Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 74


__ADS_3

Bima terdiam sesaat. Baru kali ini Nisa marah besar.


Seperti akan memuntahkan lahar amarahnya.


"Tidak seharusnya mengabaikan foto ini jika tak mau menyimpannya lagi." gerutuk Nisa mengganti pakaian basahnya.


Dari sana Nisa tak keluar kamar. Salma mengetuk pintu. Bima membukakannya.


"Bisakah Aku menemui Nisa?" tanya Salma pelan.


"Dia sedang di kamarnya." Bima mempersilahkan masuk.


"Kak Bima tidak menanyakan namaku?" bisik Salma


"Kau adiknya Adam, Aku sudah tahu." jelas Bima mengabaikan.


Ternyata benar yang di ucapkan Nisa. Umpat Salma menyesal sudah menawarkan diri mengajak berkenalan duluan.


Salma mengetuk pintu kamar Nisa.


"Apa Kau baik-baik saja di dalam? Aku Salma sengaja mengunjungimu."


Nisa membukakan pintu kamarnya.


"Masuklah!"


"Aku hanya mengantarkan ini."


Salma memberikan undangan Kakaknya Adam.


"Minggu depan Kakak Adam menikah."


Nisa menerima undangan itu.


"Kau kenapa? apa Bima telah melakukan sesuatu padamu?"


Nisa menggeleng pelan.


"Aku hanya ingin sendiri." jelas Nisa.


"Baiklah, jika Kau butuh teman untuk membawamu keluar telpon saja."


Salma meninggalkan Nisa dan nenutup pintu kamarnya kembali.


Nisa menatap undangan itu sangat lama sekali, ia teringat udangan pernikahannya dulu yang tinggal siap menyebar.


Bima mengetuk pintu kamarnya tak lama, meski sempat di acuhkan oleh Nisa sesaat.


Nisa membukakan pintu.


"Ada perlu apa lagi? tak bosan menganggu hidupku terus?"


Nisa hampir menutup pintu kamarnya kembali. Tangan Bima langsung menahannya dengan cepat.


"Aku butuh bicara padamu."


"Langsung saja, jangan bertele-tele."

__ADS_1


"Undangan siapa yang Salma antarkan?"


"Bukan urusanmu."


"Aku perlu tahu."


Nisa menutup pintunya tiba-tiba tanpa memperdulikan Bima.


"Dasar ingin tahu urusan orang lain."


Nisa melemparkan tubuhnya ke ranjang.


"Hidupku membosankan." pekiknya di dalam selimut.


....


"Apa Kau baru merasakan lapar?"


"Bukan urusanmu."


"Buatkan Aku satu porsi."


"Masak sendiri."


"Mana boleh berkata seperti itu." bujuk Bima


"Suruh Delima saja mengirimimu makanan." ketus Nisa.


"Jangan melibatkan Delima lagi."


Bima menatap Nisa tegas.


"Aku menemukan ini? apa Kau patah hati untuk kedua kalinya?" Bima menggoda Nisa memperlihatkan undangan yang di pungutnya dari kotak sampah.


"Kau ini tidak ada kerjaan? memungut sampah?"


"Salah sendiri menyembunyikannya dari diriku?"


"Bisakah Kau berhenti memperolokku?"


"Aku terlalu bahagia mengetahui Kau sakit hati ke dua kalinya."


"Apa Kau puas sekarang? terawalah sampai pagi, jika perlu sampai bergadang."


Nisa melemparkan celemek ke arah Bima.


"Makan saja sendiri, Aku tak nafsu lagi."


Nisa meninggalkan Bima yang masih tertawa menggoda.


"Dasar, mudah di bohongi."


Bima menatap Nisa yang menghilang dari balik pintu.


Nisa menangis, sembunyi ke gudang.


Aku benci di tertawakan seperti ini, kenapa masih menyangkut-pautkan masa laluku.

__ADS_1


Nisa sudah merapikan seluruh pakaiannya di koper tinggal mengangkut ke dalam taksi.


Keputusannya kali ini sudah bulat.


Nisa terduduk di dalam garasi, menatap layar ponselnya. Namun jemarinya kali ini terhenti kaku.


.....


Bima langsung pergi ke kamar Nisa. Membuka pintu lemari ternyata sudah kosong. Nenek menelponnya memberitahukan karna Nisa sudah pamit akan pergi menyewa rumah.


Bima berlari mengejar Nisa.


Hampir menabrak tubuh Nisa yang duduk membungkuk di depan pintu garasi.


"Apa yang Kau lakukan di sini? kenapa tak jadi kabur? dasar bodoh hanya gara-gara undangan itu?"


"Aku tak menyalahkan undangan, kepergianku memang sudah muak dengan dirimu yang terus memperolok masa laluku."


"Jadi Kau akan kemana?"


"Bukan urusanmu."


"Nenek sudah cerita. Jika ada yang mengajakmu menikah, apakah Kau akan batal untuk menyewa di tempat lain?"


"Berhentilah berbicara tentang pernikahan? Aku sangat membenci kata itu."


"Jadi Kau juga akan membenciku."


"Apa?"


"Karna Aku telah terlanjur mengatakannya padamu. Ada yang ingin mengajakmu menikah. Apa kau mau menerima tawarannya?"


"Kepalaku sakit mendengarnya, jangan menambah untuk mempermalukan masa laluku lagi."


"Kita menikah saja, supaya masa lalumu terhapuskan."


"Kau pikir ini hanya permainan untuk menyelamatkanmu dari Delima lagi."


"Tidak juga, dari pada Kau membenci kata menikah?"


"Beraninya Kau mencoba mempermainkan perasaanku dengan mudahnya mengajak menikah."


Nisa kali ini nampak kesal mengangkat ke dua kopernya.


"Penawaranku tidak datang dua kali. Itupun jika Kau mau? Aku tak akan memaksa ke dua kalinya."


"Kau pikir itu semudah menawarkan barang dagangan?"


"Itu pikiranmu, tidak dengan pemikiranku. Pikirkanlah baik-baik."


"Tidak semudah itu."


 


 


 

__ADS_1


Jangan lupa vote koin/poin, komentar tiap episode, like 5 boom rate, masukkan ke dalam favorite


salam MCP


__ADS_2