Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 65


__ADS_3

"Apa kita biarkan saja mereka berdua menikmati malam ini." tanya Adrian kepada Tari.


"Sebaiknya begitu, lebih baik kita memberikan ruang kepada mereka untuk lebih intens. Paling tidak itu akan membantu ingatan Lubi tentang suaminya." jelas Tari.


Tangan Tari langsung membekap mulut Windi sebelum mulai kegaduhan.


"Kenapa tidak jadi makan malam bersama Om Thubi?"


"Sebaiknya kita pindah tempat saja, di sini bisa mengganggu Tante Lubi untuk program punya baby." jelas Tari pada anaknya.


"Wah ide bagus, Mah. Windi akan punya teman, tapi apa Windi juga bisa mendapatkan Adik dari Mamah dan Papah juga?"


Adrian dan Tari kali ini saling berpandangan.


....


"Kemana mereka?" tanya Thubi.


"Apa perlu Aku telpon untuk menanyakan."


"Tidak perlu, apa Kau ingin mengganggu pengantin baru?"


"Iya juga. Lalu kita bagaimana?"


"Karna sudah ke sini ya mau bagaimana lagi."


Thubi menatap ke arah Lubi.


"Kita makan saja, perutku sudah lapar."


Lubi mengangguk mereka akhirnya duduk berhadapan dan memesan makanan.


"Apa Aku boleh  mengatakan sesuatu? jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan sesuatu? karna semenjak kejadian itu Kau tak pernah sama sekali meminta bantuan? Aku suamimu, terbukalah apapun masalah yang Kau hadapi. Paling tidak Aku adalah orang pertama yang Kau beri tahu jika Kau terlibat masalah."


"Baiklah, Aku hanya tak ingin merepotkanmu." jelas Lubi.


"Dan satu lagi, Kau tidak perlu malu untuk mengutarakan isi hatimu."


Lubi kali ini hanya menunduk.

__ADS_1


"Apa yang Kau rasakan? apakah Kau merasakan aneh jika berada di sampingku?"


"Bukan, tak bermaksud begitu. Aku hanya perlu beradaptasi."


"Baiklah, berarti tak ada yang di tutupi lagi bukan? perlahan-lahan Kau akan terbiasa."


Lubi mengangguk kali ini. Meski dalam hati kecilnya Lubi mulai belajar menumbuhkan rasa pada suaminya.


"Malam ini mulailah bercerita apapun itu yang ingin Kau ceritakan, atau yang ingin Kau tanyakan?"


Lubi ragu namun berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan suaminya.


"Apa Aku boleh menanyakan sesuatu? bisakah kau menceritakan setelah kita tak bertemu cukup lama."


"Apa Kau ingin tahu secara detail?"


Lubi mengangguk. Sambil mereka menunggu pesanan makanan.


"Kita bertemu di pusat perbelanjaan. Saat itu Aku kira Kau sudah menikah, karna sedang memilih pakaian bayi. Aku datang bersama Mbak Tira. Sungguh Aku terkejut karna sudah lama tak bertemu denganmu."


"Lalu kenapa bisa sampai menikah?"


"Lantas..."


"Aku berusaha mendekati dengan meminta maaf, dan Kau memaafkan. Aku melamarmu dan langsung menikah."


Lubi terdiam sesaat seperti kurang puas dengan cerita Thubi.


"Kita nikmati saja malam ini, masa lalu tak perlu di bahas."


Jelas Thubi menggeserkan makanan yang sudah datang di bawakan oleh pelayan.


"Makanlah yang banyak, biar ingatanmu cepat pulih."


Thubi memberikan mangkok nasi ke hadapan Lubi.


 


Setelah merekan menyelesaikan makan malam, mereka berjalan-jalan lima menit di pinggir pantai karna udaranya malam ini cukup dingin. Thubi mengajak Lubi untuk pulang ke penginapan.

__ADS_1


Sampai di penginapan, Lubi menggantikan dressnya dengan pakaian tidur.


Mencuci tangan dan kaki gosok gigi, namun Lubi tak mendapati suaminya.


Dilihatnya suaminya kini merapikan sofa.


"Apakah Kau malam ini ingin tidur di sofa?" tanya Lubi.


"Tidak masalah. Menunggu saat yang tepat, Kau hanya butuh beradaptasi. Jangan khawatir kita liburankan bukan semalam saja. Aku hanya memberikan waktu untukmu."


Lubi terdiam, ternyata suaminya bisa membaca isi hati Lubi.


"Kau jangan berpikir merasa tidak nyaman, percayalah Aku tidak apa-apa."


Thubi menunjukkan sikap memahaminya saat ini.


Lubi menatap punggung suaminya dari belakang yang telah merebahkan diri di sofa.


"Kenapa Aku bisa setega itu pada suamiku sendiri setelah begitu banyak yang dilakukannya."


Lubi mendekati suaminya. Dan memeluknya dari belakang.


"Tidurlah bersamaku di ranjang, Aku merasa kesepian. Jika Kau memilih tidur di sofa."


Thubi membalikkan badannya.


"Apa Kau yakin? tidak dalam terpaksa bukan? atau hanya mengasihaniku saja?"


"Bantu Aku belajar menjadi istrimu, Aku juga ingin masuk surga karna ridho suamiku."


Lubi mencium punggung tangan suaminya.


 


Jangan lupa vote poin dan koin sebanyaknya, rate 5 boom like, komentar tiap episodenya


follow ig zuzanaoktober


Salam pembaca setia MCP

__ADS_1


__ADS_2