Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 72


__ADS_3

Setelah pulang Nisa menunggu Salma di kantin kampus.


Ponselnya bergetar sesaat. Muncul nama Kak Adam di layar ponselnya Salma. Nisa ragu akan mengangkatnya itu sudah ke dua kalinya. Terakhir ke tiga kalinya. Nisa menekan menerima panggilan masuk.


"Di mana Salma?" tanya suara seberang.


"Salma masih ke toilet." jelas Nisa.


"Beri tahu dia untuk cepat pulang. Mobilnya akan saya pakai."


"Baiklah, akan Aku sampaikan."


Lime menit kemudian Salma datang.


"Kak Adam menyuruhmu segera pulang."


jelas Nisa ke Salma.


"Baiklah, Aku membayar dulu ke kasir." Salma mengangkat berkas dokumen dan tasnya.


Di ikuti Nisa yang hanya membeli air mineral saja.


"Apakah Kakakmu sudah bekerja?"


"Kelihataannya?"


Nisa menggeleng.


"Kakak ku akan menikah, makannya siang ini ada foto prawedding."


"Baguslah." jelas Nisa.


"Kenapa Kau kecewa ya?" goda Salma.


"Bercandamu jangan kelewatan. " Nisa mencubit lengan Salma.


"Kenalkan Aku pada Bima." Salma menghentikan langkahnya.


Nisa seakan tak mendengar permintaan Salma.


"Nisa Aku bertanya padamu."


"Dia terikat mantan yang masih mengejarnya."

__ADS_1


"Kok bisa?"


"Bisalah. Kau hanya menahan hati jika berurusan dengannya, dalam hal apapun itu."


"Apa Kau diam-diam menjaganya takut di tikung duluan?"


"Kalau iya kenapa?" jelas Nisa tanpa basa-basi.


"Hahahhahaha. Apa dia sudah tahu?"


"Entahlah. Kalau dia baik dan memberikan perhatian, tapi jika sebaliknya menyebalkan, Aku berharap tak ingin bertemu dengannya lagi. Itulah perasaanku."


"Dasar, benci berawal peduli. Sebaiknya pulang sebelum Kak Adam murka di rumah."


Mereka masuk ke mobil dan menyalakan mesin sesaat.


.


.


.


Rumah sepi, Bima sedang tak dirumah.


Nisa menaiki anak tangga.


Nisa iseng mencoba membuka pintu kamarnya Bima, namun tak terkunci.


Nisa masuk denga leluasa, memeriksa isi seluruh kamar Bima, semua rapi, bersih dan wangi.


Tak ada satupun pakaian kotor atau yang menggantung liar di pintu. Semua sudah tertata rapi.


"Bima jangan cepat pulang, Aku ingin mengorek kelemahanmu." bisik Nisa kejahilannya muncul.


"Pasti ada foto itu jika ia masih menyimpannya. Nenek mana mungkin berbohong."


Nisa menggeledah laci, lemari dan tumpukan berkas-berkas di meja kerja Bima.


"Begitu rapatnya ia simpan. Dasar biang kerok, tapi apa Nenek hanya mencoba menghiburku, bagaimana jika bukan dia?"


Nisa terduduk di kursi kerja Bima, mencoba berpikir sejenak.


"Malam ini saja kesempatanku."

__ADS_1


Kreekk.


"Apa yang Kau kerjakan penguntit?" Bima sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Aku mencoba mencari obeng." jelas Nisa sebagai alasannya kali ini.


"Kau pikir kamarku gudang? Kau mencoba menggeledah? apa yang Kau cari?" tanya Bima mendekati Nisa.


Nisa bangun dari kursi kerja Bima.


Mulai minggir menepi ke dinding.


"Jangan mengelak? Kau sudah melampaui batas kesabaranku?"


"Aku tidak melakukan apa-apa." jerit Nisa langsung kabur keluar tanpa menoleh sedikitpun.


"Wanita itu apa yang ia cari?" Bima menutup kembali pintu kamarnya.


.


.


.


"Disembunyikan ke mana oleh dia? si biang kerok itu tak ingin di ketahui ternyata, baiklah sampai kapan Kau akan menyembunyikannya dariku."


Nisa mengunci pintu kamarnya.


Besok paginya Nisa menyiapkan sarapan di atas meja makan.


"Makanlah, ada lebih untukmu." Nisa menawarkan pada Bima kali ini.


"Tumben, biasanya juga tak peduli." Bima menggeserkan kursi makan.


"Apa lukamu di tangan itu pernah menyelamatkan seorang gadis kecil?"


"Apa pedulimu?" jawab Bima acuh.


"Kau tidak ingat tentang kejadian di jembatan?"


"Berhentilah membuatku tak nafsu makan lagi."


"Benar ia tak ingat lagi kejadian belasan tahun. Mungkin Aku terlalu berharap pada cerita Nenek."

__ADS_1


jangan lupa vote poin/koin sebanyaknya like rate 5 boom, komentar positif tiap episodenya follow ig: zuzanaoktober


Salam MCP


__ADS_2