Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 41


__ADS_3

 “Saat kau menyukai seorang yang hanya bisa ditahan dalam hati namun tak bisa


diungkapkan terkadang rasa sesak didada tak tahu perasaan yang tertahan oleh


keadaan apakah nyata yang dirasa atau tidak, namun itulah rasa yang diciptakan


secara alami tanpa ada yang memaksa. Kau akan terus menyukai perasaan itu meski


diacuhkan dan akan terus di jaga selama kau masih ingin bersamanya”


Lubi pada akhirnya tak akan pernah sanggup


dengan semua ini, ia juga tak ingin terlalu memaksa Adrian, karna kondisinya


berbeda. Ia pun belum sepenuhnya menerima kondisinya yang sudah menikah dengan


Thubi suaminya, meskipun ia sekarang sudah pulang dan mencoba mengingat membuka


video dan foto-foto pernikahan mereka, semua hambar dan asing.


Tak ada satupun ingatannya yang membekas tentang


suaminya.


Lubi kali ini menatap cincin pernikahannya


yang ia lepaskan. Ia butuh waktu sendiri dan tak bisa di porsir ingatannya agar


tidak terlalu stres karna kondisinya ia sudah mengandung anak pernikahan


mereka.


Sebisa mungkin Mamahnya terus mendampingi


Lubi agar tidak melamun atau apapun, terpaksa ia cuti bekerja karna konisi


fisik dan mentalnya masih lemah. Hanya berdiam di rumah berkeliling mencari


kesibukan dan selebihnya mengurung diri di kamar.


Thubi mengetuk pintu kamar Lubi, semenjak kepulangannya


dari rumah sakit Lubi meminta untuk berpisah kamar untuk sementara waktu, Lubi


butuh ketenangan untuk sedikit-demi sedikit mengumpulkan ingatannya yang tak


ingin di paksa.


“Sudah makan?”


Lubi menoleh dengan kedatangan Thubi


membawakan sesuatu.


Thubi duduk di depan Lubi yang dari tadi


melamun di depan jendela.


“ Jika tidak keberatan aku ingin mengajakmu


ke luar mengunjungi suatu tempat.”


Lubi masih diam. Menatap Thubi dengan


sesaat. Sebenarnya Lubi merasa kasihan terhadap suaminya yang sebisa mungkin


dengan usaha mendekatkan diri untuk memancing ingatannya kembali. Mungkin tidak


ada salahnya Lubi memberikan kesempatan Thubi.


Lubi mengangguk kali ini menyetujuinya.


“Kapan?”


Betapa senangnya Thubi mendengar respon


Lubi.


“Kapan dirimu punya waktu keluar?”


“Sore ini?”


Thubi mengangguk menyetujui.


..........


Rumah biru dan bernuansa putih itu masih


sama saja, namun kini sudah di isi propertinya oleh Thubi. Rumah yang akan


mereka tempati sebelum kecelakaan tersebut.


Lubi turun dari mobil pandangannya


menelusuri tiap jengkal rumah tersebut. Thubi memberikan kebebasan membiarkan


Lubi meresapi tiap sudut rumah tersebut.


“Mau masuk ke dalam?” Thubi menawarkan.


“Rumah siapa ini?


“Rumah yang akan kita huni, sebelum kamu


mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga.”


Jelas Thubi membukakan pintu depan rumah


tersebut.


Lubi hanya diam tak menjawab. Dia berjalan


masuk menatap ruangan tersebut yang sudah di isi sofa, lemari, lampu gantung


dan ornamen-ornamen.


“Siapa yang mendekorasi ruangan ini?”


“Sebenarnya kamu, namun baru setengah yang


selesai. Saya mencoba melanjutkan setelah kamu tak sadarkan diri dalam masa

__ADS_1


pemulihan di rumah sakit.”


Lubi masuk ke dalam terus menatap setiap


sudut ruangan. Tepat tangga naik menuju lantai atas, pandangan Lubi terpana


dengan sederet foto-foto yang terpajang.


“Apakah itu foto-foto kisah dulu?”


“Ya dari masa kita sekolah dulu, hingga


menikah. Sengaja aku masih menyimpannya dan ku pajang di sana semua, untuk


membantu juga ingatanmu.”


Lubi tiap sudut foto ia tatapi dengan


saksama dan pelan-pelan ia memaksa ingatannya. Namun kepalanya bertambah sakit


nyeri dan sudahlah malah rasa sakit ngilu yang ia dapatkan.


Lubi memilih terduduk di anak tangga.


“Maafkan aku, tak ada yang dapat ku


ingat...”


“Jangan di paksakan...aku tak memaksamu untuk


mengingat sekarang juga, paling tidak apa yang ku ucapkan itu memang benar


adanya.”


Thubi kali ini duduk di hadapan Lubi yang


terduduk lesu.


“Minumlah air, kau jangan kelelahan.”


Thubi memberikan sebotol air mineral.


“Jadi aku tak pernah menyukai Adrian?”


Lubi bertanya pada Thubi.


Thubi menggeleng.


“Sebelum kita bertemu, Adrian sempat


mendekatimu...karna di kenalkan oleh Shiren sahabatmu.”


“Shiren...?”


“Temuilah sahabatmu Shiren, mungkin dari


sana pelan-pelan kau akan ingat semuanya dengan perlahan. Dari pada mengurung


diri di kamar tak akan menyelesaikan masalah.”


