
Dan akhirnya lima koper itu berhasil di angkut.
Thubi tak bisa berkata apa-apa lagi. Jika Lubi sudah mempersiapkan semuanya. Ia tak ingin mengecewakan istrinya.
Jaket couple itupun di bawa, sebenarnya Thubi agak risih pakai baju kembaran, namun itu pemberian Lubi mana mungkin ditolak mentah-mentah.
Bukan anak ABG yang lagi pacaran pakai baju couple-an. Thubi tersenyum setengah hati, apapun itu demi membahagiakan Istrinya.
Entah Lubi dapat ide dari mana jaket itu trus mengintai di benaknya.
Namun apalah daya, jaket itu sudah masuk ke dalam koper.
Mereka menaiki pesawat siang ini, sesuai tujuan keinginan istrinya, semua ia serahkan sepenuhnya pada Lubi.
Thubi melihat sepasang suami istri yang sudah berumur di kursi deretan depan menggandeng istrinya ke toilet, sungguh pemandangan yang harmonis, sang suami dengan setia menunggu istrinya di depan pintu toilet.
Thubi menatap istrinya yang tertidur di sampingnya, mungkin Lubi kelelahan.
...
Perjalanan yang menyita waktu, mereka telah sampai di hotel penginapan.
Namun mereka melanjutkan tidurnya sejenak, handphone di silentkan semua seolah tak ingin di ganggu dalam hal bentuk apapun itu.
Lubi lupa jika harus memesan makan malamnya kali ini, sementara perut mereka tanpa di komando memberikan alarm peringatan.
Thubi membangunkan Lubi, dengan mencium keningnya.
Lubi membuka mata perlahan isyarat ia begitu lelah membuka mata.
"Sudah pagi?"
"Ini masih malam."
Lubi membuka matanya perlahan.
Thubi memeluk istrinya. Masih memejamkan mata.
__ADS_1
Lubi tak bisa bergerak sama sekali pasrah kali ini. kedekatan mereka sangat begitu intens.
Inilah pelukan hangat suaminya, cinta pertama yang ia yakini dan ia tunggu belasan tahun.
Lubi meyakini cinta pertamanya dan terus berdoa agar takdir mempertemukan mereka kembali di saat waktu yang tepat. Meskipun rintangan-rintangan kecil
menghantam. Ia percaya sepenuh hati jika berjodoh akan selalu menariknya untuk saling bersama dalam keadaan apapun itu.
"Dulu sempat tak pernah terpikir akan hidup bersama..."
Thubi membisik pelan ke telinga Lubi.
Meski jarak menjadi penghalang tak pernah bertemu, mengetahui satu sama lain pun rasanya mustahil hingga mungkin takdir itu mempersatukan mereka yang tak bisa di nalarkan dengan logika. Namun saat pilihan hati berdetak untuk mengatakan jika jodohnya terdekat telepati itu yang akan menarik sendiri.
Lubi mengangguk membenarkan.
"Suratku dulu tak pernah dibalas?"
Thubi mengernyitkan dahinya.
"Tapi sampai saat ini aku belum menerimanya..."
Jelas Thubi.
"Tapi sebelum aku pindah keluar kota ada satu amplop coklat berisi lima lembar surat yang aku tulia sendiri dengan tanganku..."
jelas Lubi bangun dari ranjang.
"Atau...?"
"Apapun itu yang pentingkan sekarang kita udah nikah."
Thubi menghelakan nafas lega.
Lubi mendekati wajah Lubi.
"Kamu gak penasaran surat itu?"
__ADS_1
"Sekarangkan aku bersama penulisnya? untuk apa penasaran?"
"Gak seru..."
"Lagian...buat apa di buat penasaran."
Lubi kali ini melempar bantal ke wajah Lubi.
"Sok dingin jadi cowok..."
"Ya ngapain juga agresive, mamah kamu super ketat penjagaannya, untung ga nyewa bodyguard?"
"Iya juga sih, Mamah terlalu protektif. Sampai gak bisa pegang handphone sendiri."
"Ya aku pasrah aja, di deketin juga gak bisa. Lewat surat entah kapan di balasnya..."
"Tapikan penasarankan?"
"Apanya penasaran? pura-pura cuek padahal perhatian dari jauh." Goda Lubi.
"Kamu juga pura-pura gak butuh, tapi berharap di lamar." Thubi tak mau kalah.
"Kalau aku gak terima...ntar aku di ambil orang loh. Nyesel baru tahu rasa..." gerutuk Lubi manyun
"Bawaannya serius trus, jadi tentara aja biar tempur sepanjangan." Thubi mencubit pipi Lubi.
"Kapan mesranya sih, di godaian trus..."
"Mau di mesrain ya..."
Thubi merangkul bahu Lubi.
"Gak udah basi..."
Lubi kabur ke kamar mandi.
Bersambung....
__ADS_1