Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 47


__ADS_3

Dengan kata lain Lubi berdamai pada kenyataan yang harus dijalaninya. Separah apapun. Suaminya sudah berusaha hingga kehidupan itu yang memilihnya.


Membohongi perasaannya kali meski kecewa. Atau memilih menikmati kehidupannya saat ini.


........


Adrian akan melangsungkan pernikahan.


Windi mendatangi Nisa, dengan mata yang berkaca-kaca.


Tinggal menghitung hari lagi.


"Tante masih muda dan cantik, tidak seperti Mamahku yang tak muda lagi. Tante bisa saja menunjuk laki-laki yang tante mau, tapi bagaimana dengan Mamahku? apakah masih ada jodoh untuk mendampingi hidupnya? jangan pilih Papahku, jangan biarkan Mamahku tiap malam menangis."


Windi kali ini memohon di hadapan Nisa. dengan mengangkat kedua tangannya.


"Jangan ambil Papahku, kumohon."


Nisa memeluk Windi. Mana setega itu Nisa pada anak perempuan yang ia peluk terus menangis.


Nisa terdiam, memang berat untuk mengabulkan permohonan itu. Tapi mana mungkin membiarkan kelurga itu terpisah lagi untuk ke dua kalinya.


"Berjanjilah, Tante tak akan pernah memilih Papahku."


Apa jadinya jika Nisa benar-benar mengabulkan permohonan itu, atau bahkan berpura-pura tidak tahu.


Sementara undangan telah tersebar dan tanggal sudah disiapkan.


Apa mperumit.

__ADS_1


Nisa hanya terdiam menatap layar ponselnya.


Semakin mendekati tanggal pernikahan entah apa lagi yang membuat hati dan perasaan Nisa bertambah kacau.


"Berjanjilah berkorban untuk kebahagiaan orang lain lebih terhormat, dari pada menimbun kasih sayang yang seharusnya merebut hak dari orang lain."


Kata-kata itu begitu membekas di telinga Nisa.


Nisa luluh membiarkan kebahagiaan Windi untuk menyatukan keluarga mereka.


Windi meyakinkan Nisa kembali, dengan alasan apapun ia ingin mengembalikan keutuhan keluarganya kembali.


.......


Nisa menemui Adrian untuk sebuah pernyataan yang ia yakini.


Adrian terdiam, menatap wajah Nisa yang mulai murung.


"Apa yang kau lakukan jika aku mengabulkan permohonan Windi."


Nisa diam, memikirkan alasan yang tepat untuk terlihat menjadi wanita yang kuat.


"Aku membiarkan Windi untuk memiliki kesempatan memiliki keluarga yang utuh, walaupun menyakitkan."


"Tapi aku belum memutuskan?"


"Kau hanya perlu mengabulkan permohonan anakmu tanpa harus memikirkan yang lain."


"Pasti akan membuatmu terluka?"

__ADS_1


Nisa menggeleng.


"Sakit itu membekas, aku tak memiliki pilihan lagi. Hanya sementara nanti juga akan lupa."


"Jangan abaikan anakmu lagi, Mentari sudah terlalu menderita membesarkan seorang diri anak yang kau titipkan pada rahimnya belasan tahun lalu. Rasa sakitku belum seberapa jika dibandingkan penderitaannya yang ia pendam."


"Apa kau berniat meninggalkan kota ini?"


"Kupikir itu akan baik, jika aku menghilang menenangkan perasaanku."


"Keluargamu?"


"Biar aku yang bicarakan pada mereka."


....


Nisa pamit dengan wajah berusaha tegar, keputusannya sudah bulat. Tak bisa di ubah kembali.


Setelah kejadian itu Nisa kini tak terlihat lagi. Tak bisa di hubungi ataupun sekedar menyampaikan perpisahan.


.....


Mentari masih tak memberikan jawaban apapun, ia tahu perasaan Nisa saat ini pasti begitu menyakitkan. Karna ia pernah merasakan sekalipun berusaha tegar sesungguhnya rasa itu tak akan mengubah cintanya.


Mentari melihat Windi begitu bahagia, kedua orang tuanya akan bersatu. Namun demi sebuah kebahagiaan anak, Tari sadar posisinya memiliki pengaruh pada masa depan anaknya kelak. Kesempatan itu sudah terbuka untuknya namun sekali lagi jika ia ingat wajah Nisa pasti begitu tersakiti.


Seharusnya dari dulu ia tak pernah memilih takdir itu jika dia di beri kesempatan kedua.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2