hingga membuang rasa penasarannya.
Terlebih dari apapun hingga ia mengetahui segalanya.
Tari menyimpan cerita yang terpendam cukup lama.
Terlebih dari kesengsaraannya mulai tak terbendung lagi.
......
Adrian memberanikan diri, hanya ingin mendengarkan dari mulut Mentari langsung.
"Kenapa menyembunyikannya?"
Tari terkejut, sedetail itu Adrian mengetahuinya.
"Kenapa tak pernah memberitahu dari awal."
Tari tak ingin menjawab, ia sekuat mungkin ia tak terpengaruh.
"Tak ada yang perlu ku ceritakan..."
__ADS_1
"Tapi aku berhak mengetahuinya?"
"Bisanya apa? semua tidak bisa di ubah lagi..."
"Aku ayahnya..."
"Dulu tak pernah untuk mencari tahu..."
"Aku bisa mengubahnya sekarang."
Tari masih tetap memegang pendirian batinnya.
Adrian memegang tangan Mentari, namun belum sempat Tari sudah menghindar.
"Di mana anak itu? aku berhak mengetahuinya."
"Lupakanlah...anggap tak pernah mengetahuinya."
Adrian terdiam menatap Tari yang membuang wajah.
"Untuk rasa bersalahlah selama ini, dan rasa sakitmu berjuang seorang diri. Beri aku kesempatan..."
Tari menggeleng.
"Aku akan mengurus itu semua..."
"Tidak untuk kali ini, biarkan seperti ini tak ada yang perlu di ubah."
"Berhentilah keras kepala. Alasanmu menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri."
"Kami sudah cukup bahagia, jangan kau usik kehidupan kami..."
"Ini menyangkut anakku juga."
Bela Adrian.
"Ibumu tak perlu tahu, kita seperti ini. Karna Ibumu."
Tari tak bisa lagi menahan sesak dadanya.
Adrian menggeleng menolak tuduhan itu.
"Berhentilah saling menyalahkan."
__ADS_1
"Aku selama tak bisa berkata, karna Ibumu telah mempermalukanku..."
Adrian terdiam mendengar tiap ucapan Tari.
"Aku bisa terima apapun yang ibumu bisa perbuat...tapi tidak untuk mengusik kembali kehidupan kami."
"Aku bisa menebus kesalahan dulu, bantu aku untuk memperbaikinya."
Tari masih tetap diam dengan kerasnya pendirian.
"Aku butuh waktu, untuk menceritakan dan menata ulang, jangan paksa aku untuk mengingat kepedihan itu."
Tari masuk meninggalkan Adrian yang masih memegang dokumen penting itu.
Tari menangis masuk kedalam, ia sebisa mungkin menutupi kelemahannya kini.
Tante Tila memeluk Tari yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka di luar.
"Percayalah semua akan baik-baik saja..."
Hibur Tante Tila mengelus rambut Tari.
Tari hanya bisa menangis yang tertahan.
Begitu kacau perasaannya kali ini. Rasanya ingin menghilang begitu saja.
Selama ini sengaja ia tutupi masa lalunya namun dengan mudahnya Adrian membongkar satu persatu luka lama itu. Hati memang tak bisa di ubah apa lagi di bohongi.
Perasaan tahu ke mana akan jalan pulang yang menuntunnya untuk mencari kebenaran.
Tari terlihat bodoh sekali lagi, ia tak cukup cerdas menutupinya dengan teliti.
Apapun itu, semoga Adrian tidak lancang untuk membawa atau memisahkan Windi dengan dirinya.
Tari cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya di butik. Ia ingin cepat pulang dan ingin memastikan keadaan Windi baik-baik saja.
Namun dari belakang Adrian sudah menghikuti dari jauh kepulangan Tari.
Adrian terdiam dari dalam mobil, anak perempuan yang cantik itu berlari dari dalam rumah yang sederhana itu ke pelukan Tari.
"Ini pasti anak tersebut..."
Bersambun...
__ADS_1