Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 53


__ADS_3

Thubi kali ini memberikan undangan dihadapan Lubi.


"Adrian akan menikah? apa kau ingin datang ke pesta pernikahannya untuk menghadirinya?"


Lubi menggeleng, ia tak ingin merusak suasana hatinya kali ini.


"Tak ingin atau menghindar?" tanya Thubi.


"Aku mohon, jangan memancing keributan."


Sela Lubi menutup wajahnya dengan selimut.


"Kenapa harus ditutupi?"


Lubi tak menjawab sama sekali, ia masih di bawah selimut.


"Jika aku ajak pasti mau ikutkan?"


Masih tak ada respon dari Lubi yang masih tetap diam.


Entah kenapa Thubi, trus mengungkit Adrian di hadapan Lubi.


"Aku menemukan ini? kau diam-diam kan membelikanya untuk kado pernikahan Adrian?"


Lubi kali ini membuka selimut dari wajahnya.


"Kado apa?"


"Sudah aku ada bukti, masih menutupinya juga?" Thubi melemparkan bukti transferan pembayaran kemarin siang.


Lubi diam. Secemburu itukah Thubi pada Adrian.


"Kau sekarang tak hamil lagi, jadi bebas memilih bertahan atau meninggalkan?"


"Kamu ngomong apa sih?" Lubi bangkit tempat tidur.


"Ditutupin juga percuma, sekarang kamu bebas."


Thubi kali ini membanting pintu. Pergi meninggalkan Lubi di kamar sendirian.


Lubi menatap bukti tranferan tersebut.


Thubi pasti salah paham. Lubi mengejar Thubi keluar namun Thubi sudah keburu pergi dengan mobilnya.


Percuma jika di kejar, Thubi marah besar kali ini, namun Lubi kali ini terduduk di sofa depan.


Malam itu Thubi tak pulang, nomornya tidak aktif. Entah pergi kemana sudah larut malam belum pulang.


Lubi masih tertidur di sofa, ia menangis namun tak bisa berbuat banyak. Kali ini ia pasrah.


Berkali-kali menelpon di kantor, rekan kerjanya sungguh tidak ada yang tahu keberadaannya.


Lubi menyalahkan dirinya kali ini. Semuanya percuma.


Masih tak ada kabar dari Thubi.


Lubi menatap cincin pernikahannya, sesekali Lubi menangis dengan mengelus perutnya.


"Aku hanya ingin belajar membuatmu bahagia, tapi selalu salah menurutmu. Bagaimana memberitahumu jika aku sedang berusaha untuk belajar mencintaimu, meski di ingatanku tak sedikitpun ingat tentangmu di waktu dulu. Aku telah gagal menjadi seorang istri, tapi telah gagal juga menjadi calon seorang ibu."


Lubi menangis kembali. Tak lama pintu pagar terbuka.


Lubi langsung menghapus air matanya. Ia menatap bayangan suaminya yang baru memasukkan mobil ke dalam garasi


Lubi merapikan rambut, wajah dan pakaiannya. Ia menyambut kedatangan suaminya. Setelah pintu terbuka tiba-tiba. Thubi melewati Lubi seolah tidak ada orang di situ.


Terlihat wajah Thubi yang masih kecewa kejadian tadi siang. Lubi tersenyum namun Thubi memalingkn wajahnya seperti tidak melihat siapapun.


Lubi mencoba bersabar.


"Sudah aku siapkan makanan di atas meja makan."

__ADS_1


Kejar Lubi mengikuti langkah suaminya. Namun Thubi masih mendiamkan Lubi tanpa merespon.


"Mau mandi dulu ya? aku siapkan air hangat." tanya Lubi mendekat.


Namun Thubi menjauh menghindar.


"Tentang bukti transfer itu..."


Kata-kata Lubi terhenti, saat Thubi masuk ke kamar mandi membanting pintu.


Lubi terkejut semarah itukah suaminya kini? hanya karna bukti transferan.


Lubi menunggu suaminya di depan pintu kamar mandi. Namun masih sama sikap Thubi tak berubah.


Tanpa berkata apapun Thubi langsung tidur tak memperdulikan Lubi yang telah menyiapkan makan malam.


Lubi menatap suaminya yang langsung berbaring tanpa memperdulikannya, sekali lagi Lubi begitu terluka namun hanya diam dan menerima sikap suaminya dengan sabar.


.....


Ke esokan paginya Lubi telah menyiapkan kotak bekal makanan namun sikap Thubi suaminya dingin mengacuhkan Lubi.


Terpaksa Lubi mengejar suaminya sampai pagar depan. Namun masih Thubi tak membukakan kaca mobil. Lubi berusaha mengetuknya. Namun mobil Thubi melaju menjauh menghindar dari Lubi.


Thubi pergi dengan melihat dari kaca depan, meninggalkan Lubi yang masih berdiri menatap mobil Thubi menjauh meninggalkan rumah.


Lubi kali ini terdiam, kenapa suaminya kali ini berubah mustahil hanya karna bukti tranferan tersebut.


Lubi menelpon Shiren sahabatnya.


"Aku butuh ke rumahmu, sepertinya aku bertambah kacau..."


Lubi mematikan panggilannya.


.....


Lubi menceritakan setiap kejadian yang di alaminya.


"Thubi salah paham tentang bukti tranferan itu."


"Percuma dijelasin kalau dia gak mau denger, tunggu waktunya saja yang tepat."


"Apa bisa aku sesabar itu menunggunya?"


"Harus usaha dulu."


