Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Janji Bertemu


__ADS_3

Summer membuka matanya dan buru-buru bangkit.


“Kenapa kenapa?” Ujar Mara menengadahkan tangannya menjaga tubuh Summer


“Janji ketemu Mama.” Ujar Summer baru ingat. Mara juga sama lupa.


“Kamu gak bisa datang sekarang. Aku akan pergi menemui Bu Rita.” Ujar Mara.


Summer menatap keadaannya, dia memang terlihat berantakan. Dia tak ingin membuat ibunya khawatir.


“Aku tidak akan beri tahu. Aku hanya akan bilang kamu tiba-tiba ada pekerjaan ke luar kota.” Mara seperti membaca pikiran Summer.


“Baiklah. Terima kasih Mara.”


“Jangan khawatir. Kamu akan sehat lalu kita datang menjenguk Bu Rita.” Ujar Mara memegang tangan Summer.


“Iya.” Summer tersenyum.


Rio baru sampai di Rumah Sakit setelah tau kabar Summer dari berita yang dia tonton di rumah Summer.


“Summer!” Ujarnya melihat keadaan Summer yang sedang duduk di kasur pasien.


“I’m okay.” Ujar Summer.


“Tolong jaga Summer. Aku ingin pergi.” Ujar Mara. Berat baginya untuk meninggalkan, namun mereka tak ingin Bu Rita menunggu semalaman di tempat mereka janjian.


“Lu mau kemana?” Rio kaget Mara menyuruhnya menjaga Summer. Sikap Mara biasanya terobsesi dan terus menempel pada Mara.


Mara tak menyahut dan tetap melangkah pergi.


*****


Beruntungnya Mara sampai di habitatnya sebelum Bu Rita berangkat.


“Bu Rita, maaf Summer tak bisa datang. Dia tiba-tiba ada pekerjaan mendesak ke luar kota.” Ujar Mara.


“Begitu.” Wajah Bu Rita terlihat sedih.


“Mau bagaimana lagi, putriku pasti sangat sibuk.” Bu Rita bersikap pengertian.


“Aku juga akan langsung kembali, menyusul Summer.”


“Apa pekerjaanmu di Summer Sea?”


“Aku bodyguard Summer.”


“Oh ya?”


“Iya Bu Rita.”


“Terima kasih Mara. Summer cerita dulu kau menyelamatkan hidupnya. Terima kasih banyak sampai sekarang kau terus melindunginya.”


“Sama-sama Bu Rita. Itu karna aku mencintai putri Bu Rita.” Ujar Mara blak-blakan.


Bu Rita kaget sambil tersenyum.


“Astaga!” Ujarnya menepuk lengan atas Mara.


“Kamu blak-blakan sekali. Jadi saya yang malu.” Ujar Bu Rita.


Mara tertawa malu, dia juga tak menuangka akan mengakuinya pada Bu Rita.

__ADS_1


“Tapi Mara.” Ujar Bu Rita, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi tegas. Mara jadi canggung takut melakukan kesalahan.


“Jangan berani masuk ke kamar Summer. Awas saja jika kamu macem-macem.” Ujar Bu Rita, wajahnya berubah jadi galak.


“Haha tentu saja Bu Rita.” Sahut Mara jadi kaku.


“Tidak boleh ada anak sebelum pernikahan.” Ujar Bu Rita kemudian.


Mara keselek mendengar kata “anak”. Dia langsung salah tingkah, senyumnya terlihat kaku.


Karna sudah bingung akan bicara apa, Mara merasa baiknya dia harus segera pergi dari hadapan Bu Rita.


“Ah iya. Aku harus pergi Bu Rita.” Ujar Mara ingin buru-buru cabut.


Mara mampir ke rumahnya menyapa Uma dan Appa lalu pergi.


“Uma sudah bertemu wanita yang dibahas Kakak?” Tanya Sara penasaran.


“Sudah.”


“Bagaimana orangnya?”


“Bagaimana apanya?”


“Cantik?”


“Cantik.”


“Wuuuuuuu. Apa lebih cantik dari para mermaid?”


“Sepertinya.” Sahut Uma tak masalah dengan kepribadian Summer.


Mau bagaimana lagi jika anaknya memang suka.


Mara tiba di rumah sakit. Di lihatnya Rio bermain ponsel di sofa, sedangkan Summer tidur nyenyak.


“Ah lu udah datang.” Ujar Rio.


“Iya. Jadi aku saja yang jaga. Kamu pulang sana.” Usir Mara.


“Wah. Enak aja ngomongnya. Gue juga pengen jagain Summer.”


“Aku yang jagain sendiri. Istirahat sana.” Akhirnya Mara mengatakan tujuannya.


“Khawatirin gue? Kita udah jadi temen ya?” Rio terlihat riang.


“Pulang sana.” Usir Mara.


