
"Terimalah lamaranku, biar Kau tak menangis lagi." bujuk Bima kali ini. Membawakan kembali koper Nisa ke dalam rumah.
"Kau mencoba membuatku senang sesaat mendengarkannya, jangan terlalu menghiburku. Hanya karna Aku akan pindah dari rumah ini, Kau seenaknya berkata seperti itu."
"Itu bukan penawaran? Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku barusan."
"Tak perlu mengorbankan kebahagiaanmu untuk membuatku senang sesaat. Jangan lagi mengasihani urusan perasaanku. Aku tak butuh belas kasihanmu." Mata Nisa kali ini mulai berkaca-kaca kembali.
"Kau harus patuh dengan ucapanku, sekali lagi berkata seperti itu, Aku bisa saja langsung menikahimu, Kau pikir Aku sedang bermain-main denganmu." Bima menarik tangan Nisa masuk ke dalam rumahnya.
Nisa ketakutan kali ini dengan sikap Bima, membatalkan untuk menentang tindakan Bima.
"Duduk!" perintah Bima.
"Kenapa Kau harus menyewa di tempat lain?"
"Aku hanya mendekati tempatku kuliah." jelas Nisa.
"Nenek tak mengizinkan, apalagi Aku? jangan mengajakku berdebat lagi."
"Jangan halangi Aku meninggalkan tempat ini dengan rasa bersalah."
"Apa Kau bilang?"
"Aku hanya ingin fokus pada masa depanku."
"Kau terlalu banyak berpikir, simpan kembali pakaianmu di lemari. Jika Kau berani menyewa tempat lain, Kau akan tahu sendiri akibatnya."
"Kenapa mencoba mengancamku? itu kehidupan pribadiku. Tak boleh mengaturnya secara berlebihan."
"Nenek telah menyerahkan tanggung jawabnya pada ku sekarng."
"Kau mencoba menyogok Nenek bukan?"
"Terserah apapun itu prasangkamu."
"Kau jangan mencoba jadi pahlawan perasaan."
"Aku tak peduli."
__ADS_1
Bima pergi meninggalkan Nisa yang duduk seorang diri.
....
"Apakah telah Kau pikirkan baik-baik tawaranku tadi pagi?"
Bima duduk di samping Nisa membawakan cemilan.
"Setelah Aku pikirkan, Aku menerima tawaranmu."
"Kenapa tidak bilang dari tadi, Kau hanya mempersulit keadaanmu sendiri."
"Jika hanya ingin berdebat lagi sebaiknya menjauhlah dariku."
"Aku ingin mendekatimu."
"Bersikaplah dewasa."
"Umurku sudah mencapai hal itu, apa perlu ku perlihatkan KTP."
"Kau tak perlu memperjelaskan hal itu."
"Kau serius?"
"Memangnya Aku pernah bermain-main dengan ucapanku barusan?"
"Aku takut jika mengalami hal yang sama terulang kembali. Pastikanlah dahulu dengan Delima, Aku tak ingin dia akan menghalanginya."
"Jangan berprasangka buruk terhadap orang lain, kemarin telahku jelaskan pada Delima, jika kita akan bertunangan."
"Aku tak ingin bertunangan lagi."
"Lalu?"
"Aku ingin langsung menikah saja. Tak ingin mengulang kesalahan lama."
"Baiklah jika itu mau mu. Besok kita langsung menemui orang tuamu."
Bima kali ini menelpon seseorang bercakap sekitar sepuluh menit.
__ADS_1
Nisa terdiam, begitu cepatkah doanya langsung terkabul. Perasaannya menjadi gugup dan bingung.
Bima mengajak Nisa sore itu juga.
"Kemana?"
"Memilih cincin pernikahan."
Nisa terbelalak entah kesenangan atau apa namanya, kali ini Nisa manut dan patuh.
"Tapi kenapa seperti terburu-buru?"
"Kau ini serba salah, dalam menghadapi apapun. Jika tak ingin ikut, biar Aku saja yang memilihnya sendiri."
Bima sudah menghidupkan mesin mobil.
Nisa langsung berlari masuk ke mobil.
"Aku harus ikut, jika tidak dia akan membuat keputusan sendiri."
"Ayolah masuk calon istriku." goda Bima.
"Berhentilah menyebutku dengan sebutan itu."
"Apa Kau merasa keberatan mendengarnya."
"Sangat jelas sekali. Bahkan sebaiknya Kau berhenti menyebutkan hal itu lagi." Nisa memasang seat belt kali ini.
"Aku hanya ingin membuat calon istriku senang."
"Kenapa sikapmu berubah menjadi seperti ini?"
"Itu hanya perasaanmu saja."
Bima melajukan kecepatan mobilnya kali ini untuk mempercepat waktu.
Jangan lupa vote koin/poin, like 5 boom rate, komentar tiap episodenya dan jadikan favorite.
follow ig zuzanaoktober
__ADS_1
salam MCP