"Tapi terkadang aku menyerah."


Lubi kali ini berbaring di sofa.


"Itu bukan Lubi yang aku kenal, percayalah itu karna ingatanmu belum stabil."


"Aku lelah berusaha tegar, pada kenyataannya aku terpuruk dengan kondisi saat ini, diperjuangkan juga percuma."


"Pokoknya bertahan, dia itu cinta pertamamu. Apa aku harus turun tangan." Shiren menawarkan.


"Aku merasa lelah kondisi saat ini, aku pengen ketenangan. Apa baiknya mulai berpisah saja."


"Gak, mana boleh gitu. Bukan solusinya."


"Tapi kalau kayak gini terus, apa bisa bertahan?"


"Bertahan demi pernikahan kalian, untuk menikah saja kalian pernah memasuki tahap yang sulit? jangan pernah berpisah, percayalah perasaan Thubi akan luluh, pelab-pelan bicarakan sama dia."


Lubi terdiam berpikir sesaat. Dengan memejamkan matanya.


"Keputusanmu masih bisa di ubah, yakinkan perasaanmu, suamimu hanya salah paham saja."


"Tapi rasanya sia-sia kejutan itu, percuma dilanjutkan. Sama sekali tak akan di hargai. Selalu buruk di matanya."


Shiren memegang tangan Lubi.

__ADS_1


"Itulah pernikahan menyatukan dua orang yang berbeda untuk hidup bersama seumur hidup."


Lubi hanya memandang cincin pernikahannya sesaat.


"Bersabarlah, mungkin suamimu memiliki masalah di kantornya."


"Memang akhir-akhir ini sering pulang malam. Tapi dia sama sekali tak pernah cerita?"


"Laki-lakikan beda dengan perempuan, tidak semua masalahnya di utarakan langsung. Suamimu hanya butuh waktu. Cobalah di saat dia tenang atau ajak dia ngobrol ringan, pelan-pelan pancing dia untuk menceritaka masalahnya."


Lubi menatap Shiren.


"Percayalah, pertahankan pernikahanmu."


Shiren memeluk Lubi.


"Kamu harus bisa menjadi wanita yang tangguh, apapun itu selamatkan pernikahanmu. Jangan mudah memutuskan perkara di saat marah, karna itu akan menjadi api, yang bisa membakar dirimu sendiri. Jangan terpancing oleh nafsu sesaat. Tahanlah sedikit saja rasa yang ada di dadamu. Lebih baik menghindar dulu jika Thubi lagi kesal atau marah."


Lubi mengangguk pelan, meski ia tak yakin akan berhasil.


"Pulanglah, suamimu akan menunggu. Persiapkan kejutan itu dengan baik. Semoga berhasil."


Lubi pulang, tak lupa ia mampir ke toko kue terlebih dahulu dengan serangkaian pernak-pernik telah ia persiapkan.


Lubi semangat kali ini pulang ke rumah.


Mumpung suasana rumah sepi, sepertinya suaminya kali ini belum pulang.


Setelah semuanya tertata rapi, namun belum ada suara pagar yang dibuka. Lubi modar-mandir dengan berpakaian dres terbaiknya malam ini.


Bel berbunyi. Lubi sangat antusias langsung melangkah untuk membukakan pintu.


Namun wanita muda itu sudah berdiri di depan pintu. Lubi sama sekali tak mengenalinya.


"Perkenalkan saya Dita, sekretaris baru Bapak, mau mengambil berkas Bapak yang ada di ruang kerja,


rapat mendadak, investor asing satu jam lagi akan tiba."


Lubi menatap mobil suaminya yang terparkir di halaman.


"Suaminya meminjamkan mobilnya pada sekretarisnya."


Entah rasanya Lubi kecewa mengetahui itu semua.


"Maaf, Bu. Bapak sendiri yang meminjamkannya biar saya dapat menghemat waktu mengambil berkas. Saya sudah menolaknya untuk menggunakan taxi-on line tapi Bapak memaksa. Maaf atas ketidak nyamanan ini, sekali lagi maaf jika sudah lancang." Dita menunduk tak enak hati.


Lubi hanya melamun tak lama ia tersadar, mengajak wanita itu ke ruang kerja suaminya.


Berkas itu tepat di atas meja Thubi. Lubi memberikan pada wanita itu.


"Kenapa Thubi tak pernah memberitahu kalau ada sekretaris baru."


Lubi semakin kacau kali ini, langkahnya lemas setelah mengantar sekretaris baru suaminya di depan pintu, ia pamit untuk segera ke kantor karna berkas itu telah ditunggu.


"Apakah Ibu ada pesan untuk Bapak?"


Lubi menggeleng pelan dengan ramah.


Sebenarnya banyak yang ingin Lubi tanyakan pada Dita, namun lidahnya kelu untuk mengutarakan.


"Tidak, terimakasih."


Dita berlalu dengan mobil Thubi.


Entah kadang hal-hal kecil ini yang membuat Lubi semakin terluka.


Lubi kali ini menangis hanya menatap kejutan yang telah dingin dan kaku begitu saja.


Rasa lelahnya tadi sore sungguh mengecewakan malam ini. Batinnya tak bisa di bohongkan. Hatinya masih belum menerima semua ini.


Lubi membiarkan kejutan itu sia-sia, Lubi memilih tidur di ranjang tanpa memperdulikan apapun lagi.

__ADS_1


Mungkin sebaiknya di akhiri, hingga dadanya tak sesak lagi.


Bersambung....


__ADS_2