
"Apakah Aku pernah bermain-main dengan ucapanku?" Thubi menutup mata Lubi dengan
kedua telapak tangannya.
Apa yang di ucapkannya di acara pernikahannya Adrian benar-benar ia lakukan.
"Apa Kau menyukai tempat ini? Aku akan melakukan apa pun agar Kau bahagia." tanya Thubi membuka kedua telapak tangannya dari wajah istrinya.
Lubi terdiam gugup entah jantungnya berdegup kacau kali ini. Ingatan itu meski belum
muncul sepenuhnya namun perlahan-lahan Lubi memaksa untuk mengingatnya.
"Semoga kita dapat menikmati liburan kita selanjutnya. Perlahan saja." jelas Thubi
mengajak istrinya masuk.
"Dan keluarga kita double date holiday." pekik Windi dari belakang. Di
ikuti Tari dan Adrian.
"Tenang saja kita tak akan saling ganggu, kalau ada apa-apa cukup panggil dari sebelah.
Jangan sungkan."
Adrian membawa masuk Tari dan Windi ke penginapan sebelah.
"Tak perlu khawatirkan, kita memiliki privasi masing-masing." jelas Thubi pada
istrinya.
"Aku tidur sejenak untuk persiapan nanti malam."
Lubi langsung mendongak terkejut.
"Makan malam bersama mereka maksudnya? kenapa panik?" goda Thubi.
Lubi gugup sesaat ia mengembalikan ekspresi wajahnya kembali normal.
“Perlahan-lahan saja kita nikmati liburan kita. Kau mau kemana?” Jelas Thubi.
“Membereskan pakaian kita.” sambung Lubi menghindar menjauh untuk sesaat.
“Lucu sekali istriku, sepertinya dia kaku dengan liburan ini. Apa karna ia masih
__ADS_1
menganggapku pria asing di kehidupannya. Kenapa ingatannya belum juga kembali?”
Diruangan sebelah. Lubi duduk melamun.
“Kenapa Aku tak nyaman liburan dengan suamiku
sendiri? satu kamar, entah dari kecelakaan itu meski harus tidur satu ranjang
rasanya asing menatap dia tidur disampingku. Tapi Aku harus melawan perasaan
ini, tak ingin mengacaukan suasana hatinya di liburan yang telah ia jadwalkan.
Apalagi membuatnya kecewa.”
Lubi menatap cincin pernikahannya.
“Aku harus berusaha menerima suamiku, harus dipaksakan.” Batin Lubi kali ini menatap
suaminya yang telah tertidur di ranjang.
“Apa rencana dia untuk nanti malam? apa Aku pura-pura tidur saja duluan atau? Ah sudahlah,
kenapa Aku menjadi sepanik ini? Bukankah nanti malam makan bersama dengan
pengantin baru itu, sebaiknya di lama-lamakan saja mengobrol dengan Tari supaya
dari suamiku?”
Lubi kali ini mengoceh sendiri.
“Apa Kau tidak capek berdiri terus? cepatlah ke sini? Tidur di dekatku.”
Thubi menggeserkan bantal di samping tempat ia tidur.
“Masih ada pakaian lagi yang harus di bereskan.”
“Kenapa tidak nanti saja.”
“Nanti malam kan kita harus makan malam.”
“Terserah Kau saja.” Thubi langsung tidur kembali.
Lubi mengurut dada mencoba menenangkan dirinya.
Malamnya tiba, Lubi mengenakan gaun berwarna pastel. Rambutnya di ikat menggantung.
__ADS_1
“Kamu terlihat cantik malam ini.” Thubi memeluk istrinya dari belakang mencium wangi tubuh
dan rambut istrinya dengan wewangian bunga-bunga.
“Rasanya Aku tak ingin melepasmu. Ingin terus memelukmu.” bisik Thubi ke telinga istrinya.
“Sebaiknya kita langsung pergi, tidak enak membuat mereka menunggu terlalu lama.”
“Kau sendiri membuatku ingin berlama-lama denganmu.” Thubi mencium bibir istrinya tiba-tiba.
Lubi bengong terdiam.
“Apa Kau menginginkannya lagi?” goda suaminya manja.
Lubi langsung bersiap-siap mengambil tas tangan kulitnya di atas sofa.
Sepertinya suaminya kali ini telah pandai mencuri kesempatan, Lubi harus lebih bisa
membaca situasi itu untuk selanjutnya.
Mereka telah sampai di acara makan malam itu.
"Apa kau menyukainya?"
"Kupikir ini cukup lebih dari lumayan."
Lubi menelusuri jalan itu di terangi bola-bola lampu yang begitu cantik di tambah suara ombak-ombak kecil.
"Kau merencanakan ini semua?"
"Sesuai dengan janjiku. Sepertinya yang pernah Aku ucapkan. Sepertinya mereka akan terlambat datang. Lebih baik kita berpacaran saja dulu." Thubi menggenggam tangan istrinya
Lubi menatap suaminya kali ini perasaannya mulai perlahan nyaman meski kadang kaku harus memulai dari mana.
"Ada yang ingin Aku tanyakan padamu. Apa Kau gugup? Aku tahu Kau mulai belajar berada di posisi ini. Coba anggap saja dari awal kita mulai."
"Aku hanya mengatur perasaanku, mengolah suasana hati itu saja."
"Malam ini adalah malam pertama kita memulai, jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu kacau atau gugup. Oke. Santai saja semua akan mengalir seperti biasanya."
Lubi baru menyadari sikap sabar suaminya yang terus menuntunnya.
"Bantu Aku mencintaimu."
__ADS_1
Jangan lupa vote poin dan koin sebanyaknya, like dan komentar. Salam setia pembaca MCP