
"Aku ijin tidak masuk kerja, Papaku sakit." Ujar Rio dengan ponsel menempel di telinganya.
"Pak Bagas sakit?" Suara Nindi terdengar dari ponsel.
"Iya, Papa kecelakaan kemarin. Jadi aku tak bisa mengantarmu pulang. Maaf ya."
"Hah serius? Terus gimana keadaan Pak Bagas?"
"Tngannya patah, kepalanya dijahit."
"Oalah.”
"Iya. Malam ini pulang sendiri ya"
"Ih apa sih? Kamu aja yang terlalu baik suka jemput aku."
"Iya juga ya."
"Ya sudah. Titip salam buat Pak Bagas ya. Semoga cepat sembuh."
"Hati-hati ya. Kabari aku kalo sudah pulang kerja."
"Iya."
"Bye."
"Bye."
Rio menutup telponnya setelah salamnya dibalas.
Mereka kembali bersikap seperti biasa setelah kejadian Rio mencium Sara dua minggu yang lalu. Tak ada yang berubah, seperti tidak terjadi apa-apa.
Jika Nindi ditanya, dia sebenarnya sedang bingung kenapa Rio bersikap biasa saja setelah menyosornya. Apa ciuman seharusnya dianggap bukan masalah besar? Namun Nindi memilih memutuskan bersikap sebagaimana Rio yang biasa saja. Hubungan mereka pun kembali seperti dulu lagi tanpa kecanggungan. Namun satu yang berbeda, Nindi tidak pernah lagi berani mengelus kepala Rio.
"Paaaa... Cepat sembuh dong!!" Rengek Rio terus menerus.
"Ahhh aku bosan mendengar rengekanmu!" Keluh Bu Ayu.
"Gimana kita bisa main PS Pa! Tangan Papa seperti ini!" Rengek Rio tanpa pedulikan ibunya.
"Iya aku akan usahakan cepat sembuh." Sahut Pak Bagas.
"Kau akan libur kerja sampai kapan?" Tanya Bu Ayu sambil mengupas apel untuk suaminya.
"Sampe Papa sembuh." Sahut Rio.
"Kau pasti bakal langsung dipecat." Ketus Bu Ayu.
"Papa lebih penting dari pekerjaan Ma!" Seru Rio.
"Aku udah tau saat kamu bilang mau kerja. Pasti gak akan bisa lama. Dari gaya pemalasmu mana bisa kerja!" Omel Bu Ayu.
"Kan Pa. Mama emang selalu marah. Aku lebih suka Papa."
"Jangan memancing emosi Mamamu terus. Dan lagi bekerja saja besok. Kan ada Mama yang jagain Papa."
"Ah Pa!" Bentak Rio karena merasa Papanya lebih membela ibunya.
"Gak apa apa Pa. Mama udah tau Rio tak akan kuat bekerja." Pancing Bu Ayu. Dia sangat tau harus menyentil sikap Rio dengan pura-pura tak percaya kemampuan anaknya, agar dia kembali termotivasi.
"Besok aku kerja. Besok!" Ujar Rio kesal.
__ADS_1
Bu Ayu menarik sudut bibirnya merasa telah berhasil mengompori semangat putranya.
*****
Keesokan harinya Summer, Mara bersama Sara yang menjadi sekretaris sementara menggantikan Pak Bagas, tiba di kantor.
Sara tentu tidak akan tahu apa-apa tentang perusahaan, karena itu Summer telah mempekerjaan satu sekretaris lagi. Sara difokuskan untuk jadi kunci membuka semua kotak rahasia yang dimiliki oleh lawan Summer, terutama Praman.
Dengan masuknya Sara ke dalam gedung, seperti biasa dia akan jadi hal yang terlalu menonjol karena penampilannya. "Bukannya dia model kita?" Bisik para karyawan.
"Hari ini akan ada meeting, kamu ikut bersama aku ya."
"Baik." Sahut Sara.
