
“Saat kau menyukai seorang yang hanya bisa ditahan dalam hati namun tak bisa
diungkapkan terkadang rasa sesak didada tak tahu perasaan yang tertahan oleh
keadaan apakah nyata yang dirasa atau tidak, namun itulah rasa yang diciptakan
secara alami tanpa ada yang memaksa. Kau akan terus menyukai perasaan itu meski
diacuhkan dan akan terus di jaga selama kau masih ingin bersamanya”
Lubi pada akhirnya tak akan pernah sanggup
dengan semua ini, ia juga tak ingin terlalu memaksa Adrian, karna kondisinya
berbeda. Ia pun belum sepenuhnya menerima kondisinya yang sudah menikah dengan
Thubi suaminya, meskipun ia sekarang sudah pulang dan mencoba mengingat membuka
video dan foto-foto pernikahan mereka, semua hambar dan asing.
Tak ada satupun ingatannya yang membekas tentang
suaminya.
Lubi kali ini menatap cincin pernikahannya
yang ia lepaskan. Ia butuh waktu sendiri dan tak bisa di porsir ingatannya agar
tidak terlalu stres karna kondisinya ia sudah mengandung anak pernikahan
mereka.
Sebisa mungkin Mamahnya terus mendampingi
Lubi agar tidak melamun atau apapun, terpaksa ia cuti bekerja karna konisi
fisik dan mentalnya masih lemah. Hanya berdiam di rumah berkeliling mencari
kesibukan dan selebihnya mengurung diri di kamar.
Thubi mengetuk pintu kamar Lubi, semenjak kepulangannya
dari rumah sakit Lubi meminta untuk berpisah kamar untuk sementara waktu, Lubi
butuh ketenangan untuk sedikit-demi sedikit mengumpulkan ingatannya yang tak
ingin di paksa.
“Sudah makan?”
Lubi menoleh dengan kedatangan Thubi
membawakan sesuatu.
Thubi duduk di depan Lubi yang dari tadi
melamun di depan jendela.
“ Jika tidak keberatan aku ingin mengajakmu
ke luar mengunjungi suatu tempat.”
Lubi masih diam. Menatap Thubi dengan
sesaat. Sebenarnya Lubi merasa kasihan terhadap suaminya yang sebisa mungkin
dengan usaha mendekatkan diri untuk memancing ingatannya kembali. Mungkin tidak
ada salahnya Lubi memberikan kesempatan Thubi.
Lubi mengangguk kali ini menyetujuinya.
“Kapan?”
Betapa senangnya Thubi mendengar respon
Lubi.
“Kapan dirimu punya waktu keluar?”
“Sore ini?”
Thubi mengangguk menyetujui.
..........
Rumah biru dan bernuansa putih itu masih
sama saja, namun kini sudah di isi propertinya oleh Thubi. Rumah yang akan
mereka tempati sebelum kecelakaan tersebut.
Lubi turun dari mobil pandangannya
menelusuri tiap jengkal rumah tersebut. Thubi memberikan kebebasan membiarkan
Lubi meresapi tiap sudut rumah tersebut.
“Mau masuk ke dalam?” Thubi menawarkan.
“Rumah siapa ini?
“Rumah yang akan kita huni, sebelum kamu
mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga.”
Jelas Thubi membukakan pintu depan rumah
tersebut.
Lubi hanya diam tak menjawab. Dia berjalan
masuk menatap ruangan tersebut yang sudah di isi sofa, lemari, lampu gantung
dan ornamen-ornamen.
“Siapa yang mendekorasi ruangan ini?”
“Sebenarnya kamu, namun baru setengah yang
selesai. Saya mencoba melanjutkan setelah kamu tak sadarkan diri dalam masa
__ADS_1
pemulihan di rumah sakit.”
Lubi masuk ke dalam terus menatap setiap
sudut ruangan. Tepat tangga naik menuju lantai atas, pandangan Lubi terpana
dengan sederet foto-foto yang terpajang.
“Apakah itu foto-foto kisah dulu?”
“Ya dari masa kita sekolah dulu, hingga
menikah. Sengaja aku masih menyimpannya dan ku pajang di sana semua, untuk
membantu juga ingatanmu.”
Lubi tiap sudut foto ia tatapi dengan
saksama dan pelan-pelan ia memaksa ingatannya. Namun kepalanya bertambah sakit
nyeri dan sudahlah malah rasa sakit ngilu yang ia dapatkan.
Lubi memilih terduduk di anak tangga.
“Maafkan aku, tak ada yang dapat ku
ingat...”
“Jangan di paksakan...aku tak memaksamu untuk
mengingat sekarang juga, paling tidak apa yang ku ucapkan itu memang benar
adanya.”
Thubi kali ini duduk di hadapan Lubi yang
terduduk lesu.
“Minumlah air, kau jangan kelelahan.”
Thubi memberikan sebotol air mineral.
“Jadi aku tak pernah menyukai Adrian?”
Lubi bertanya pada Thubi.
Thubi menggeleng.
“Sebelum kita bertemu, Adrian sempat
mendekatimu...karna di kenalkan oleh Shiren sahabatmu.”
“Shiren...?”
“Temuilah sahabatmu Shiren, mungkin dari
sana pelan-pelan kau akan ingat semuanya dengan perlahan. Dari pada mengurung
diri di kamar tak akan menyelesaikan masalah.”
