Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Setahun Untuk Permulaan


__ADS_3

Summer memang jarang mengobrol dengan Om nya itu. Bisa dikatakan tak terlalu dekat. Namun Nindi anak Praman adalah sepupu sekaligus teman dekat bagi Summer, dia hanya bertemu muka sesekali dengan omnya itu saat dia bersama dengan Nindi. Sampai setelah rapat direksi saat ini pun Summer masih belum dapat menebak sifat Praman, terlebih untuk mencurigai.


“Kamu harus lebih kuat kedepannya. Untuk jadi lebih kuat, belajarlah seserius mungkin.” Ujar pak Bagas.


“Tim SAR masih belum ngabarin apapun.” Tanya Summer yang masih terus menunggu kabar Mamanya.


Dalam lubuk hatinya, dia berharap ibunya masih hidup. Bagaimana pun caranya bertahan hidup, pokoknya harus masih hidup. Toh Summer sendiri juga masih hidup dengan pengalaman yang di luar nalar.


Siapa yang menyangka mermaid itu masih ada. Karna itu, mau vampir, alien atau apalah, jika bisa menyelamatkan Mamanya.


“Belum ada kabar.” Ujar Pak Bagas.


“Kita masih punya banyak waktu.” Sahut Summer optimis.


“Apa kabar M ya?” Terbesit dalam pikiran Summer.


Tapi dia harus fokus dulu dengan apa yang ada. Cawannya yang sudah berat ini, masih akan lebih berat kedepannya. Karna dia bahkan belum sampai di permulaan.


Tapi jika memang takdir mendukung, dia ingin menemui Mara nanti. Ketika hidupnya leluasa sedikit.


Di laut Mara masih selalu bolak-balik ke tempat dia dulu bersama Summer. Dia menjadi sering tidur di batu itu sambil membayangkan wajah Summer di sebelah wajahnya kala itu.


Rambut Summer yang terurai acak di batu, keningnya , hidungnya yang mancung dan kecil, bibir merah muda dan kering. Apapun yang dia kenakan dia tetap kelihatan cantik. Dia penasaran bagaimana sekarang keadaan Summer. “Semoga kamu sehat terus.” Gumamnya.


“Ahhhh aku masih harus menunggu setahun lagi untuk bisa mencarinya di daratan.” Gerutunya dengan wajah murung. Sambil meletakkan pipinya di batu, jari-jarinya mengelus tempat dulu Summer terbaring.


*****


Setelah dari rapat direksi, mulai keesokan harinya Summer disibukkan oleh kegiatannya belajar manajemen. Dia pun diikutkan bekerja di perusahaan agar lebih mudah mengerti situasi perusahaan dan mengenal para petinggi di sana.


Pak Bagas sendiri yang turun tangan untuk mengajarinya. Secara jika Summer naik ke posisi CEO, Pak Bagas yang akan tetap ada di sampingnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan sebagai teman Rudi. Dan lagi, tidak ada yang dapat dia percayai untuk menjadi sekretaris Summer nantinya.


“Pak Bagas. Menurutmu penilaianmu, apa aku bisa memimpin dengan baik nantinya?” Tanya Summer ingin meng-evaluasi dirinya.


“Ya. Aku tau kamu bisa. Sejauh ini kamu mengikuti dengan sangat baik. Jangan lupa kamu anak Ketua. Kamu tau sehebat apa Papamu.” Sahut Pak Bagas.

__ADS_1


Kata-kata itu membuat Summer semakin merindukan Papa dan Mamanya. Tapi setidaknya, setidaknya… semoga Mama masih hidup. Ketika Mamanya nanti kembali, dia sudah bisa membuat Mamanya tenang tanpa memikirkan perusahaan.


“Mama harus tetap hidup untuk melihat sekuat apa aku saat ini.” Ujar Summer dalam hati.


Istri Pak Bagas yang dipanggil Bu Ayu juga sangat memperhatikan Summer. Karna mereka hanya punya satu anak yakni Rio, membuat Bu Ayu menganggap Summer adalah anak perempuannya.


Untuk saat ini Bu Ayu merasa yang bisa dia bantu hanya menyiapkan makanan Summer. Karna saking sibuknya, Summer hanya bisa ditemui saat jam makan. Tapi segitu saja sudah membuat Bu Ayu senang. Dia bisa memperhatikan makan Summer baik atau tidak.


Hanya saja…


“Ikan bakar lagi?” Tanya Bu Ayu heran.


“Iya Bu.” Jawab Summer singkat.


“Kau hampir makan ikan bakar terus setiap hari. Ikan bakar tanpa garam dan apa-apa. Apa rasanya makan itu setiap hari?” Omel Bu Ayu.


