
"Sayang kamu kenapa?"
Thubi keluar masih memakai handuk dari kamar mandi.
Thubi memegang kening istrinya.
"Kamu sakit?"
Lubi menggeleng pelan.
"Windi drop lagi masuk rumah sakit."
jelas Lubi menyerahkan ponsel ke tangan Thubi suaminya.
"Kita dinner keluar ya malam ini."
bisik Thubi seolah tak merespon ucapan istrinya barusan.
"Kamu gak ke rumah sakit?"
"Buat apa? kan udah ada ibunya, kamu jangan sok kuat dong sayang, aku tahu kamu akan bertambah sakit dan terluka kalau aku ke sana."
"Tapi..."
"Aku mau sama istriku... malam ini."
Thubi menggenggam tangan Lubi.
"Tapi kasian Windi..."
"Biar Windi juga belajar untuk membuka hati sama calon Ayahnya baru kelak."
"Kamu yakin gak akan kenapa-napa?"
Thubi memeluk istrinya kali ini.
"Aku gak mau mengecewakan istriku, saat ini kamu yang paling penting."
Bola mata Lubi kali ini mulai berkaca-kaca, sungguh ia begitu terharu mendengar ucapan suaminya kali ini.
"Makasih sayang..." bisik Lubi
Thubi mencium kening istrinya sekarang.
"Buruan ganti baju, kita dinner ya..."
bisik Thubi ke telinga Lubi.
Lubi mengangguk menurut, entah kenapa dadanya kini tak sesak lagi ataupun kacau. Semua berkat doanya sudah terkabul, semoga Allah selalu melindungi pernikahannya.
Ponsel suaminya kini berbunyi kembali, namun Thubi langsung menon-aktifkan ia tak ingin merusak suasana dinner bersama istrinya.
"Sayang kamu sudah siap?"
__ADS_1
"Bentar... bantuin ambilin jilbab aku..."
Tangan Lubi menggapai keluar kamar mandi.
Thubi menarik tangan Lubi keluar.
"Akukan udah jadi suami kamu."
Thubi merangkul pinggang Lubi.
Lubi terdiam.
"Iya juga sih, mungkin belum terbiasa. Masih belum terbiasa."
"Makanya di biasain..."
Tanpa sungkan kini jilbab itu terlepas ke lantai.
Suaminya kini mencium bibir mungil Lubi.
begitu lama adegan itu, menjalar kesebuah pelukan mesra dan Thubi menggendong Lubi ke ranjang.
"Bi, kamu kok wangi banget...sengaja ya..."
"Gimana dinnernya?"
Kiss, Thubi mencium bibir manis istrinya kesekian kali.
"Kamu belum pernah ciuman?"
Lubi mencubit lengan suaminya.
"Kenapa kamu malu-malu gitu? nutup mata?"
Lubi menggeleng.
"Serius kamu semenjak SMA gak pernah pacaran?"
"Mau pacaran sama siapa? gak boleh mamah..."
"Kalau gitu mau ucapin makasih dong sama mamah udah jagain istriku ini dari laki-laki lain selain suaminya."
Thubi mengelus kepala Lubi.
"Berarti first kiss sama suami dong"
Rona pipi Lubi makin memerah karna malu.
"Kamu? jangan bilang..."
"Hmmm udah...gak jadi deh..." goda Thubi
"Serius...kamu setelah SMA pacaran ya?"
__ADS_1
Lubi semakin dibuat penasaran.
"Menurut kamu?"
"Pasti udah banyak mantan kamu?"
"Gak percaya amat, kira-kira jujur atau..."
Lubi menutup bantal kewajah Thubi yang hampir mencium bibir istrinya lagi.
"Jawab aku dong, serius kamu pacaran berapakali sebelum nikah..."
wajah Lubi kali ini serius.
"Hmm...emang perlu ya di jawab?"
"Curang dong, kalo gak di jawab..."
Thubi menunduk perlahan.
"Maaf ya Bi, aku khilaf..."
Rona wajah Lubi kini langsung berubah padam.
"Sebenarnya ada cewek sebelum kamu?"
Deg, pernyataan kejujuran apa lagi ini. Lubi membatin
terdiam.
begitu banyak rahasia suaminya yang tak diketahuinya.
Tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar.
Thubi langsung beranjak bangun.
"Thubi ada tamu dibawah...mau ketemu."
Thubi langsung cepat-cepat turun meninggalkan Lubi yang masih terdiam diranjang setelah pengakuan Suaminya barusan. membuat hatinya tak tenang.
Dengan sekuat tenaga Lubi menenangkan perasaannya. Dia memakai jilbab, ingin tahu siapa tamu dari suaminya kini.
Lubi mengikuti langkah Thubi dari belakang.
Tak lama nampak wanita menunggu diruang tamu.
Ya Tari, tepatnya tamu tak di undang itu sekretaris yang mengacaukan dinnernya malam ini.
"Maaf Pak, terpaksa saya kemari... Windi ingin bertemu Bapak, kondisinya sudah tak sadar diri." Jelas Tari.
Thubi menatap Lubi yang terdiam menatap mereka.
Bersambung...
__ADS_1