
"Mba tetap di sinikan? sampai acaranya selesai."
Tari mengangguk mengiyakan. Begitulah pesan Tante Tila.
"Mba ikut turun ke bawah aja, sekalian mendampingi aku nanti, sahabatku gak jadi datang hari ini dia menghadapi persalinan. Ada kebaya di lemari."
"Gak usah di kamar aja..."
"Please...di hari spesialku ini ya." Nisa menempelkan kedua tangannya di depan dada.
Tari menolak pun tak tega.
"Lima menit ya..."
Entah Tari menurut begitu saja kali ini.
Saat turun ke bawah Mamahnya Nisa dan Tari bergandengan mendampingi Tari menuruni anak tangga.
Sesampai di bawah. Semua keluarga dua belah pihak telah menunggu. Mata Tari terbentur pada sosok laki-laki yang duduk berseberangan dengan Nisa.
"Adrian..."
Adrian juga terkejut dengan kehadiran Tari yang duduk bersebelahan dengan Nisa.
Tari menunduk, tak seharusnya ia mengikuti keinginan Nisa. Mau gimana lagi ia harus duduk patuh hingga acara ini selesai.
Adrian diam-diam menatap Tari.
Ingin berkata-kata namun tak memiliki kesempatan.
Adrian menatap jemari Tari yang kosong tak ada cincin sama sekali polos, hanya jam tangan yang melingkar dengan sederhana.
__ADS_1
Adrian makin kacau dan kelu.
di hadapan Tari dia akan bertunangan. Sekalipun tak pernah Tari memandang ke arahnya. Seperti tak saling mengenal.
Adrian menenangkan batinnya.
Semua berjalan seperti biasa perkenalan berlanjut kedua belah pihak. Dan tiba penyematan cincin tanda pertunangan.
Tari masih mematung terdiam. Menunduk tak berani untuk menatap wajah Adrian langsung.
Adakah yang salah dengan hari ini? atau kondisi yang tak mendukung.
penyematan cincin itu berlangsung lancar.
Tari cepat-cepat permisi ke belakang. Langkahnya kali ini gontai. Sekuat apapun dia kini. Akhirnya ia memilih untuk tak berlama-lama di tempat itu.
Adrian melihat sosok Tari yang meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru.
Ia tak mungkin kembali dengan kondisi kacau seperti ini. Nampak jelas di cermin wajahnya putus asa dan bersedih.
Cukup menyakitkan. Meski ia telan seorang diri. Demi Windi penyemangat hidup satu-satunya.
Ia harus kuat menghadapi semua ini, sekalipun menderita.
Tari semenjak itu, tak pernah lagi keluar.
Adrian dapat merasakan kekecewaan Tari, namun entah mengapa Tari selalu menolak jika di ajak
berbicara. Meskipun di tutupi. Raut wajah Tari tak mungin dapat membohongi perasaannya.
"Apa Tari terluka?"
__ADS_1
Adrian masih memikirkan pertanyaan itu di benaknya.
Entah mengapa perpisahan mereka sewaktu dulu tak memiliki penjelasan sama sekali.
Tanpa alasan apapun Tari pergi meninggalkan Adrian begitu saja.
Setelah acara selesai Tari tak muncul lagi.
Seribu pertanyaan mulai memancing Adrian untuk mencari tahu, kenapa bisa Tari berada ditempat ini dan menghilang begitu saja.
"Wanita disebelahmu tadi siapa?"
tanya Adrian mulai penasaran.
"Mba tari yang bekerja di butik tante tila, tempat aku memesan kebaya ini. Kenapa?"
Adrian menggeleng ringan. Kali ini ia dapat mengantongi alamat sementara Tari.
Nisa memandang heran pada calon suaminya kini.
"Kenal dengan mba Tari?"
"Kami satu SMA."
jelas Adrian.
Nisa terdiam, perasaannya kali ini mulai tak enak, meski ia telah bertunangan.
Namun perasaan itu mulai bercabang kacau dan penasaran.
Ada hubungan apa Mba Tari dan Adrian? sepertinya sesaat mba Tari turun menemani Nisa. Pandangan Adrian tak berkedip sekalipun Nisa menyimpan kecurigaan yang mendalam.
__ADS_1
Bersambung