
Richard melihat sekelilingnya, sama sekali tak ada yang menemani. Dia hanya bisa menatap ke atas langit-langit. Dia kecewa, berharap ada orang tuanya menemaninya saat sekarat begitu. Hidupnya sungguh tragis, tak ada yang berjalan lancar sama sekali.
Seorang polisi masuk dan melihat Richard sudah sadar.
“Halo. Halo!” Ujarnya melambaikan tangan di depan mata Richard.
Segera polisi itu memanggil dokter.
“Kepalanya terkena geger otak ringan. Jadi mungkin dia akan sulit berbicara untuk sementara.” Ujar Dokter setelah memeriksa.
“Baik terima kasih, dok.” Ujar polisi tersebut.
“Richard. Kamu bisa dengar kan?” Ujar polisi itu mendekatkan wajahnya ke wajah Richard.
Mata Richard melengos, dia berharap tidak diganggu saat ini.
“Richard. Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan.” Polisi itu kembali mengajak berbicara.
*****
Keesokan harinya Praman memutuskan untuk mengadakan jumpa pers, untuk menghalau semua berita buruk yang akan membawa-bawa namanya.
Praman datang untuk mengklarifikasi agar namanya tak buruk dan dia tetap bisa bekerja tanpa dikejar-kejar wartawan.
Saat Praman memasuki aula yang dipenuhi oleh reporter, segera flash kamera berganti-gantian menyala mengambil gambar Praman.
“Terima kasih. Di sini saya selaku Direktur di Perusahaan Summer Sea meminta maaf dengan kejadian buruk yang terjadi. Saya telah lalai mengurus anak. Saya akan memastikan anak saya mengikuti hukum sebagai mana mestinya.”
Para wartawan langsung berebutan memberikan pertanyaan.
“Apa Direktur sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian ini?” Ujar salah satu wartawan.
“Sama sekali tidak tahu ada perkelahian antara putra saya dan Ketua.” Ujarnya mencuci tangan keluar dari kejadian itu.
Praman tak berbicara lama, dia hanya datang untuk mengatakan dia tak punya urusan dengan kejadian Summer dan akan membiarkan anaknya dihukum sesuai dengan kejahatannya.
*****
Richard menonton acara live tersebut. Dia sudah menebak ayahnya akan membuangnya, namun dia tetap terkejut. Sebegitu tidak adakah kasih sebagai orang tua? Mereka bahkan tak penasaran bagaimana keadaan putranya kini.
Tiba-tiba Nindi masuk ke kamar Richard. Dia melihat keadaan abangnya, setidaknya dia sudah siuman. Dari kemaren dia datang, abangnya masih belum sadarkan diri. Nindi bolak-balik dari kampus dan Rumah sakit.
Nindi mendekat dan mematikan TV yang menampilkan video jumpa pers ayahnya.
“Kau sudah makan?” Tanya Nindi.
“Kau datang? Kenapa?” Richard tak tau harus bersikap bagaimana.
“Tentu saja. Kau kan lagi sakit.” Sahut Nindi.
“Untuk apa peduli?”
“Aku selalu peduli, kamu yang gak merhatiin.”
“Hah! Kau pasti membenciku karna aku menyiksa temanmu.”
“Tentu saja!” Ketus Nindi.
“Ayo makan. Aku bawa makanan.” Sambung Nindi.
“Keluar.” Richard tak mau bermanis-manis. Karna dia tak terbiasa begitu.
Nindi tak peduli, dia tetap membuka kotak makanan berisi nasi goreng.
Richard merasa sangat marah. Dilemparnya makanan yang ditangan Nindi, hingga makanan itu tumpah.
Nindi tertegun sebentar melihat makanan yang berserakan di lantai.
__ADS_1
Nindi turun berjongkok dan mengumpulkan nasi goreng itu ke dalam boxnya.
“Sayang banget. Ini padahal nasi goreng terenak yang pernah aku makan. Ujarnya sambil mengumpulkan.
Setelah itu Nindi kemudian mengambil sendok dan menyuap ke mulutnya makanan bekas dari lantai itu.
“Lo gila?!” Teriak Richard.
Nindi tetap makan dan menelan tanpa peduli.
“Nindi!” Richard tak habis pikir, adiknya bersikap sangat aneh seperti orang budek.
