
Windi menangis di dalam kamar, ia mengunci kamar dari dalam ia menggunting boneka pemberian Lubi kini hanya tinggal bulu-bulu halus berterbangan.
Badan boneka beruang itu sudah berubah menjadi potongan-potongan kain kecil.
Windi membiarkan itu semua hingga perasaannya lega terlampiaskan.
Tari mengetuk pintu kamar perlahan, ia tak ingin terjadi apa-apa pada anaknya.
Semua pemberian Thubi ia masukkan ke dalam kardus.
Windi membuka pintu, berantakan semuanya.
Tari mengambil gunting yang ada di tangan Windi.
"Kenapa Windi merusak semuanya?"
"Tante itu sudah merebut Om Thubi, aku membencinya..."
Tari menggeleng.
"Kamu salah paham, tidak ada yang merebut Om Thubi, hanya kondisinya saja sekarang sudah berubah."
"Jika Om Thubi tidak menikahi wanita itu, seharusnya
Om Thubi bisa seperti dulu lagi, punya waktu sama Windi."
"Nanti suatu saat kamu akan paham..."
"Windi benci dengan tante itu..."
Windi kabur masuk ke kamar melemparkan tubuhnya
ke ranjang.
........
Di tempat lain, Lubi dan Thubi asyik mengunjungi pusat perbelanjaan.
"Ngapain jauh-jauh ke sini, kalau cuma shopping-shopping lagi...kitakan holiday?"
"Sekalian beli oleh-oleh..."
"Meski honeymoon masih mikirin oleh-oleh?"
"Gak apa-apa kok..."
Lubi acuh tak memperdulikan Thubi yang manyun udah berjam-jam menunggu Lubi.
__ADS_1
"Aku tunggu di coffeshop itu ya..."
Tunjuk Thubi yang mulai jengah.
"Siap..." Lubi menyetujui karna ia tahu satu hari full ini jatah dia belanja.
Lubi tak ingin melewatkan kesempatan itu begitu saja.
......
Thubi memeriksa pesan di ponselnya, ada pemberitahuan dari kantornya jika surat pengunduran diri Tari sudah ada di mejanya.
Thubi berpikir sejenak.
Ingin menelpon Tari. Namun ia tak ingin Lubi salah paham. Setelah pulang nanti ia akan menyelesaikan.
Thubi mematung terdiam memandang jauh ke depan, terlintas wajah Windi yang selalu ceria jika di dekatnya. Namun akhir-akhir ini sengaja ia menjauhi karna memang mungkin saatnya. Ia tak mungkin seperti dulu lagi, ia tak ingin Lubi berkali-kali salah paham.
"Pak ini kopi pesanannya."
Pelayan kali meletakkan secangkir kopi di atas meja.
Lamunan Thubi buyar sesaat dan hanya menatap lingkaran gelas itu.
Kedatangan Lubi dari belakang menutup mata Thubi sesaat.
Lubi tersenyum langsung menyeruput kopi pesanan suaminya. Lubi kini jadi pecinta kopi semenjak satu tahun yang lalu. Entah begitu damai jika kopi sudah mengaliri tenggorokannya.
"Mau aku pesenin juga secangkir kopi lagi."
"Gak perlu, sisa dari sayang aja udah cukup."
Lubi kali ini bertingkah manja.
"Kamu dari tadi kenapa ngelamun?"
"Nggak kok..."
Thubi menggeserkan secangkir kopi itu ke hadapan Lubi.
"Gimana shoppingnya?"
"Asli gak nyesel bisa ke sini...barang-barangnya gak kalah dari barang import..."
Thubi dapat melihat beberapa tas belanjaan Lubi yang penuh.
"Dari sini kita mau ke mana?"
__ADS_1
"Nyari makan dulu..."
"Gimana kita pulangin dulu belanjaan kamu."
"Biar bisa sampe malam kelilingnya."
"Ok, mumpung masih di sini..."
"Beneran..."
"Kita cari masjid dulu ya, sepertinya mau masuk adzan..."
Thubi menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kita ke pantai ya..."
"Lanjut, kemanapun kamu mau...aku ikutin..."
Thubi membawakan seluruh belanjaan istrinya.
"Makasih honey..."
Lubi mencubit pipi suaminya. Beruntungnya holidaynya kali ini, semua kemauan Lubi di ikuti oleh suaminya. Tak ada satupun yang terlewatkan.
Lubi browsing google map kali ini memantau tempat yang memang sudah ia check list dari hari-hari sebelumnya.
"Sayang ada tempat yang aku ingin kita kunjungi."
Lubi menunjukkan ponselnya ke wajah Thubi.
"Lanjut..."
Tanpa ada kata lelah dan penolakan, Thubi menurut saja kemauan istrinya.
"Katanya kalau ke tempat ini, kita akan punya baby twins."
"Oh, jadi udah pengen punya baby nih ceritanya?"
"Kan honeymoon sayang..."
"Ntar malam ya...."
Goda Thubi menyenggol lengan Lubi.
Lubi mencubit perut suaminya.
Bersambung...
__ADS_1