
"Apa kalian sudah berbaikan? di dalam pernikahan kadang memang seperti itu." jelas Tari kepada Lubi yang duduk di balkon penginapan mereka. Sementara Windi asyik bermain boneka sendiri. Dan Thubi duduk berjauhan dengan Adrian.
"Apakah ini di sebut liburan? jika hanya melakukan aktifitas sendiri-sendiri, sebaiknya cepat-cepat memesan tiket untuk pulang saja." gerutuk Tari ke pada mereka yang masih berdiaman.
Namun tak ada satupun yang merespon sindiran Tari.
"Lupakan saja kesalahpahaman ini."
Tari memberikan permainan catur kepada Thubi dan Adrian.
"Kalian bermainlah catur, siapa yang kalah dalam pertandingan ini, dia harus yang meminta maaf terlebih dahulu dan melupakan hal yang terjadi."
Jelas Tari memecahkan suasana. Nampaknya Adrian dan Thubi menyepakatinya.
"Aku ada permintaan, Kau Lubi sebagai istriku. Duduklah di dekatku dan Tari duduklah di samping Adrian. Biar jelas dengan posisinya masing-masing." Thubi kali ini agak meninggikan suaranya.
Merekapun menyetujui semuanya. Windi hanya menggeleng kepala ulah tingkah orang dewasa yang terkadang melebihi anak kecil.
Pertandingan itu memakan waktu hampir dua jam, semuanya masih belum berpindah dari posisi masing-masing.
"Bisakah Kau mengambilkan Aku minum." kali ini Thubi menoleh ke arah istrinya.
Lubi beranjak bangun dan membawa segelas air segar.
'Bisakah Kau membantuku untuk minum, Aku sedang berpikir."
Lubi menuruti ucapan suaminya kali ini. Thubi merasa menang di kondisi seperti ini.
Adrian dan Tari menatap mereka, sebenarnya siapa yang sedang pengantin baru. Gerutuk batin mereka dalam hati.
"Kepalaku pusing, sepertinya Aku menyerah saja." jelas Adrian.
"Kau membuat pertandingan hampir menegangkan namun membuatnya kacau. Jangan semudah itu untuk mengalah."
"Aku hanya tak ingin menang darimu, paling tidak memberikan kesempatan pada kalian." jelas Adrian.
"Baiklah, semoga Kau memang ikhlas untuk mengalah. tapi sesuai perjanjian Kau harus meminta maaf terlebih dahulu. Karna namamu masuk ke dalam mimpi istriku."
"Seperti yang Kau inginkan, tak akan pernah mempersulit kalian."
Mereka rukun kembali berjabat tangan dan memeluk satu sama lain.
.............
"Apa Nenek membohongiku kali ini? ah sudahlah tidak penting untuk memikirkannya."
Nisa menuruni anak tangga. Namun saat ia menoleh melewati kamar Bima. Pintunya agak terbuka sedikit. Nisa iseng memasukkan kepalanya untuk mengintip. Dompet terbuka di atas kasur itu begitu menggoda. Nisa ingin masuk namun ragu, terdengar bunyi keran hidup. Nisa memastikan Bima saat ini sedang mandi.
__ADS_1
Dengan tanpa rasa takut Nisa melangkah masuk secara diam-diam. Benar apa yang di lihatnya. Foto lama itu terselip di dompet.
Tangan Nisa mencoba mengambilnya dan mengeluarkannya dengan pelan. Sambil mengamati pintu kamar mandi takut perbuatannya kali ini kembali ketahuan.
"Dapat." Nisa memfotonya dengan kamera dan memasukkannya kembali foto itu seperti semula.
"Ternyata dia pura-pura tak ingat, dasar menyebalkan."
Nisa mengendap-endap keluar kamar tak ingin menimbulkan suara agar tidak ketahuan. Nisa turun ke lantai bawah menuju taman samping.
"Kenapa juga Aku memfoto lagi? apa pentingnya untukku simpan. Apa peduliku dia tahu atau pun tidak?"
Nisa memilih duduk di ayunan depan kolam. Menatapi foto itu yang tersimpan di dalam galeri kameranya.
Bima memergoki Nisa memandang foto itu.
"Kau dapat dari mana foto itu?"
Nisa hampir terjatuh saking terkejutnya.
"Kau mau membuatku jantungan mendadak?"
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan."
Bima mengambil ponsel di tangan Nisa.
"Memangnya hanya Kau yang punya foto itu di dunia ini?" ketus Nisa.
"Pandai mengelabui, dasar pembohong. Dompetku tadi sudah bergeser. Jadi siapa lagi kalau bukan dirimu yang hanya dirumah ini?"
Nisa menghindar tak ingin ketahuan.
"Mana Aku tahu?"
"Berhentilah berpura-pura tidak tahu."
"Kau masih menyimpan foto itu?"
"Sebagai jimat dompet." ketus Bima asal
"Tak sopan."
"Makannya jangan berulah."
"Aku hanya ingin tahu kebenarannya."
"Setelah tahu? lantas mau apa?"
__ADS_1
Nisa diam sesaat mencari jawaban yang tepat.
"Untuk memastikan saja."
"Ambillah Aku tak butuh foto itu lagi." Bima membuangnya ke kolam.
Nisa menatapnya foto itu jatuh melayang di atas air terasa sakit dan mengecewakan.
"Kau mana boleh membuangnya begitu saja? Kau boleh membenci Aku tapi jangan membuang foto kenangan itu. Bagiku itu berarti."
Nisa melompat secara spontan. Menyebur tanpa berpikir panjang.
Bima melihat Nisa yang terjun ke kolam.
Nisa berhasil meraih foto itu dan menyimpannya dalam saku.
"Jika Kau tak menginginkannya lagi, Aku yang simpan. Paling tidak Aku senang semasa kecil ku pernah memiliki Kakak laki-laki sepertimu yang melindungiku. Bagimu memang biasa dan tak berharga. Tapi bagiku yang hanya di lahirkan seorang diri tanpa saudara kandung. Itu kenangan terindah masa kecilku."
Nisa naik ke pinggiran kolam dan naik, berlalu dari Bima yang hanya berdiri memandang Nisa yang basah kuyup masuk ke dalam.
Baru kali ini melihat seorang wanita begitu menghargai kenangannya, bahkan marah melompat dari ayunan setinggi itu.
Jangan lupa vote poin/koin sebanyaknya, like 5 boom rate, komentar positif tiap episodenya
Follow ig; zuzanaoktober
Salam MCP
__ADS_1