Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 60


__ADS_3

Label itu tertulis : jangan ada yang boleh duduk di sini, ini adalah kursi milik istriku "Lubi".


Lubi membaca itu terkejut, ia duduk di tempat restoran yang rupanya langganan mereka setelah menikah.


"Kau memberikan label ini?" tanya Lubi hampir tertawa heran.


"Kau pernah mengatakan, restoran ini selalu ramai saat jam makan, dari itu Aku memesan khusus dan memberi label tempat makan ini. Apa Aku terlihat berlebihan?"


Thubi duduk dengan santai memesan menu makanan.


"Aku telah membayar pajak exclusive tiap tahun hanya untuk memesan meja itu khusus untukmu. Jadi jikapun Kamu berkunjung sendiri tidak membawa uang, itu sudah dibayar otomatis dari rekeningku."


Thubi menjelaskan dengan detail.


Lubi terdiam sungguh tak terpikir olehnya suaminya melakukan itu semua untuk dirinya yang sering mengabaikan keberadaan Thubi.


Begitu buruknya jika Lubi menjauhi suaminya selama ini.


"Kadang Aku berpikir kenapa dirimu selalu memperdulikanku sedetail ini?"


"Aku membantu kembali ingatanmu, Kau telah melupakan satu kata. Memaafkan, kata itu sangat ampuh sebagai penyembuh luka di dunia ini. Sekalipun Kau pernah mengabaikan pernikahan kita. Maafku yang telah Aku simpan sebagai stok banyak untukmu masih belum habis. Namun jika Aku telah mengatakan menyerah, berarti saat itulah stok maafku telah kadaluarsa. Atau bahkan sudah tak tersisa lagi."


Thubi memegang tangan Lubi. Meyakinkan bahwa dirinya sanggup mempertahankan pernikahan mereka.


"Asalkan Kau tak pernah menyuruh sekretarismu itu mengambil barang atau dokumenmu yang ketinggalan." bisik Lubi.

__ADS_1


"Apa Kau baru saja menunjukkan sikap cemburumu?" goda Thubi.


"Apa perlu Aku melamar menjadi sekretarismu saja? hingga Dita tak berada lagi di dekatmu." tanya Lubi serius.


"Kau? mau menjadi sekretaris suamimu?"


"Kenapa tidak? Aku bisa menjadi istri sekaligus menjelma sekretaris."


"Aku yang keberatan." jelas Thubi.


"Memangnya kenapa?"


"Aku tak ingin dirimu di kelilingi klien laki-laki, suami macam apa? membiarkan istrinya menemui klien suaminya di kantor. Apalagi mengadakan pertemuan di luar dengan klien laki-laki."


Lubi terdiam wajahnya sedih. Thubi menggenggam tangan istrinya.


"Tapi tetap saja dia masih sekantor."


"Hey, tak baik berprasangka berlebihan. Dita sudah kembali ke cabang. Makannya dia tadi pagi menelpon menyerahkan seluruh berkas. Jemmy hari ini sudah masuk kerja."


Lubi sedikit bernafas lega.


"Cepat makanlah, dari kemarin dirimu belum makan nasi."


"Dari mana tahu?" tanya Lubi.

__ADS_1


"Papah bilang, dirimu belum sempat makan nasi dari kemarin pagi. Jangan memancing untuk masuk ke rumah sakit, sudah tahu ada penyakit lambung." jelas Thubi menyuapi istrinya.


"Ayo makan!"


Sendok yang sudah berisi nasi itu sudah di hadapan bibir Lubi.


Lubi membuka mulut seketika.


"Makanlah yang banyak!"


Kini Lubi gantian menyuapi suaminya. Mereka tertawa tersedak saat orang di sekitar memperhatikan mereka.


"Kenapa mesti malu? kitakan suami istri, kalau masih tidak percaya tunjukkan KTP dan buku nikah kita." sela Thubi bercanda menggoda istrinya.


"Jangan keras-keras ngomongnya." Lubi kali ini menginjak kaki suaminya dengan setengah melotot memberikan kode keras.


"Pulanglah ke rumah, dapur sudah merindukanmu. Sudah lama tak mencium tumisan masakanmu." Thubi kali ini membujuk istrinya.


"Tapi janji tidak pernah lembur lagi?"


"Tergantung istrinya?"


"Maksudnya?" Lubi semakin penasaran.


"Habiskan dulu nasimu. Nanti malam ku beri tahu, jika Kau ingin tahu rahasianya, Aku betah dirumah, tidak lembur."

__ADS_1


Lubi menginjak kaki suaminya sekali lagi.


__ADS_2