Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 27


__ADS_3

"Mentari, apa itu dirimu?"


Tari menoleh ke sumber suara.


Deg,


laki-laki itu muncul kembali, setelah bertahun-tahun Tari sengaja menghilangkan jejak darinya, kini pertemuan itu membuatnya harus membuka lembaran lama kehidupan masa lalunya.


Tari menjauh dari tempat itu, ia langsung menyeberang jalan.


Laki-laki itu berusaha mengejarnya. Namun aktivitas siang itu merepotkannya untuk menemukan sosok Mentari di kerumunan orang-orang.


Tari mempercepat langkahnya. Ia masih ingat betul perjuangannya dulu.


Semua tak ingin ia ungkit terlalu dalam sekali lagi luka itu sudah ia kubur rapat-rapat meski meninggalkan sakit yang luar biasa. Ia tak ingin mengenangnya sama sekali.


....


Laki-laki itu kini kehilangan penunjuk jalan.


Mentari wanita itu tak akan mudah untuk dilupakan.


Tak lama ponselnya bergetar dari saku bajunya.


Terdengar suara di seberang mengomel-ngomel tak karuan.


Laki-laki itu dengan cepat mematikan ponselnya.


Sejauh apapun membuang perasaan akan mencari sarang pada pemilik hatinya.


Laki-laki itu bergumam, terasa berat kali ini dia melangkah.


"Adrian kamu kemana saja?"


bentak Mamanya geram kali ini.


Adrian semakin berat dengan pertunangan siang ini, terlintas wajah Mentari yang ia temui tanpa sengaja beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Paling tidak ada kesempatan untuk berbicara pada Mentari, teman SMAnya dulu sekali.


Tapi, sudahlah mungkin dia sudah menikah. Bisik batin Adrian.


Adrian sudah mempersiapkan dirinya.


Walau semua di tentukan oleh orangtuanya Adrian menikmati perjodohan ini, sesama dokter siapa lagi kalau bukan teman seperjuangan.


Nisa, wanita berjilbab itu pilihan Mamahnya. Adik tingkatnya sesama fakultas kedokteran.


Adrian mengikuti saja alur ceritanya. Hingga sore ini ia pun menyetujui pertunangan dengan Nisa.


Mereka sudah siap untuk berangkat ke rumah Nisa, dengan persiapan yang telah matang tentunya.


Adrian memakai jam tangan, menatap dirinya yang memantul di cermin. Apakah dirinya kali ini benar-benar sudah siap menikah?


....


"Untuk pekerjaan pertama hari ini, antarkan kebaya ini."


Tari memasukkan kebaya itu ke dalam kotak dengan rapi, dengan seluruh aksesorisnya. Tak lupa sepatu yang dipenuhi sulaman payet manik-manik golden itu ia masukkan juga ke dalam kotak.


"Antarkan ke alamat ini..."


Wanita itu memberikan kartu nama kepada Tari.


dengan cepat Tari membaca alamat tersebut. Sungguh tak ada waktu lagi. Untuk mengejar kesempatan yang tak mungkin ia sia-siakan. Hasil rekomendasi dari sahabatnya. Akhirnya Tari dapat bekerja di butik milik Tante sahabatnya. Tentu saja tak ingin mengecewakan di hari pertama ia bekerja.


"Jangan lupa membawa ini, mungkin di sana ada perlu perbaikan kebayanya di sekitar pinggang, karna berat badan konsumen yang memesan kebaya kita, cukup naik 2 kg di bulan ini. Bertepatan di hari pertunangannya."


Tari menganngguk mengiyakan.


tanpa perlu basa-basi ia menaiki taxi on-line.


.....


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang.

__ADS_1


"Bisakah kamu membantuku?" Nisa meminta bantuan kepada Tari kali ini merapikan jilbabnya.


Tari membantunya dengan sigap dan cepat.


"Ini hari pertunanganku, kakak tingkat yang aku kagumi sejak dulu akan menjadi suamiku."


cerita Nisa dengan rona pipi memerah. Alangkah bahagianya perasaannya kali ini.


Tari hanya tersenyum. Sambil merapikan jilbab dan kebayanya Nisa.


"Mba sudah menikah?"


Tanya Nisa ke pada Tari yang masih fokus merapikan finishing payet di jilbab Nisa.


"Saya sudah punya satu anak."


Jawab Tari ringan dan singkat.


"Mba karyawan baru Tante Tila?"


"Iya, ini hari pertama saya bekerja."


"Suami mbak kerja dimana?"


Tari tak menjawab sibuk merapikan payet.


.....


"Nisa...cepat sedikit, keluarga Adrian sudah datang."


Suara mamanya Nisa kali ini lantanga memanggil ke kamar.


"Adrian?" detak jantung Tari Gugup dan gelisah.


semoga ini Adrian yang berbeda.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2