
Tanpa memikirkannya pun sulit, bukan untuk menduakan, ada hal yang tersimpan dari lubuk hati karna kesamaan nasib.
Thubi membiarkan Lubi dengan sikap acuhnya malam ini, mereka saling diam. Meski di ajak bicarapun akan hasilnya sama juga menolak menjawab atau sekadar dengan gerakan isyarat.
Biarlah sama-sama berpikir dahulu, dibujuk juga akan percuma. Tetap bersikeras dengan sikap penolakannya.
Lubi tidur terlebih dahulu tanpa memperdulikan Thubi yang masih asyik dengan renungannya.
Ponselnya kali ini ia matikan. Tak ingin Lubi bertambah prasangka buruk kepadanya.
Namun tegakah jika ada seseorang yang membutuhkan pertolongannya. Apapun itu kepala Thubi kali ini semakin sakit ngilu. Cukup menikam tajam.
Thubi menghidupkan ponselnya. Sungguh ia tak tega.
Benar dugaan Thubi nomor ponsel itu menelponnya, kali ini sudah pukul 08.30.
Ia tak tega jika menolaknya.
Rintihan suara seberang nampak batuk.
Thubi keluar kamar. Ia menoleh ke arah Lubi yang sudah nampak tertidur pulas.
Di balkon kamar Thubi mengunci kembali kamarnya.
"Maaf, saya tidak bisa untuk kali ini."
Thubi mencoba menjelaskan pelan.
Meski harus jujur ia sungguh tak tega.
"Posisiku saat ini tidak seperti dulu lagi, saya tidak ingin istriku salah paham."
Thubi mengakhiri telponnya.
Membuka kembali kunci balkon.
Lubi terbangun dari tidurnya.
"Telpon dari siapa? Kenapa harus keluar untuk mengangkatnya?"
suara Lubi kali ini seolah menggantung.
Thubi terdiam seperti habis kepergok duluan.
"Urusan kantor."
__ADS_1
"Bohong."
"Apalagi yang mesti ku tutupi?"
"Sudah berjanji bukan? tak ada lagi rahasia?"
Thubi mendatangi Lubi yang rona wajahnya langsung berubah.
Telpon Thubi kini berdering kembali.
"Angkat!"
Perintah Lubi.
"Maaf tapi ini."
"Janjikan tidak ada rahasia?"
"Tapi?"
Lubi langsung merampas ponsel Thubi.
Dengan menekan tanda terima nampak dari suara seberang terdengan anak kecil yang batuk berkali-kali.
"Anak siapa ini? jawab?"
"Itu anak Tari."
Thubi langsung menenangkan Lubi.
"Dengar dulu."
Lubi langsung berdiri, seperti tak rela di sentuh, ia menghindar menjauh."
"Bi, dengar dulu."
"Kamu? teganya."
Lubi menangis kali ini, emosinya seakan menguasai batinnya.
"Cukup, apapun itu sudah tak ada kepercayaan lagi."
"Tari itu single parents."
"Oh jadi itu alasan kamu menerimanya sebagai sekretaris selama enam tahun, lantas apa tiap malam anaknya menelponmu? apa kamu tahu perasaanku? kita baru saja menikah? kenapa kamu gak pernah cerita."
__ADS_1
"Aku mau cerita, tapi sulit?"
"Toh pada akhirnya terbongkar jugakan? Aku ini sekarang istrimu? sedekat apa hubunganmu dengan anak Tari? Apa dia sudah menganggapmu lebih? Ibunya itu janda? bisa saja akal-akalannya dengan melalui anaknya kamu terpikat sama janda itu."
"Apa salahnya janda? Ibuku juga janda? apa sehina itu janda bagimu. Tidak semua janda itu penggoda seperti tuduhanmu." kini giliran Thubi yang tak terima dengan ucapan Lubi.
"Kok kamu yang marah? Aku gak pernah menyebut ibumu janda, sekretarismu itu yang banyak akal untuk menggodamu. Seharusnya aku yang marah karna sudah dibohongi."
"Kamu yang menolak untuk mendengar penjelasanku. Sedikit-dikit ngambek, marah, diem, cuekin. Kayak anak kecil. Susah ngomong sama kamu."
Thubi kali ini pergi meninggalkan Lubi yang terdiam seolah tak percaya dengan sikap suaminya kali ini yang diluar dugaan.
"Sebaiknya, masing-masing itu lebih baik."
Lubi meleparkan semua bantal dan selimut ke lantai. Begitu kesalnya. Pernikahan macam apa ini baru tiga hari.
Lubi mengurut dadanya beristigfar.
Ya Allah ada apa dengan pernikahanku? kenapa jadi begini?
Apa jodohku ini sudah tepat pilihan-Mu? atau hamba yang lalai.
Lubi meneteskan air mata.
Lubi mengambil air wudhu namun akhirnya ia tersungkur menangis kembali di kamar mandi.
Lubi membasahi tubuhnya dengan shower, sekujur tubuhnya kaku dan dingin.
.......
Dengan kekuatan yang ia kumpulkan malam itu juga ia bersujud pasrah.
Menangis sejadinya, merangkul kedua kakinya yang masih memakai mukenah.
Matanya sembab begitu pedih.
"Ampuni hamba ya Allah karna lalai, tolonglah pernikahanku ini damaikan hatiku."
Tak kuat ia membuka matanya. Akhirnya ia terlelap begitu saja.
Sebuah tangan merangkulnya. Mengangkat tubuhnya ketempat tidur.
Begitu lama mata sedih itu memandangi wajah Lubi yang pucat dan sembab.
"Maafkan aku, maafkan perkataanku."
__ADS_1
Thubi mencium tangan istrinya.
Bersambung...