
Saat keberanian yang mulai di uji, demi sebuah pengakuan dari seorang anak untuk di sebut ayah.
Adrian berdiam diri di dalam mobil, kata apa yang ingin dia sampaikan untuk menyapa pertama pada seorang anak perempuan tersebut.
Diam memikirkan banyak hal dan reaksinya kelak seperti apa, sungguh rasa bersalahnya lebih besar dari apapun di dunia ini sekali lagi Adrian mengurungkan diri, saat ini ia butuh waktu untuk keberanian itu.
Nisa menelponnya untuk memastikan, kehadiran Adrian sore ini. Menunggu waktu yang tepat untuk bersikap jujur pada Nisa. Jika tidak Adrian akan menjadi bertambah berdosa menumpuk pengakuan lagi dosa lamanya.
....
"Kenapa harus bicara keluar?"
Nisa merapikan jilbabnya yang tertiup angin.
"Apakah serahasia ini?" goda Nisa dengan sifat khasnya ia tahu kali ini Adrian membawanya ke sebuah tempat.
"Bukalah dokumen itu." perintah Adrian menatap raut rona wajah Nisa langsung berubah.
"Apa ini?"
"Sebuah pengakuan dosa, yang ku tutupi selama ini."
jelas Adrian.
Nisa terdiam sesaat.
"Pengakuan dosa?"
"Bacalah dan keputusannya terserah padamu."
"Lalu?"
"Bacalah dulu."
Perlahan Nisa membaca dokumen itu perlahan. Meski kadang ingin ia bertanya. Namun Adrian belum mengizinkan untuk bertanya. Ia menyuruh Nisa untuk menyelesaikan bacaan tersebut.
__ADS_1
Nisa terdiam, sangat mengejutkan. Tak banyak ia berkomentar. Hanya satu pertanyaannya.
"Pilihlah masa lalumu? atau meneruskan pernikahan ini bersamaku?"
Tegas meski menyakitkan bagi Nisa.
Kini Adrian yang belum menemukan jawaban.
ia tak berani berpikir jika Nisa akan bertanya seperti itu, yang artinya Nisa menerima masa lalunya jika dilanjutkan.
"Apa kalian masih berhubungan?"
Nisa menutup dokumen tersebut.
Adrian menggeleng pelan.
"Baru dua hari ini kami bertemu secara intens."
"Lalu?"
"Dan selanjutnya apa yang ingin kau perbuat? memaksanya? atau?"
Adrian masih diam.
"Aku tak berani jika
akhirnya aku di tolak darah dagingku sendiri, karna selama ini aku membiarkan mereka begitu saja."
"Berpikirlah, sebelum terlambat mengambil keputusan."
Nisa pergi meninggalkan Adrian seorang diri di tempat itu.
Adrian tahu betapa terlukanya Nisa mengetahui tentang ini semua.
Nisa menangis sepanjang perjalanan pulang, ia tak ingin langsung pulang ke rumah. Tak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih. Nisa begitu kacau. Kejutan yang di berikan Adrian membuatnya kali ini
__ADS_1
berpikir beribu kali untuk meneruskan pernikahan ini, sebelum semuanya terlambat. Namun ia sudah terlanjur cinta?
Kini ia pasrah pada nasibnya yang tak tahu meski apa yang ia perbuat untuk menenangkan batinnya.
......
Thubi menatap surat itu di atas meja. Surat pengunduran diri milik Tari.
Berpikir sejenak, apakah Tari melakukannya tepaksa atau menghindarinya?
Thubi ingin menelpon Tari, namun ia tak ingin menelpon terlebih dahulu. Takut Tari akan salah menafsirkan itikad baiknya.
Kini Thubi lebih memilih menelpon Lubi istrinya.
ia sengaja mengunci ruangannya sesaat.
"Tari sudah mengundurkan diri." jelas Thubi di telpon.
Lubi terdiam, apakah ia merasa karna pengecualian kejadian kemarin.
"Apakah ia memberitahumu?"
"Tidak, alasannya kenapa ia berhenti?"
"Aku tidak tahu sama sekali, apa perlu aku menelpon ia duluan."
Thubi kali ini meminta persetujuan istrinya terlebih dahulu, karna ia tak ingin terjadi kesalah pahaman lagi.
Istrinya kali ini terdiam. Berpikir sejenak karna ia tak ingin terjalin hubungan lagi antara Tari dan suaminya kali ini.
"Sebaiknya aku saja menemui langsung ke rumahnya." jelas Lubi agak santai.
"Sebaiknya memang begitu, berbicara antar sesama wanita."
Bersambung...
__ADS_1