Nindi menitikkan air mata, kunyahannya terhenti, nafasnya menjadi berat. Nindi menangis dengan mulut menggembung.
“Emang lu udah gila.” Ujar Richard tidur memunggungi Nindi.
“Aku tau, aku bukan adik yang baik untukmu. Aku tau kamu sangat menderita sedari kecil. Namun aku tak bisa membantu atau menengkanmu sedikit pun. Kita punya orang tua yang sama sekali tidak tau cara mengurus anak. Maafkan aku, aku pun sama tak berguna.” Ujar Nindi.
Richard tetap diam.
“Makananmu aku taruh di sini. Tolong dimakan. Aku akan kembali besok lagi untuk makan bersama. Jika kamu lempar makananku, aku akan tetap memakannya. Aku anggap itu hukuman untukku karna tak bisa membantumu selama ini.” Ujar Nindi lalu melangkah pergi.
Richard tetap berada di posisinya, namun air matanya terjatuh.
*****
Clara di rumahnya terus panik berjalan bolak-balik. Nindi sudah 2 hari tak pulang ke rumah. Praman pulang hanya untuk marah-marah dan membanting barang lalu pergi. Clara hanya sendirian di rumah dengan gangguan kecemasan. Dia sudah menelan obat 3 butir hari ini untuk mengurangi kecemasan namun dia tetap begitu malah semakin lemas dan gemetar.
*****
Nindi sendiri tak mau pulang ke rumah, dia memilih tinggal di kosan kecil dekat kampusnya. Dia tak tahan tinggal dengan suasana rumah yang tidak seperti layaknya rumah.
Mereka sangat terasing, semuanya tentang Praman dan Praman. Ayahnya selalu mencari cara untuk menyelamatkan diri meskipun itu mengorbankan keluarganya. Prioritas keluarganya selalu Praman.
Terlalu pahit rasanya berada di rumah besar dan dingin itu. Nindi lebih suka tinggal sendiri dengan keadaan seadanya. Dia juga pergi melamar pekerjaan paruh waktu di dekat kampusnya untuk kebutuhan sehari-hari.
Meskipun begitu, Nindi merasa tenang. Tak perlu terbebani oleh kata “Membanggakan orang tua”. Nindi sudah siap untuk memutus hubungan dengan kedua orang tuanya.
Keesokan harinya Nindi tetap muncul di Rumah sakit mengajak abangnya makan bersama.
Nasi goreng yang dia beli semalam sudah dibuang di tempat sampah. Namun semangat Nindi untuk mendekati abangnya tak surut.
“Ayo makan.” Ujarnya mengeluarkan makanan.
“Kali ini menunya ayam bakar. Aku tak bisa beli makanan mahal jadi makan seadanya aja ya. Nanti jika aku diterima kerja aku akan traktir kamu makanan enak.” Ujar Nindi membuka box makanan dan menaruh sendok diatasnya.
Richard hanya terdiam tak merespon, tidur memunggungi. Nindi makan namun makanan Richard tetap utuh tak disentuh.
“Kau bisa mati jika tak makan.” Ujar Nindi.
Selesai makan Nindi menaruh makanan Richard di atas meja di sebelah kasurnya.
“Nanti malam aku akan datang lagi.” Ujar Nindi lalu meninggalkan kamar itu.
Richard kemudian duduk dan menatap makanan yang ditaruh adeknya. Perutnya memang sudah lapar. Diambilnya makanan itu lalu dia mencicipi sedikit.
“Gak enak!” Keluhnya. Namun tetap memakan sampai habis.
Richard kembali sendiri, polisi datang untuk menginterogasinya. Seperti sebelum-sebelumnya, Richard tetap diam tak menyahut sampai polisi tersebut lelah.
Richard berkali-kali melihat jam di handphonennya. Di luar sudah gelap namun Nindi belum juga muncul. Richard akhirnya jadi menunggu-nunggu kedatangan adiknya. Dia mencoba turun dari kasur menarik tiang infusnya dan berjalan melihat keluar dari jendela kamar.
Dari ketinggian terlihat di luar sangat sibuk. Orang-orang mondar mandir dengan kesibukan mereka sendiri. Jam itu memang jam padat orang pulang beraktifitas.
Terdengar pintu kamar terbuka, Richard langsung menoleh semangat.
