Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 38


__ADS_3

Tari seakan membuatnya semakin terpuruk, entah kenapa dia bisa membiarkan saja Windi dekat dengan Adrian dan Nisa. Memang tak memberikan posisi yang baik untuk Tari namun demi kebahagiaan anaknya kali ini ia mengalah. Apapun itu selagi ia dapat mengorbankan perasaannya juga.


Setidaknya Tari dapat memanfaatkan kondisi ini, namun akan ada yang tersakiti yaitu Nisa. Tari semakin bingung dengan posisinya. Begitu pedih jika posisinya di rebut Nisa. Namun apa yang bisa perbuat, karna tak semudah itu.


Biarlah demi kebahagiaan Windi.


Tari lama melamun sepanjang perjalanan.


Butik saat pagi masih sepi. Tari sudah sampai di depan butik.


Tari seakan tak bersemangat untuk memulai bekerja.


Langkahnya kali ini begitu lesu.


Tak lama mobil Tante Tira memasuki halaman depan.


Tari menyadari hal tersebut.


Tante Tira memberikan tas di hadapan Tari.


"Pakailah saat anakmu mengajak jalan-jalan besok."


Tari menggeleng pelan.


"Cobalah perbaiki hubunganmu dengan Adrian?"


"Nisa yang akan tersakiti."


"Tapi itu sudah hak posisimu jauh sebelum kedatangan Nisa."


Tari masih menggeleng dengan berat hati.


"Gak bisa Mba."


"Biar Adrian yang memilih siapa yang pantas mendampinginya."


Tari hanya menunduk.


"Kita masuk dulu, mencoba tidak ada salahnya."


.....


"Desain bajumu kemarin, mendapat omset yang lumayan."

__ADS_1


Wajah Tante Tira kali ini sumringah.


Dan memberikan amplop coklat ke tangan Tari.


"Percantik dirimu mulai sekarang." saran Tante Tira.


Tari masih ragu dengan pemberian ampop dari tante Tira.


"Ambillah, dengan ini kau bisa memulai hidupmu yang baru."


Tari seakan tak percaya.


"Baju itu hadiah karna kerja kerasmu selama ini, berkat kehadiranmu butik kita di lirik banyak pelanggan."


Tante Tira memeluk Tari.


"Engkau wanita tangguh, sudah seharusnya memperbaiki penampilanmu."


Kali ini Tante Tira mengajak Tari ke dokter kecantian melakukan perawatan khusus. Semenjak tidak bekerja menjadi seretaris lagi, Tari melupakan rutinitas tersebut.


....


Setelah berjam-jam, Tari mengubah penampilannya menjadi feminim. Biasanya menggunakan jeans kali ini ia mengenakan dres bunga kecil-kecil dan sepatu flat yang anggun pemberian Tante Tira.


Dia sangat puas dengan perubahan di dirinya kali ini.


Tante Tira ngacungin kedua jempolnya kali ini.


Setelah sampai sore, seharian ini Tari menghabisnya dengan perawatan diri, begitu rileks nya kali ini.


Dari kepala hingga ujung kaki, sudah begitu lama ia merindukan perawatan tersebut.


Tante Tira mengantar Tari pulang ke rumah.


Seperti biasa rumah masih sepi.


Tante Tira melambaikan tangan.


"Besok pertahankan ya feminimnya." Tante Tira memberikan kode.


Tari tersenyum mengangguk.


Sepertinya pakaian dres Tari saat menjadi sekretaris akan di bongkar malam ini.

__ADS_1


Tari masuk ke halaman.


Tak lama klakson mobil berhenti di depan pagar.


Windi memanggil Mamahnya. Keluar dari dalam mobil.


Tari yang sedang membuka pintu menoleh sesaat.


"Mamah...?"


Windi hampir tak mengenali Mamahnya kali ini.


"Mamah tumben?"


Tari mengelus kepala Windi.


Adrian yang ikut turun dari mobil langsung pangling


melihat penampilan Tari.


"Terima kasih sudah mengantarkan Windi."


Adrian tersenyum.


"Ini sudah kewajiban saya sebagai Ayahnya."


"Mau masuk dulu?"


Adrian terdiam, baru kali ini Tari menawarkan.


"Nisa kemana?"


"Dia tadi ada pekerjaan yang mendadak."


"Masuklah dulu, nanti saya buatkan kopi."


Adrian kali ini menuruti ajakan Tari, karna tangan Windi sudah mengajaknya masuk kedalam rumah.


Adrian semakin penasaran dengan perubahan sikap dan penampilan Tari.


"Tumben ia begitu ramah? penampilannya juga mempesona?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2