Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 35


__ADS_3

Kali ini Adrian memandang dari dekat wajah anaknya.


Semua terasa kaku. Dan dingin.


Windi hanya menatap wajah laki-laki yang duduk dihadapannya kali ini. Dan menanyakan pada neneknya untuk apa mereka datang kemari


"Siapa laki-laki ini, Nek?"


tanya Windi menarik baju neneknya kali ini.


Adrian terdiam dan tangannya terasa kaku untuk memegang tangan anak perempuan tersebut.


Neneknya akhirnya meninggalkan Windi dan Adrian, memberikan kesempatan Adrian untuk lebih dekat dengan anaknya.


"Apa Windi senang jika bertemu dengan Ayahmu?"


"Ayah sudah meninggal, pergi meninggalkan kami, kata mama.Bagaimana mungkin Ayah menemuiku kembali?"


"Windi belum pernah melihat wajah ayah?"


Windi menggeleng pelan.


"Kata Mamah, Ayah sudah tenang. Jadi tidak perlu di ungkit kembali. Om ini siapa?"


Adrian terdiam mendengar penjelasan dari mulut Windi langsung. Serapat itukah Tari menyembunyikan tentang dirinya agar tidak di ketahui keberadaannya terhadap anaknya sendiri.


"Kangen sama Ayah?"


tanya Adrian tenang.


Windi mengangguk.


Adrian memeluk Windi.


"Windi cemburu dan iri jika disekolah teman-teman menceritakan tentang Ayah mereka."


"Om bisa jadi Ayah Windi, apa mau Windi memanggil Om dengan sebutan Ayah mulai sekarang?"


Windi kali ini melepaskan pelukan Adrian.

__ADS_1


"Nanti tanya dulu sama Mamah, nanti Mamah sedih."


Sepatuh itukah jawaban anak kecil yang berdiri dihadapan Adrian. Begitu menurut dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mentari memang sudah menunjukkan jika ia sudah bisa menjadi Ibu yang baik untuk anaknya.


"Apa Windi mau boneka?"


Windi menggeleng.


"Om siapa? belum menjawab pertanyaanku?"


"Teman Mamah Windi."


"Tapi Om tidak meninggalkan Mamah lagi kan, atau menikah dengan wanita lain."


Deg, Adrian terdiam mendengar celotehan Windi.


"Kenapa berbicara seperti itu?"


"Windi gak mau dekat sama Om jika akhirnya akan pergi meninggalkan Mamah juga. Kasian Mamah ditinggal menikah dengan temannya dulu sama seperti Om juga."


Adrian terdiam.


"Windi kenal dengan teman Mamah itu?"


Windi mengangguk.


"Siapa namanya?"


"Om Thubi..."


Adrian terdiam lagi.


Ia tahu betul kisah Lubi dan Thubi. Adrian tidak ingin berlarut-larut memikirkan hal tersebut.


"Kita main ke taman ajak Nenek juga."


"Boleh..."


Windi mengangguk dan tak lama memanggil Neneknya yang duduk tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Bertiga mereka masuk kedalam mobil.


Dari jauh Lubi menatap mereka.


"Seharusnya dari dulu mereka harus bertemu."


Bisik Lubi masuk ke mobil dan menyalakan untuk melaju meninggalkan tempat tersebut.


.....


"Beraninya mengajak anakku tanpa sepengetahuanku."


Amarah Tari kali ini memuncak saat tiba dirumah. Ia mendapati rumah yang kosong.


Sengaja ia bediri di depan teras rumah. Menunggu kepulangan mereka.


Setelah Ibu Windi mengajak cucunya masuk ke dalam.


Tari menahan Adrian untuk masuk.


"Ini terakhir kalinya kamu datang kesini."


"Berhentilah besikap keras kepala. Bagaimanapun juga Windi akan tahu juga siapa Ayahnya."


"Aku tak akan pernah mengizinkan itu terjadi."


"Aku sudah memberitahunya."


Tari terdiam sesaat sebisa mungkin ia menekan amarahnya kali ini.


"Jangan usik kehidupan kami lagi."


Tari menutup pintu pagar.


"Aku masih tetap ayahnya dan selamanya sampai kapanpun..."


Tari mengunci pintu dari dalam. Tak ingin membuat keributan lagi.


Adrian membanting pintu mobilnya namun ia harus bersabar menghadapi sikap Tari yang tetap tak ingin memberikan kelonggaran Adrian untuk mendekati anaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2