“Huh? Kamu sudah mulai berjalan-jalan.” Ujar Nindi dengan kantong makanan di tangannya.
__ADS_1
Richard kemudian mendekat dan duduk di kasurnya dengan anteng.
Nindi membuka kotak makanan dan menaruh satu di depan Richard.
“Menu kali ini telor dadar. Aku beli di warteg dekat kampus.” Ujar Nindi.
Richard sempat mengernyit karena makanan itu tak terlihat menarik sama sekali.
“Jangan pilih-pilih.” Ujar Nindi lalu melahap makanannya.
Richard berdehem lalu menyuap makanan itu ke mulutnya.
“Tidak enak!” Ujarnya.
Nindi hanya menyahut dengan tersenyum.
Sebenarnya mereka tidak kaya sejak lahir, namun sudah lama sekali mereka terakhir makan makanan ekonomis. Sekitar di umur 10 tahun Richard, Summer Sea menjadi perusahaan besar dan membuat mereka semua kaya sekeluarga, gaya hidupnya pun berubah drastis.
Meskipun mengeluh dengan rasa makanan, Richard tetap mengunyahnya dan menghabiskan makanannya. Nindi tersenyum bahagia.
“Besok bawa makanan enak, kenapa sih?” Dumel Richard setelah makanan itu habis.
“Harusnya bilang terima kasih!” Ketus Nindi.
Richard mendehem karna omongan adiknya itu benar.
“Aku sudah lama tak pulang ke rumah.” Ujar Nindi.
“Kenapa?” Tanya Richard.
“Aku merasa tenang tinggal sendiri. Kau juga tahu rumah kita itu seperti neraka.” Sahut Nindi.
“Kau tinggal dimana?”
“Ngekos sendiri. Kau bisa tinggal bersamaku. Ah maksudku, tinggal bersamaku saja.”
Richard langsung terdiam, karna dia tahu setelah dia keluar dari rumah sakit, dia akan masuk penjara. Namun ada rasa senang saat dia mendengar Nindi mengajaknya tinggal bersama.
“Maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa.” Ujar Nindi takut menyinggung Richard.
“Nanti jenguk aku sering-sering.” Ujar Richard tanpa melihat adiknya.
Nindi tersenyum, “Jika aku tak sibuk ya.”
“Jangan terlalu lelah bekerja.” Ujar Richard seperti bukan dirinya. Kata-kata perhatian belum pernah terlontar dari bibir Richard sebelumnya.
“Aku pasti lelah. Tapi aku senang.” Sahut Nindi.
Setelah dilihat dari sisi lain dan dengan kondisi saat ini, Richard baru menyadari Nindi adalah adik yang keren. Dia bisa memutuskan akan melakukan keinginannya sendiri, dan dia bisa berdamai dengan keadannya. Itulah yang Richard pelajari.
“Aku akan tidur di sini.” Ujar Nindi membereskan sampah makanan.
“Apaan sih!” Ujar Richard.
“Ih baru aja aku tawarin kamu tinggal sama aku, sekarang kamu malah gak bolehin aku tidur di sini? Di kosanku itu sangat sunyi tau! Dan tidak ada AC. Aku kegerahan hanya memakai kipas.” Ujar Nindi mendumel.
“Ya ya terserah.” Jawab Richard.
Nindi dengan santai tidur di sofa berbantalkan tasnya. Sebenarnya dia tidak ingin pulang karena dia ingin menemani abangnya sebelum besok dibawa oleh polisi. Ini hari terakhir mereka bersama.
Richard menatap adiknya yang tertidur lelap.
“Dia gampang sekali tertidur.” Gumamnya.
Selang infus yang menempel di tangannya dicabut agar bebas bergerak. Lalu Richard mengangkat adiknya memindahkan ke kasur. Meskipun besok dia akan dibawa oleh polisi sebagai tersangka, Richard merasa ada damai dalam hatinya. Mengetahui ada satu orang yang peduli, membuatnya merasa hidupnya berharga.
Richard kemudian tidur di sofa, dan pagi sekali dia dibawa pergi oleh polisi. Richard bahkan tak sempat berpamitan dengan adiknya karna dia tak tega membangunkan Nindi yang tertidur pulas.
__ADS_1
Bersambung….