
Lubi merapikan selimut dan bantal. Pagi ini Thubi masih mandi di kamar mandi.
Pelayan penginapan mengetuk membawakan sarapan pagi untuk mereka. Lubi menyuruhnya meletakkan sarapan itu di gazebo depan kolam. Mereka ingin menikmati sarapan pagi dengan view alam.
Thubi keluar dengan masih memakai handuk.
"Cepatlah berpakaian! kita sarapan." ajak Lubi menuju gazebo.
Lubi melangkah meninggalkan Thubi yang masih berkemas.
"Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu."
Thubi kali ini duduk di hadapan Lubi.
"Apa yang sebenarnya Kau inginkan dalam pernikahan kita?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Bisakah Aku tak perlu menjawabnya?"
"Kau harus menjawabnya." jelas Thubi mengunyah nasi goreng spesialnya.
"Beri waktu Aku untuk berpikir."
Lubi kali ini meminum susu hangat.
"Untuk apa Kau mengajukan pertanyaan itu?"
"Aku berhak tahu sebagai suamimu."
"Aku sama sekali tak memiliki jawabannya."
"Semudah itu Kau menyerah."
"Kau ini kenapa tiba-tiba begitu, mengubah mood ku saja."
__ADS_1
"Jika Kau masih belum menemukan jawabannya. Anggap saja kita liburan masing-masing."
Thubi menyudahi sarapannya dengan cepat. Dan berlalu meninggalkan Lubi seorang diri yang masih duduk kebingungan.
"Kenapa dia marah-marah? apa Aku sudah membuat kesalahan semalam?"
.....
"Kenapa Kau meninggalkanku sarapan sendirian?" Lubi mendekati suaminya yang duduk menonton televisi.
Thubi mengacuhkan keberadaan istrinya. Ia menggeserkan tubuhnya menjauhi istrinya.
"Apa Kau ingat apa yang Kau igaukan semalam?"
"Memang Aku pernah mengatakan apa? Aku sama sekali tak ingat?"
Thubi tak merespon pertanyaan istrinya.
"Mana Aku ingat jika Aku semalam mengigau? ucapannya apa lagi. Memangnya apa yang Aku katakan? Apakah menyinggung perasaanmu?"
"Sudahlah, tak perlu membahasnya." Thubi meninggikan suaranya kali ini.
Lubi mengoyang-goyang tubuh suaminya.
"Aku bicara padamu, jangan mengabaikan."
"Ingatkan saja sendiri, Aku tak punya waktu untuk mengulang ucapanmu semalam."
"Kau mana boleh bersikap seperti itu pada istrimu, Kau sengaja membuatku merasa bersalah?"
Thubi keluar kamar meninggalkan Lubi seorang diri.
Lubi menatap sekeliling kamar, namun tak di temukannya kamera cctv.
"Kenapa dia sampai semarah itu? apa mungkin Aku mengigau yang aneh-aneh?"
__ADS_1
Lubi kali ini terdiam merenung seorang diri di kamar.
"Liburan macam apa ini, jika akhirnya igauan Ku semalam mengacaukannya."
Lubi berlari keluar penginapan, bermaksud mengejar suaminya. Namun tak di temukannya lagi.
"Aku harus mencarinya ke mana? apa mungkin ia ke penginapan Adrian? tapi..." Lubi ragu-ragu untuk menyusulnya.
Lubi memutuskan untuk ke pantai seorang diri. Berjalan seorang diri.
Mungkin kehidupanku terlalu bermasalah, tapi mana boleh ia meninggalkan istrinya seorang diri. Apa dia mencoba mengabaikanku. Entahlah bingung dengan sikapnya. Lubi duduk di ayunan dengan membuang segala rasa penatnya. Liburan macam apa ini? memangnya apa yang Aku ucapkan? Aku saja tak ingat sama sekali. Aku tak pernah mengigau sebelumnya. Apa mungkin karna kecapekan? Lubi menatap laut lepas, dengan deburan ombak kecil. Dan angin yang tak terlalu kencang. Apa yang harus ku perbuat? dia saja tak mendengarkan ucapanku. Apalagi mencariku, bersikaplah seperti itu selamanya. Hingga Kau puas menyalahkanku. Lubi kali ini menggerutuk kesal.
Hingga sore Lubi tak pulang ke penginapan. Thubi mencarinya ke penginapan Tari.
"Apa Lubi tak kesini menemui kalian?" tanya Thubi selidik.
"Tidak sama sekali. Apa kalian memiliki masalah?"
"Ini sebuah kesalah pahaman."
"Maksudnya?"
"Sepertinya rencanaku akan gagal, tidak seharusnya Aku meninggalkannya ke penginapan sendiri."
"Apa yang Kau perbuat?" tanya Adrian.
Thubi menceritakan kejadian awalnya hingga selesai.
"Kau mencoba mencari gara-gara."
"Kemana kita harus mencarinya?"
Tari dan Windi langsung menuju pusat pelayanan dari penginapan.
"Kalian ini membuat ulah saja." gerutuk Adrian menemani Thubi mencari istrinya ke setiap penginapan dan pantai.
__ADS_1