Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 45


__ADS_3

Tangan Thubi begitu dingin seperti malam-malam sebelumnya.


“Berbahagialah jika kau bahagia aku akan lebih mudah melepaskanmu.”


Lubi menarik tangan Thubi dan menggeleng pelan.


“Aku tak bisa, mana mungkin kau menerima begitu saja?”


Lubi menangis, ia tak menginginkan ini semua walau sisa umurnya sedikit ia tak mungkin menyakiti Thubi


dengan menyakitinya seperti ini. Sekuat tenaga ia menguatkan hatinya.


“Aku tak bisa melakukan ini semua."


“Berbahagialah, berbahagialah demi aku, aku akan lebih tenang melepaskanmu.” bisik Thubi


Lubi berlari menangis meninggalkan Thubi yang masih duduk mematung.


Lubi seharian menangis di kamar, matanya sembab. Kertas hasil laboratorium masih ia pegang.


Maafkan aku Thubi aku terpaksa membohongimu, aku tak bisa selalu bersamamu mungkin ini yang terbaik untuk kita, biar kau mudah melepaskanku, maafkan aku, maafkan aku sisa umurku tak lama, mungkin


kau akan bahagia jika menikah dengan wanita lain yang bisa menemanimu sepanjang umurmu.


Sekali lagi Lubi menatap kertas hasil laboratorium tersebut dirasakannya ada yang aneh, ia membaca


sekali lagi dan bahkan berkali-kali. Nama yang tertera di kertas tersebut bukan nama Lubi melainkan nama orang lain, Lubi seakan tak percaya ia melihatnya sekali lagi. Ia mengusap air matanya. Ada suatu harapan baru bagi Lubi.


Tak lama terdengar getaran ponsel Lubi, dengan pelan Lubi mengangkatnya.


“Maaf apakah ini dengan saudara Lubi, maaf kami atas nama rumah sakit salah memberikan hasil


laboratorium yang tertukar dengan orang lain kepada anda, kami pastikan hasil laboratorium. Yang sesungguknya akan dikirimkan  kepada anda.”

__ADS_1


Lubi seolah menemukan pengharapan kehidupan baru saat ini, secepat mungkin ia melangkah kan kaki


untuk menemui Thubi kembali, ia menghubungi ponsel Thubi berkali-kali namun tidak aktif.


Tak lama ponsel Lubi bergetar, Lubi berharap itu telepon dari Thubi namun terdengar suara isak tangis dari


penelepon, Lubi menambah bingung keadaannya saat ini.


“Hallo…hallo…hallo."


“Apakah ini benar saya berbicara dengan Lubi?” tak lama terdengar lagi suara isak tangis dari


penelepon seberang.


Detak jantung Lubi mulai berdetak hebat, suara penelepon seberang begitu lirih dan parau.


“Lubi harus ikhlas dan sabar ya."


Lubi menambah bingung dengan penelepon tersebut. Perasaan Lubi yang pulih kini mulai kacau.


Tubuh Lubi sudah tidak merasakan apa-apa lagi tubuhnya bagai di hempas oleh terpaan yang kuat, kepalanya terasa pusing. Namun dengan tenaga yang ada ia mengambil kamera yang beberapa hari yang lalu sempat ia mengabadikan kebersamaannya dengan Thubi.


Ya yang ia dapati hanya fotonya sendiri, tak ada satupun sosok Thubi yang tertangkap oleh kamera. Tubuh


Lubi seolah terhempas ke bumi.  Sesaat langkahnya menuntunnya berjalan menuju Canaletes tepat beberapa jam yang lalu ia meninggalkan Thubi setelah kebohongan undangan yang ia buat. Tak ada siapapun di sana hanya undangan yang masih tergeletak dan tak lama tertiup angin. Lubi menangis sejadi-jadinya entah apa yang dirasakannya saat ini bagai runtuhan bumi yang menimpa tubuhnya.


Padang rumput hijau, sisa hujan semalam masih belum kering. Lubi masih memandang nisan yang ada di hadapannya dan mendekat dengan membawa karangan lily.


Langkahnya pelan.


“Thubi sudah tenang.”


Lubi melepaskan kaca matanya, duduk disamping gundukan  tanah yang sudah ditumbuhi rumput hijau.

__ADS_1


Karangan lili kini telah bersandar di nisan.


“Kau pasti sudah tenang di sana, maafkan aku.”


Lubi masih memegang kotak peti yang menyimpan tulisan-tulisan Thubi yang ia kuburkan di bawah pohon beberapa tahun yang lalu.


Untuk Lubi, ingatkah engkau Canaletes tempat mempertemukan kita  di saat air perjumpaan berkata ada takdir menyatukan lonceng hati kita kini nyaring mengalun, jika takdir mu mengatakan iya sekuat apapun kau berusaha menjauh, kau akan tetap kembali pada pemilik lonceng hatimu dan itulah takdir canaletes di air perjumpaan. Jika kita di dunia tak di pertemukan mungkin di surga tempat yang indah, bukankah jika tak berjodoh di dunia mungkin kita berjodoh di surga, aku menunggumu disana.


....................


“Anakku?”


Lubi berkeringat dingin, ia menatapi sekelilimg. Masih di dalam kamar bersama tumpukan album foto yang masih


berantakan.


Lubi duduk dengan menenangkan diri, keringatnya membanjiri dahi dan bagian badan belakang hingga basah bajunya.


“Apakah seperti nyata? bagaimana jika itu pertanda?”


Tak lama Thubi mengetuk pintu kamarnya.


Thubi masuk dengan membawa tiket pesawat


dua lembar.


“Apakah kau mau ikut bersamaku ke Barcelona?”


Ajak Thubi tersenyum.


Lubi menggeleng pelan ia tak ingin mimpinya


menjadi kenyataan. Lubi masih mengelus perutnya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2