
Thubi menyewa motor untuk memboceng Lubi berkeliling ke pantai, memang sengaja sore hari biar dapat menyaksikan matahari tenggelam, sambil nikmati kelapa muda di tepi pantai. Mereka duduk beralas pasir putih.
Hanya ada beberapa pasangan muda-mudi ke tempat itu.
Kilauan senja memantul di hadapan mereka.
Lubi merangkul pergelangan suaminya.
"Apa keinginanmu yang belum tercapai?"
Thubi melontarkan pertanyaan itu pada istrinya.
"Gak ada, pelan-pelan doaku terjawab. Suami keras kepala yang selalu memperlakukan aku lembut ini bukti nyata kenginanku yang telah terkabul."
"Pertanyaanku belum di jawab? pernah pacaran selepas SMA?"
Lubi menggeleng.
"Gak berani buka hati, tapi di jodohin banyak."
"Trus..."
"Ya...gak ada yang diseriusin, cukup kenal dan selesai."
"Kenapa?"
"Mantra doamu kali udah ngunci hatiku..."
canda Lubi.
"Sekuat itu...ya mantra ku, hehe..."
Thubi mengelus kepala Lubi.
"Dokter kemarin...?"
"Itu sepupu Shiren..."
"Kalian pacaran?"
__ADS_1
"Gak pacaran..."
"Tapi sering jalan?"
"Gak pernah, baru kemaren itu dia mau nganter pulang...pas aja sayang tiba-tiba ngelamar ketemu dia juga."
"Yang paling aku takutin kamu menolak aku untuk menjadi suamimu, jujur aku sama sekali gak tahu kalau mamah menjodohkan aku itu sama kamu? yang lebih gak percaya lagi...Mba Tira ngomong kalau cewek yang dijodohin ke aku itu sama wajahnya waktu kita pertama kali ketemu, setelah belasan tahun gak pernah ketemu, padahal dua tahun ini kita satu kota kan?"
"Aku yakin itu semua skenario Tuhan, takdir yang menuntun kita buat ketemu walaupun ngeselin juga ketemu sama kamu, sok cuek, gak peduli main tolak juga..."
Ketus Lubi kesel kalau inget kejadian itu.
"Tapi kamu maukan di ajak nikah..." Thubi kali ini menoleh ke arah Lubi yang langsung wajahnya memerah.
"Sejujurnya, aku kangen banget sama kamu, sempet aku cari via sosial media, nulis nama kamu tapi gak ketemu, nanya-nanya ke temen kita dulu kalau ada yang nyimpen email, telpon atau alamat kamu, tapi tetep aja gak ada yang tahu."
"Kamu sih, main pergi aja..."
"Ya namanya orang tua pindah tugas..."
"Tapi sekarangkan gak ada alasan lagi, udah nikah."
"Ya ada lah..."
"Kalau aku nikah sama cewek lain."
"Ya gak bolehlah, awas kamu itu punya aku seorang."
Lubi memeluk Thubi erat.
"Jadi gak boleh berbagi..."
"Kamu gak ada kepikiran buat nikah lagi?"
ucapan Lubi kali ini pelan.
Thubi wajahnya serius menatap Lubi.
"Kalau kamu nikah lagi, lebih baik aku yang mundur. Pisah itu lebih baik. Alasan apapun itu tak dapat ditolerir."
__ADS_1
Lubi melepaskan pelukan suaminya. Wajahnya kali ini menunduk.
"Akukan cuma nanya sayang, kok serius gitu...jawabnya."
"Ya itulah jawaban aku, gak akan berubah."
"Ya udah, jangan bahas itu lagi ya, aku juga gak mau pisah dari kamu sayang." Thubi memeluk Istrinya yang menjauh.
"Kamu gak ngomongin Tari kan?"
"Gak ada kepikiran ke situ kok, yang pastinya ngapain aku susah-susah ngelamar kamu?"
"Ya bisa aja, cowokkan gitu, giliran udah dapet mulai ngelirik yang baru."
"Gak semua cowok lho, aku tu susah lho dapetin kamu, masak aku sia-siakan begitu aja. Yang ada aku merasa bersalah kalau kamu cuekin aku trus."
"Kamu sama Tari pernah pacaran?"
"Ya gak pernah, aku kasian sama Windi aja gak lebih."
"Kasian bisa jadi berubah rasa suka lho."
pancing Lubi.
"Sekarang aku nikah sama kamu, jadi ngapain punya rasa sama orang lain, aku tu sukanya dari dulu tetap sama kamu istriku sayang. Mau bukti apa lagi?"
"Omongan kan bisa berubah suatu saat."
Timpal Lubi masih memendam cemburu dengan Tari.
"Jadi sekarang biar kamu gak cemburu lagi sama Tari?"
Lubi terdiam mendengar suaminya bertanya.
Tak lama muncul buket bunga mawar putih dari belakang badan Thubi.
"Selamanya kamu gak akan terganti..."
Bersambung...
__ADS_1