Bersambung...
diungkapkan terkadang rasa sesak didada tak tahu perasaan yang tertahan oleh
keadaan apakah nyata yang dirasa atau tidak, namun itulah rasa yang diciptakan
secara alami tanpa ada yang memaksa. Kau akan terus menyukai perasaan itu meski
diacuhkan dan akan terus di jaga selama kau masih ingin bersamanya”
Lubi pada akhirnya tak akan pernah sanggup
dengan semua ini, ia juga tak ingin terlalu memaksa Adrian, karna kondisinya
berbeda. Ia pun belum sepenuhnya menerima kondisinya yang sudah menikah dengan
Thubi suaminya, meskipun ia sekarang sudah pulang dan mencoba mengingat membuka
video dan foto-foto pernikahan mereka, semua hambar dan asing.
Tak ada satupun ingatannya yang membekas tentang
suaminya.
Lubi kali ini menatap cincin pernikahannya
yang ia lepaskan. Ia butuh waktu sendiri dan tak bisa di porsir ingatannya agar
tidak terlalu stres karna kondisinya ia sudah mengandung anak pernikahan
mereka.
Sebisa mungkin Mamahnya terus mendampingi
Lubi agar tidak melamun atau apapun, terpaksa ia cuti bekerja karna konisi
fisik dan mentalnya masih lemah. Hanya berdiam di rumah berkeliling mencari
kesibukan dan selebihnya mengurung diri di kamar.
Thubi mengetuk pintu kamar Lubi, semenjak kepulangannya
dari rumah sakit Lubi meminta untuk berpisah kamar untuk sementara waktu, Lubi
butuh ketenangan untuk sedikit-demi sedikit mengumpulkan ingatannya yang tak
ingin di paksa.
“Sudah makan?”
Lubi menoleh dengan kedatangan Thubi
membawakan sesuatu.
Thubi duduk di depan Lubi yang dari tadi
melamun di depan jendela.
“ Jika tidak keberatan aku ingin mengajakmu
ke luar mengunjungi suatu tempat.”
__ADS_1
Lubi masih diam. Menatap Thubi dengan
sesaat. Sebenarnya Lubi merasa kasihan terhadap suaminya yang sebisa mungkin
dengan usaha mendekatkan diri untuk memancing ingatannya kembali. Mungkin tidak
ada salahnya Lubi memberikan kesempatan Thubi.
Lubi mengangguk kali ini menyetujuinya.
“Kapan?”
Betapa senangnya Thubi mendengar respon
Lubi.
“Kapan dirimu punya waktu keluar?”
“Sore ini?”
Thubi mengangguk menyetujui.
..........
Rumah biru dan bernuansa putih itu masih
sama saja, namun kini sudah di isi propertinya oleh Thubi. Rumah yang akan
mereka tempati sebelum kecelakaan tersebut.
Lubi turun dari mobil pandangannya
menelusuri tiap jengkal rumah tersebut. Thubi memberikan kebebasan membiarkan
Lubi meresapi tiap sudut rumah tersebut.
“Mau masuk ke dalam?” Thubi menawarkan.
“Rumah siapa ini?
“Rumah yang akan kita huni, sebelum kamu
mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga.”
Jelas Thubi membukakan pintu depan rumah
tersebut.
Lubi hanya diam tak menjawab. Dia berjalan
masuk menatap ruangan tersebut yang sudah di isi sofa, lemari, lampu gantung
dan ornamen-ornamen.
“Siapa yang mendekorasi ruangan ini?”
“Sebenarnya kamu, namun baru setengah yang
selesai. Saya mencoba melanjutkan setelah kamu tak sadarkan diri dalam masa
pemulihan di rumah sakit.”
Lubi masuk ke dalam terus menatap setiap
sudut ruangan. Tepat tangga naik menuju lantai atas, pandangan Lubi terpana
dengan sederet foto-foto yang terpajang.
“Apakah itu foto-foto kisah dulu?”
“Ya dari masa kita sekolah dulu, hingga
menikah. Sengaja aku masih menyimpannya dan ku pajang di sana semua, untuk
membantu juga ingatanmu.”
Lubi tiap sudut foto ia tatapi dengan
saksama dan pelan-pelan ia memaksa ingatannya. Namun kepalanya bertambah sakit
nyeri dan sudahlah malah rasa sakit ngilu yang ia dapatkan.
Lubi memilih terduduk di anak tangga.
“Maafkan aku, tak ada yang dapat ku
ingat...”
“Jangan di paksakan...aku tak memaksamu untuk
mengingat sekarang juga, paling tidak apa yang ku ucapkan itu memang benar
adanya.”
Thubi kali ini duduk di hadapan Lubi yang
terduduk lesu.
“Minumlah air, kau jangan kelelahan.”
Thubi memberikan sebotol air mineral.
“Jadi aku tak pernah menyukai Adrian?”
Lubi bertanya pada Thubi.
Thubi menggeleng.
“Sebelum kita bertemu, Adrian sempat
mendekatimu...karna di kenalkan oleh Shiren sahabatmu.”
“Shiren...?”
“Temuilah sahabatmu Shiren, mungkin dari
sana pelan-pelan kau akan ingat semuanya dengan perlahan. Dari pada mengurung
diri di kamar tak akan menyelesaikan masalah.”
Bersambung...
__ADS_1