Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 16


__ADS_3

Thubi memeluk istrinya, kali ini ia tak begitu saja mudah melepaskan Lubi yang mulai meronta.


"Kamu harus percaya pada suamimu..."


Thubi mencoba meyakinkan Lubi.


"Kalau aku mau sudah dari dulu aku bisa menikahi sekretarisku, tapi jujur aku gak bisa, aku masih menunggu cinta pertamaku saat SMA dulu, yaitu kamu, ngapain aku jauh-jauh mencari keberadaanmu. Percayalah kamu istriku yang aku pilih dari dulu untuk menjadi pasangan hidupku."


Lubi terdiam, entah langsung dingin batinnya mendengar ucapan suaminya barusan. Tadi yang mendidih tiba-tiba meleleh, jujur kakinya kelu saat ini untuk berdiri. Karna saking takut suaminya berpaling dengan wanita lain.


"Percayalah, aku akan ceritain semuanya biar tak ada kesalah pahaman lagi, mengenai Windi. Aku kasian sama anak itu, aku tahu betul gimana jadi anak dari single parent, aku perhatian karna aku tahu rasanya tidak memiliki seorang ayah dari dalam kandungan."


Lubi masih terdiam terpaku menatap wajah Thubi yang begitu serius dan dalamnya menatap kedua bola mata Lubi yang begitu sendu dan mulai berkaca-kaca.


"Apa kamu tahu rasanya dari kecil tidak memiliki sosok ayah? apa kamu tahu cemburunya hati ini melihat teman-teman lain sewaktu sekolah diantar jemput dengan orang tua yang lengkap, dan apa kamu tahu rasa sakitnya anak yang hanya di hidupin dari seorang single mother?"


Lubi tak memiliki jawaban itu semua, karna keluarganya begitu cukup, lengkap dan harmonis selama ini.


"Semoga kamu paham? apa yang aku omongin. Yakinlah perhatianku sama anak Tari tak lebih dari apapun."


Thubi memeluk Lubi yang masih mematung.


"Kamu jangan pernah marah lagi, aku kacau jika kamu diemin kayak gini."


Lubi mencoba tenang ia mengangguk pelan, ia begitu memahami posisi suaminya kini.


"Kamu gak pernah cerita? kalau kamu cerita dari awal aku gak mungkin salah paham."


bisik Lubi pelan.


Thubi mencium kening Lubi


"Maafin ya sayang..."

__ADS_1


Lubi menggangguk pelan.


Thubi mencium tangan Lubi perlahan.


"Aku janji gak ada hal lagi yang ditutupin..."


Lubi memeluk suaminya makin erat. Karna ia yakin suaminya akan bertanggung jawab dengan ucapannya sendiri.


"Kamu gak laper?" sindir Lubi mencubit hidung suaminya.


"Laper dong, dari tadi belum makan. Soalnya udah gak nafsu kalau kamu ngambek trus seharian, sekarang gak marah lagikan..."


Giliran Thubi kini sok manja sama istrinya.


"Mau di masakin apa?"


"Apa aja pasti enak asal di masakin pake cinta udah gitu di suapin dengan sayang..."


"Yeee... maunya..."


"Wajib dong, sama istri jugakan?"


Thubi menggendong Lubi ke atas ranjang.


"Katanya tadi laper kenapa ke ranjang...?"


Lubi memukul bahu suaminya.


"Soalnya kamu wangi..."


"Lantas..."


"Honey moon dong..."

__ADS_1


Lubi langsung bangun melempar bantal ke arah wajah Thubi.


"Mandi aja dulu sana..."


Lubi melempar handuk ke suaminya


"Nanti malam ya..." goda Thubi lagi


"Kan besok..."


"Maunya nanti malam... gak sabar."


Thubi langsung memeluk istrinya.


......


Tak lama ponsel Thubi berbunyi, Thubi masih di dalam kamar mandi.


Tanpa melihat nama kontak terlebih dahulu Lubi yang


lagi merapikan kamar langsung mengangkat telpon.


tak lama suara diseberang menangis


Lubi terdiam.


"Windi masuk rumah sakit, drop lagi."


langsung Lubi mematikan ponsel suaminya.


tapi apakah salah jika Lubi tak memberitahukan suaminya. Dipihak lain ia tak ingin Windi terus-terusan bergantungan dengan suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2