
Semua terlihat kaku, namun sebuah keterlaluan jika mengabaikan begitu saja. Sebenci apapun Windi sama sekali tak bersalah ia hanyalah anak-anak yang belum saatnya memikirkan permasalahan orang dewasa. Paling tidak membantunya untuk melewati masa kritis.
Lubi mengangguk mengiyakan, bukan karna menuruti
ajakan Tari namun lebih membantu Windi pulih kembali seperti sedia kala.
"Aku ikut..." ucap Lubi yang sudah siap sedari tadi.
Thubi mengeluarkan mobil dari grasi, Tari mengikuti dari belakang. Ia dengan cepat menelpon Ibunya yang di rumah sakit untuk memberitahukan kedatangan mereka.
Lubi membawakan kado itu, paling tidak untuk menyenangkan hati Windi.
"Ikutlah bersama kami..."
Ajak Lubi kepada Tari yang akan memesan Taxi on-line.
Lubi dan Thubi duduk di depan sementara Tari masih mematung duduk di jok belakang mobil.
"Sekali lagi minta maaf sudah merepotkan Bapak sama Ibu."
ucap Tari yang khawatir dan panik.
Lubi menggeleng pelan.
"Saya bisa merasakan kecemasan seorang Ibu, apapun itu pasti di lakukan untuk kesembuhan anaknya."
"Tarimakasih Bu sudah memakluminya, maafkan anak saya yang sering merepotkan Bapak."
Mata Tari kali ini mulai berkaca-kaca.
tangannya kali ini memantau ponselnya kalau-kalau ibunya yang di rumah sakit memberitahuan keadaan Windi yang belum juga siuman.
Lubi menoleh ke belakang, memandang Tari yang mulai menangis.
"Kamu jangan panik, percayalah Windi kuat untuk bertahan, jangan cemas...Windi pasti akan sembuh."
__ADS_1
Hibur Lubi memegang tangan Tari mencoba menguatkan.
Thubi menatap dari kaca depan, dua wanita yang saling menyemangati dan menguatkan.
"Maaf Bu, atas kebohongan yang saya perbuat..."
pengakuan itu akhirnya keluar dari mulut Tari.
Lubi menggeleng pelan.
"Jangan pikirkan itu dulu, fokus pada anakmu ya..."
"Maaf Bu, maaf..." Tari menggenggam tangan Lubi.
belum sempat ia melanjutkan kata-katanya. tangisnya sudah tumpah.
"Windi adalah penyemangat hidupku...kalau terjadi hal yang membahayakan di kehidupannya. Saya orang pertama yang akan menyesal seumur hidup."
"Doakan yang terbaik untuk kesembuhan Windi. Jangan berpikiran aneh-aneh...."
Lubi memandang wajah Tari yang sudah pesimis.
Tari yang di kenalnya agresive kini lemah dan tak berdaya jika menyangkut tentang anaknya. di mana Tari yang seribu cara mendekati suaminya kini, pengakuan atas kelemahannya ia ucapkan.
"Percayalah Windi akan baik-baik saja..."
Suara Lubi kali ini sudah bergetar, ia dapat merasakam kesedihan Tari.
....
Tiba dirumah sakit.
Mereka hanya bisa memandang Windi dari luar, tubuhnya sudah di penuhi alat, hidung telah terpasang selang oksigen, alat pendeteksi detak jantung masih aktif memberikan gerakan di monitor.
Tubuh Tari semakin lemas, sungguh belum ada perubahan dari semenjak Windi masuk, semuanya masih dalam bantuan alat-alat medis.
__ADS_1
Mereka hanya bisa mendoakan hal yang terbaik untuk Windi.
"Kamu ambil cuti saja, temani anakmu. Sampai sadar dan membaik keadaannya."
ucap Thubi memecahkan suasana.
Tari hanya menangis dipelukan Ibunya.
"Ini kado untuk Windi besok dia ulang tahun."
Lubi menyerahkan kado besar itu.
sebagai penyemangat Windi jika ia sudah sadar kelak.
"Terimakasih, Bapak ibu sudah baik sama Windi, maafkan atas perbuatan saya, Bu...saya malu...kalian sudah baik kepada keluarga saya..."
Lubi memegang tangan Tari.
"Itu karna kamu melindungi untuk anakmu, kamu tak ingin menyakiti perasaannya. Saya dapat memahami kondisimu."
Lubi memeluk Tari.
"Kita lupakan yang sudah terjadi, belajar untuk lebih baik lagi, semoga kondisi anakmu membaik."
Tari mengangguk mengiyakan.
"Ibu wanita yang baik...Bapak sudah tepat memilih Ibu menjadi istrinya. Doakan saya...semoga setelah kesembuhan anak saya kelak, saya akan mengundurkan diri bekerja."
Lubi menggeleng pelan.
"Kamu jangan berkata begitu..."
" Tidak Bu, posisi saya yang salah, terlalu mengikuti hasrat..."
Bersambung...
__ADS_1