
"Memang foto itu bisa bicara?"
Thubi membuka pintu.
"Percuma juga di usap-usap, bakal bersin oleh debunya."
Lubi menutup album foto keluarga mereka.
Dengan menggeserkan tumpukan album Thubi duduk di samping Lubi.
"Kamu tidak perlu membuka foto-foto lama, sekalipun di memaksa untuk mengingat. Akan capek juga kalo terpaksa."
Lubi menoleh ke Thubi.
"Apa Kamu gak kerja hari ini?"
Thubi menggeleng.
"Ingin bersama istriku."
Goda Thubi senyum.
"Kenapa gak cerita kalau ada sekretaris baru?" tanya Lubi manyun.
"Kamu gak nanya." balas Thubi.
"Lagi males berantem."
"Memang apa sih yang di khawatirkan kalo ada atau nggaknya sekretaris baru?"
Thubi mulai tertarik memancing percakapan dengan Lubi.
"Gak apa-apa, setidaknya ada anggapan kalau di rumah ada yang mengkhawatirkan."
"Bilang aja mau di laporkan setiap jadwal di kantor, Kamu mulai cemburu ya?"
"Ngapain mau di laporkan segala, gak cemburu kok."
"Bilang nggak berarti iya dalam hati."
"Bukannya itu permasalahannya. Tapikan kamu sudah berumah tangga. Wanita itu kalau di kasih peluang sedikit saja akan menyalah artikan tanggapannya sendiri."
"Jadi harus gimana?"
__ADS_1
"Pikir aja sendiri." Lubi berjalan ke luar ruangan.
Thubi menatap bayangan Lubi yang semakin menjauh.
Tak lama ada panggilan masuk dari Dita Sekretarisnya.
"Bapak tidak masuk hari ini?" tanya Dita.
"Ada sedikit pekerjaan, kamu handle aja masalah kantor hari ini."
"Tapi Pak?"
"Saya mau mengantar istri Saya dulu."
Jelas Thubi dan langsung mematikan ponselnya.
Dita manyun menerima telepon dari atasannya.
Berkas yang ada di atas mejanya ia susun dan letakkan di ruangan Thubi.
Namun ia kali ini menatap foto yang ada di atas meja.Β Foto pernikahan Thubi dan istrinya.
Dita menatap sepintas dan tak lama menutup foto tersebut.
Dita menutup kembali ruangan Thubi. Dengan segala perasaan yang berkecamuk dibatinnya.
...
"Mau membuang kepenatan?" ajak Thubi mendahului langkah Lubi.
Lubi menoleh sesaat.
"Nanti mengecewakan."
"Kali ini nggak, Aku kan lagi ulang tahun. Mana kadonya?" tagih Thubi.
"Itu udah Kamu pakai? kiraian di lupakan, sibuk lembur tiap malam."
"Anggap aja hari ini ganti rugi malam kemarin."
"Nggak seru lagi." sela Lubi manyun menghidupkan televisi di ruang tengah.
"Dari pada nggak sama sekali, mending ke tempat sesuatu. Aku yang teraktir, jarang-jarang yang ulang tahun ngasih kejutan."
__ADS_1
"Yang ulang tahun kadang bikin kesel." balas Lubi.
"Kan baru lewat beberapa hari, belum habis garansinya." bela Thubi memandang untuk mengajak agar permohonannya di kabulkan.
"Percayakan masalah transfer itu, Aku gak macem-macem. Itu untuk kado Kamu. Malah di curigain."
"Iya kemarin itu salah paham aja, kebanyakan mikir di kantor jadi bawaannya analisa terlalu over gitu. Maafkan ya kesalah pahaman itu. Udah selesai dong. Lanjut untuk hari ini. Jangan ada kesel-keselan lagi ya. Capek berantem terus. Mending kita keluar membuang kepenatan ya."
Thubi memohon kali ini ingin memperbaiki suasana.
Lubi masih diam berpikir sejenak.
"Memang mau kemana?"
"Rahasia dong."
"Gak yang aneh-anehkan?"
"Curiga terus bawaannya." Thubi menarik tangan Lubi menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana?"
"Ikutin aja, nanti juga tahu."
"Kamu gak ngajak ke tempat angkerkan?"
"Ya ampun, mana mungkin setega itu."
Thubi mempercepat laju mobilnya. Dengan mendahului beberapa mobil.
"Jangan ngebut-ngebut." bisik Lubi memejamkan matanya. Mobil tiba-tiba berhenti.
"Masih inget tempat ini?"
Lubi membuka matanya, ia sangat terkejut. Kenapa bisa Thubi mengajaknya ke tempat
γ
πΌπ»βπ·πΊππ
Untuk pembaca setia follow ig: zuzanaoktober , untuk bisa tau jadwal up dan lain-lain.
Mohon dukungan vote poin/koin, like sebanyak-banyaknya utk boster author nulis kelanjutan episodenya. Salam MCP. ππππ
__ADS_1
γ
γ