“Bu… terima kasih sudah selalu nurutin maunya aku makan apa. Aku tau Bu Ayu bisa masak apa aja. Tapi aku memang lagi suka itu Bu.” Ujar Summer memegang tangan Bu Ayu.


“Jangan khawatir ya bu.” Ujar Summer menambahi.


“Baik-baik. Menu makan malam boleh apa aja Bu.” Ujar Summer tersenyum.


Ada hal dibalik ikan bakar yang selalu dia pilih jadi lauknya ketika makan.


Malam itu, saat dia makan malam ikan bakar bersama dengan Mara. Itu adalah malam dimana dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dan berjuang. Karna itu, setiap dia memakan ikan bakar dia akan ingat kalau saat ini dia sedang berjuang. Itu sebagai pengingat untuknya tetap kuat dan tidak lengah.


Tapi selain kata “berjuang”, saat itu pemandangan Mara makan ikan yang masih hidup, juga membuat Summer sering teringat. Meskipun tadinya itu hal yang membuatnya kaget berkali-kali, namun itu dirindukan juga.


Malam hari setiap dia ingin istirahat dari lelahnya seharian belajar dan bekerja, Summer punya kebiasaan menatap bulan dulu dari jendela kamarnya. Moodnya malam itu akan ditentukan dengan seterang apa cahaya bulan. Dia akan merasa sedih jika ada malam dengan bulan yang bersembunyi.


“Laut pasti sangat indah sekarang. Aku berharap Mama juga bisa lihat cahaya bulan malam ini.” Ujar Summer jika bulan sangat terang malam itu. Jika bisa, dia ingin bulan selalu penuh. Dia masih ingat dengan jelas indahnya cahaya bulan yang membias di laut.


Laut dengan segala yang ada di situ. Dinginnya udara laut dan kerasnya batu yang dia tiduri, semalaman tak bisa tidur karna berpikir, badan yang remuk dan tak bisa bergerak.


Banyak hal yang masih bisa dia rasakan sensasinya.

__ADS_1


Sebenarnya itu semua jadi tak terlalu buruk karna ada Mara. Dia berpikir bagaimana seandainya jika dia selamat namun sendiri.


“Pasti rambutnya dan bulu matanya menjadi putih sekarang. Matanya akan terang berwarna kuning.” Ujar Summer sambil melihat bulan.


Perubahan rambut Mara yang menjadi putih ketika kena cahaya bulan adalah hal pertama yang menenangkannya kala itu.


*****


Summer berkutat dengan pelajarannya sampai tak pernah punya waktu sendiri. Dia hanya bolak balik ke rumah dan kantor. Dan hanya keluar untuk menemui pemegang-pemegang saham di Perusahaannya.


Maka setahun telah berlalu.


Mara akan menjalani upacara kedewasaannya besok hari. Dia sudah tak bisa sabar hingga tak bisa tidur.



“Kak ingat janjimu ya. Sepatu dan pakaian. Tahun depan aku juga akan punya kaki.” Ujar Sara mengingatkan janji Mara setahun yang lalu.


“Tentu!” Sahut Mara.


“Apa lagi yang harus aku persiapkan ya?” Gumam Mara. Saat itu dia hanya diberi sepasang baju dan sendal oleh Uma dan Appa. Karna sulitnya mereka memiliki pakaian, mereka hanya bisa mendapatkannya dari baju-baju yang terbuang di laut.


Sedangkan Summer bersiap akan maju karna besok adalah hari dimana dia mencalonkan diri menjadi kandidat untuk di pilih nantinya. Setahun dia bekerja keras untuk sekarang yang jadi permulaan perangnya.


“Apa kau siap?” Tanya Pak Bagas.


“Tentu saja.” Sahut Summer, namun dalam hati dia sangat takut gagal. Baginya dia sudah bekerja keras, tapi bagaimana jika itu tetap tak cukup?


Banyak media yang sudah menulis di headline tentang majunya gadis 20 tahun untuk mendapatkan posisi CEO. Hal itu disengaja oleh Pak Bagas. Dia bersiasat agar banyak orang yang mengenal Summer dan banyak orang yang akan mendukungnya. “Role Model anak muda masa kini” adalah julukan Summer.


Praman mulai menyadari jika Bagas adalah orang yang tak bisa disepelekan. Mungkin Summer bisa dia anggap enteng, namun Bagas tidak.


Clara menyadari sikap suaminya yang mulai terganggu.


“Tidak apa-apa. Kita bisa menyelesaikannya dengan cara yang sama nanti.” Ujar Clara sambil memijat bahu suaminya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2