Bersambung...


diungkapkan terkadang rasa sesak didada tak tahu perasaan yang tertahan oleh


keadaan apakah nyata yang dirasa atau tidak, namun itulah rasa yang diciptakan


secara alami tanpa ada yang memaksa. Kau akan terus menyukai perasaan itu meski


diacuhkan dan akan terus di jaga selama kau masih ingin bersamanya”


Lubi pada akhirnya tak akan pernah sanggup


dengan semua ini, ia juga tak ingin terlalu memaksa Adrian, karna kondisinya


berbeda. Ia pun belum sepenuhnya menerima kondisinya yang sudah menikah dengan


Thubi suaminya, meskipun ia sekarang sudah pulang dan mencoba mengingat membuka


video dan foto-foto pernikahan mereka, semua hambar dan asing.


Tak ada satupun ingatannya yang membekas tentang


suaminya.


Lubi kali ini menatap cincin pernikahannya


yang ia lepaskan. Ia butuh waktu sendiri dan tak bisa di porsir ingatannya agar


tidak terlalu stres karna kondisinya ia sudah mengandung anak pernikahan


mereka.


Sebisa mungkin Mamahnya terus mendampingi


Lubi agar tidak melamun atau apapun, terpaksa ia cuti bekerja karna konisi


fisik dan mentalnya masih lemah. Hanya berdiam di rumah berkeliling mencari


kesibukan dan selebihnya mengurung diri di kamar.


Thubi mengetuk pintu kamar Lubi, semenjak kepulangannya


dari rumah sakit Lubi meminta untuk berpisah kamar untuk sementara waktu, Lubi


butuh ketenangan untuk sedikit-demi sedikit mengumpulkan ingatannya yang tak


ingin di paksa.


“Sudah makan?”


Lubi menoleh dengan kedatangan Thubi


membawakan sesuatu.


Thubi duduk di depan Lubi yang dari tadi


melamun di depan jendela.


“ Jika tidak keberatan aku ingin mengajakmu


ke luar mengunjungi suatu tempat.”

__ADS_1


Lubi masih diam. Menatap Thubi dengan


sesaat. Sebenarnya Lubi merasa kasihan terhadap suaminya yang sebisa mungkin


dengan usaha mendekatkan diri untuk memancing ingatannya kembali. Mungkin tidak


ada salahnya Lubi memberikan kesempatan Thubi.


Lubi mengangguk kali ini menyetujuinya.


“Kapan?”


Betapa senangnya Thubi mendengar respon


Lubi.


“Kapan dirimu punya waktu keluar?”


“Sore ini?”


Thubi mengangguk menyetujui.


..........


Rumah biru dan bernuansa putih itu masih


sama saja, namun kini sudah di isi propertinya oleh Thubi. Rumah yang akan


mereka tempati sebelum kecelakaan tersebut.


Lubi turun dari mobil pandangannya


menelusuri tiap jengkal rumah tersebut. Thubi memberikan kebebasan membiarkan


Lubi meresapi tiap sudut rumah tersebut.


“Mau masuk ke dalam?” Thubi menawarkan.


“Rumah siapa ini?


“Rumah yang akan kita huni, sebelum kamu


mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga.”


Jelas Thubi membukakan pintu depan rumah


tersebut.


Lubi hanya diam tak menjawab. Dia berjalan


masuk menatap ruangan tersebut yang sudah di isi sofa, lemari, lampu gantung


dan ornamen-ornamen.


“Siapa yang mendekorasi ruangan ini?”


“Sebenarnya kamu, namun baru setengah yang


selesai. Saya mencoba melanjutkan setelah kamu tak sadarkan diri dalam masa


pemulihan di rumah sakit.”


Lubi masuk ke dalam terus menatap setiap


sudut ruangan. Tepat tangga naik menuju lantai atas, pandangan Lubi terpana


dengan sederet foto-foto yang terpajang.


“Apakah itu foto-foto kisah dulu?”


“Ya dari masa kita sekolah dulu, hingga


menikah. Sengaja aku masih menyimpannya dan ku pajang di sana semua, untuk


membantu juga ingatanmu.”


Lubi tiap sudut foto ia tatapi dengan


saksama dan pelan-pelan ia memaksa ingatannya. Namun kepalanya bertambah sakit


nyeri dan sudahlah malah rasa sakit ngilu yang ia dapatkan.


Lubi memilih terduduk di anak tangga.


“Maafkan aku, tak ada yang dapat ku


ingat...”


“Jangan di paksakan...aku tak memaksamu untuk


mengingat sekarang juga, paling tidak apa yang ku ucapkan itu memang benar


adanya.”


Thubi kali ini duduk di hadapan Lubi yang


terduduk lesu.


“Minumlah air, kau jangan kelelahan.”


Thubi memberikan sebotol air mineral.


“Jadi aku tak pernah menyukai Adrian?”


Lubi bertanya pada Thubi.


Thubi menggeleng.


“Sebelum kita bertemu, Adrian sempat


mendekatimu...karna di kenalkan oleh Shiren sahabatmu.”


“Shiren...?”


“Temuilah sahabatmu Shiren, mungkin dari


sana pelan-pelan kau akan ingat semuanya dengan perlahan. Dari pada mengurung


diri di kamar tak akan menyelesaikan masalah.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2