
“Poin satu, membuat marah tanpa alasan denda satu kali makan malam di pantai memakai pakaian badut.” jelas Lubi memperingatkan Thubi yang dari tadi susah dibangunkan.
“Aku memiliki alasan untuk marah.”
“Tapi tidak memperkuat, tidak ada saksi? hanya dirimu yang mendengarnya pada saat waktu itu?” Lubi tak mau kalah.
“Bilang saja mau mengajak makan malam romantis. Masih pura-pura beralih menggunakan perjanjian itu sebagai alasan.” goda suaminya melemparkan bantal.
“Kau harus menyelesaikan perjanjian itu hingga selesai, baru ku maafkan. Cepat buruan mandi!”
Lubi melemparkan handuk ke wajah suaminya. Yang masih ingin tidur kembali.
.....
“Menarik, poin satu lumayan terwujud, kenapa Kau sengaja memilih tempat ini, agar tidak di tertawakan orang lain? atau malu jika harus berkostum badut? tapi kenapa Kau saat ini belum memakai pakaian badut?”
tanya Lubi.
“Apa mesti Aku harus melakukannya? apa Kau tak malu makan bersama badut? Itu akan merusak suasana romantisnya saja.” Thubi memperjelas kembali.
“Kau suamiku kenapa mesti malu, perjanjian tetaplah perjanjian yang harus di laksanakan bukan?” Lubi tersenyum menang kali ini.
“Kau tega memperlakukan Aku seperti ini? wajahku yang tampan ini tidak akan terlihat jika harus menggunakan topeng badut.”
“Ikuti saja perjanjian yang telah di sepakati. Tak butuh waktu lama? berhiaslah, apa perlu bantuan untuk melukis wajahmu? Aku siap membantu.” Lubi memberikan peralatan make-upnya yang sudah ia siapkan dari awal.”
“Sepertinya Kau telah mempersiapkan semua ini dari penginapan? dan membalas dendam.”
“Aku hanya membantumu menyelesaikan perjanjian itu? kenapa kebaikanku di curigai?” Lubi kali ini hampir tertawa menang karna telah membuat suaminya menuruti keinginannya.
“Malam ini Kau menang, jangan menggunakan warna terlalu mencolok melukis wajahku.”
“Terima saja takdirmu, jangan cerewet. Kau tak boleh melihat cermin.” Lubi mulai memainkan kuas make-upnya ke wajah suaminya yang kali ini benar-benar pasrah.
“Tega sekali pada suamimu.” Thubi pasrah kali ini memejamkan matanya.
__ADS_1
Malam itu dingin cahaya kilauan lampu dari butiran-butiran pasir dan pantulan cahaya kerlap-kerlip begitu indah dan
mengagumkan.
“Aku tak ingin keluar di sini saja, kalau Kau menghapus make-upnya baru bisa berjalan-jalan di pinggir pantai itu.”
“Tenang saja, jangan terlalu banyak bergerak. Kau tak ingin kuas ini mencolok kedua matamu.” geram Lubi mengerjai suaminya kali ini.
“Kegantenganku berkurang akibat kejahilanmu, lihat saja. Jika posisiku ada padamu, tak akan ku biarkan Kau lolos dari hukumanku kelak.”
“Silahkan saja, nyatanya malam ini menjadi malam pelampiasanku. Berkacalah! Lihatlah wajahmu di cermin.”
Lubi memperlihatkan cermin di hadapan wajah suaminya.
“Sungguh Kau benar-benar mengabulkan perjanjian itu, awas saja Kau suatu saat akan merasakannya.”
“Jangan pernah menghapusnya, awas saja kalau Kau ketahuan menghapusnya. Perjanjian malam ini akan batal dan besok malam Kau wajib mengulangnya kembali. Tetaplah seperti itu hingga makan malamnya selesai
dan kembali ke penginapan kembali.” cegah Lubi menahan tangan suaminya untuk membersihkan make-up di wajahnya.
“Hanya sesaat, jangan banyak komentar. Makanan akan datang bersiaplah menikmati tertawaan dari pelayan yang akan menertawakanmu.” goda Lubi.
Benar saja para pelayan yang menghidangkan makan malam bersungut-sungut tertawa melihat penampilan Thubi kali ini. Mereka menutupi wajahnya dengan buku menu.
“Apa Kau telah puas malam ini? membuatku menjadi bahan tawaan?” Thubi menutup wajahnya dengan telapak tangan sesekali beberapa orang melewati tempat mereka.
Lubi tak bisa lagi menahan sakit perutnya yang menggelitik tak karuan. Malam itu akhirnya telah terlewati.
“Kau harus temani ku dulu sebelum pulang ke penginapan.” bisik Thubi.
“Mau kemana? apa Kau tak malu lagi dengan wajahmu? berjalan malam-malam dengan lukisan aneh itu.”
“Peduli apa? Aku sudah terbiasa dengan riasan ini selama tiga jam yang lalu, kenapa tidak?”
“Tampaknya Kau mulai menikmatinya.” Lubi bangkit dari tempat duduknya mengikuti langkah Thubi ke arah pasir pinggir pantai.
__ADS_1
“Berdirilah di sini?”
“Apa yang ingin Kau perbuat?”
“Kemarilah!” ajak Thubi pada istrinya kali ini.
“Lihatlah ke arah sana!”
Lubi menuruti perintah suaminya kali ini.
Kiss, Thubi mencium bibir istrinya kali ini sangat lama.
Lipstik tebal hasil lukisan Lubi kini ikut menempel di bibir istrinya.
“Impaskan. Kau juga merasakannya”
Thubi berlari kabur sebelum istrinya mengamuk mengejarnya.
“Thubiiiiiii.... beraninya Kau mempermainkan. Awas Kau...”
Jangan
lupa vote poin/koin, komentar positif tiap episode, like 5 boom rate, jadikan
favorite
Follow
ig: zuzanaoktober
Salam
MCP
__ADS_1