“Oke teman.” Canda Rio.


Mara duduk disebelah Summer, diperhatikannya wajah itu terlihat pucat.


“Huh? Kau sudah kembali.” Summer tersenyum.


“Iya.”


“Bagaimana kabar Mama?”


“Dia baik dan cukup kecewa. Tapi katanya mau gimana lagi kalau kamu sibuk.”


“Hahh aku juga kangen Mama.”

__ADS_1


“Kamu pasti cepat pulih.” Ujar Mara menenangkan dan mengelus rambut Summer.


“Sudah makan malam?” Tanya Summer.


“Oh iya aku lupa. Kamu sudah?”


“Belum juga. Aku menunggumu.”


“Kamu manis banget. Mau makan apa?”


“Hmmm aku pengen ngemil.”


“Karna sudah tengah malem ya. Mau apa?”


“Ummm dimsum?”


“Okay. Aku cari dulu di aplikasi.”


Summer dirawat di Rumah sakit selama 2 hari. Kasusnya belum diproses karna Richard belum juga sadar.


Summer langsung bekerja sesaat dia pulang dari Rumah Sakit. Dia yakin pekerjaannya pasti sudah menumpuk 2 hari tidak bekerja.


“Bagaimana keadaan Ketua?” Sapa Pak Bagas yang jelas melihat Summer masih butuh istirahat. Wajahnya bahkan masih berbekas lebam.


“Perutku masih sakit.” Sahut Summer berjalan pelan dibantu Mara.


“Harusnya istirahat lebih lama.” Ujar Pak Bagas.


“Aku bosan di atas kasur.” Mara kemudian duduk perlahan di kursi kerjanya.


Pak Bagas menatap Mara. Tentu saja Mara pun tak bisa mencegah Summer untuk pergi ke kantor.


Semenjak kabar Richard akan ditangkap atas penyiksaan terhadap CEO Summer Sea, Praman belum berani muncul di kantornya. Mau dihindari atau tidak, nama mereka pasti akan dibawa-bawa karna tersangka adalan anak sendiri.


Dari berita yang beredar, ada satu bukti yang sebenarnya mereka punya. Bukti mutlak yang bisa menjatuhkan Richard, namun belum cukup kuat menjatuhkan Praman. Karena itu mereka tak memberikannya pada Polisi.


Mara memberi sebuah sd card berisi rekaman Summer dan Richard di hari penculikan. Dari gelang Summer yang terhubung dengan Mara, terdengar jelas pembicaraan mereka di ponsel Mara dan segera direkam oleh Damar.


Kartu itu akan dimainkan Summer nanti, setelah mencari semua borok Praman tak bersisa.


Semua karyawan mempertanyakan, padahal Richard baru saja masuk bekerja menjadi Manager baru di bagian Pemasaran. Kini para karyawan merasa iba pada Summer. Satu persatu mereka mengetok pintu ruangan Summer.


“Miss Summer. Cepat pulih dan jaga kesehatan.” Ujar mereka memberi Summer bucket buah dan kopi.


“Kalian perhatian sekali. Terima kasih.” Ujar Summer tersenyum.


Padahal peluncuran produk baru sebentar lagi, namun harus sekali saat ini terjadi masalah. Tentu bagian pemasaran kini porak-poranda. Summer meminta Pak Bagas menghubungi Manager sebelumnya.


“Perhatiannya sebentar.” Ujar Summer turun ke lantai ruangan bagian pemasaran.


Mereka pun berkumpul mendekat.


“Aku harap kalian tetap semangat bekerja. Jangan biarkan masalah ini mengganggu fokus dan membuat pekerjaan jadi terbengkalai. Untuk semua orang yang bertahan hingga akhir nanti, selama masa launching produk baru kita, jika berhasil kalian akan dapat bonus atas kerja keras kalian. Jadi tolong bersemangatlah.” Ujar Summer.


Baru kali itu Summer turun langsung berbicara pada karyawan. Summer sadar semua karyawannya bekerja keras dan lebih keras sejak dia menjabat. Dia perlu mengapresiasi kerja keras dan kemampuan mereka.


“Wuuuuu!!! Thank you Miss Summer.” Mereka bertepuk tangan mendengar kabar bahagia itu. Dari situ para karyawan menilai Summer jadi berbeda. Mereka kira Summer orang yang dingin dan tak peduli dengan kerja keras karyawannya, namun pikiran itu langsung dipatahkan setelah mereka langsung mendengar Summer berbicara.


*****


Richard membuka kedua matanya, kepalanya diperban dan wajahnya masih babak belur. Selang infus menyandang tangannya. Di hidungnya juga ada selang oksigen. Dia tak mampu bergerak, tubuhnya sangat sakit. Tangan kirinya mati rasa dan dibaluti perban tebal. Itu adalah tangan yang diinjak Summer.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2