Sekretaris satunya menyerahkan dokumen yang menjadi bahan untuk meeting yang akan di mulai sebentar lagi.
Kemudian Sara dan Summer berjalan memasuki ruang meeting setelah dokumen tersebut diperiksa.
Dan Mara akan berdiri di luar pintu seperti biasa.
Meeting berjalan lancar, Sara sudah menampung segala isi otak orang-orang yang ada di ruangan. Rasanya sangat memualkan bisa mendengar pikiran-pikiran jahat, angkuh, serakahnya manusia.
Perbedaannya sangat kontras dengan Merpeople. Di bawah laut mereka akan jarang menemui sosok jahat. Bahaya itu hanya datang dari para predator dan hewan buas. Para merpeople akan saling membantu sama lain untuk menghadapi predator. Begitulah mereka semua damai karena tidak punya banyak keserakahan seperti manusia.
"Bagaimana?" Tanya Summer pada Sara dengan semua foto orang-orang yang tadi di ruang meeting, ditaruh di atas meja.
"Ini, ini, ini dan ini." Sahut Sara memisahkan beberapa foto.
Summer menatap dengan fokus, menunggu Sara melanjutkan omongannya.
"Mereka sedang ragu." Ujar Sara.
"Okay!" Sahut Summer semangat. Dengan begitu Summer tau siapa yang harus didekati agar menjadi pengikutnya dan meninggalkan Praman.
Summer ingin ketika dia mengungkap semuanya, Praman akan mati kutu tanpa ada kesempatan untuk bisa lari.
*****
"Kau lelah ya?" Tanya Tapa pada Sara yang terlihat sedang memijat betisnya.
"Iya. Lumayan lelah memakai heels."
"Tentu saja. Sini kupijit."
"Terima kasih." Sahut Sara sembari mengangkat kakinya dan menaruh di atas pangkuan Tapa yang duduk di sebelahnya.
"Ototmu betismu sangat kaku." Ujar Tapa memijat dengan pelan.
"Aku salut denganmu."
"Kenapa?"
"Aku tak mendengarkan sedikitpun pikiran mesum darimu saat kau menyentuhku begini." Ujar Sara dengan dagu berpangku tangan.
Tapa tertawa kecil, "Itu kelebihan atau kekurangan?" Tanyanya penasaran dengan penilaian Sara.
"Yang aku sering perhatikan, jika kamu menyukai orang itu, kamu tidak akan tahan dengan sedikitpun sentuhan darinya."
Tapa tersenyum tenang. Memang dia memiliki sikap yang paling tenang dari semua sikap yang pernah Sara lihat. Dia sangat dewasa bijak dan pikirannya tidak berisik. seperti dia bisa sengaja tak berbicara di pikirannya agar Sara tak mendengar. Tentu tak semua orang bisa begitu. Normalnya semua makhluk akan refleks berpikir.
"Aku sangat menghormatimu tuan putri." Sahut Tapa senyum.
__ADS_1
"Lalu, yang lain itu tak menghormati orang yang dia suka kalau punya respon mesum?"
"Sara." Ujar Tapa lembut.
Diambilnya satu tangan Sara lalu menaruhnya di dada untuk didengar seberapa kencang jantung itu.
"Kenapa?" Sahut Sara tak mengerti.
"Sara. Jantungku tak akan pernah bisa tenang. Aku hanya selalu berusaha untuk tenang. Namun hanya sebatas itu, karena aku tak bisa mengendalikan suara jantungku. Untuk lebih seperti ingin menyentuhmu lebih, aku sungguh menghormatimu."
"Begitu kah?"
"Iya, Okay. Yang satunya lagi mau dipijit Tuan Putri?" Tanya Tapa dengan tersenyum.
"iya." Sahut Sara tersenyum.
Memang Sara belum begitu yakin dengan perasaannya terhadap Tapa. Sebagaimana Summer memiliki kakaknya sebagai bodyguard, begitulah Tapa bagi Sara. Seseorang yang selalu ada dan melindunginya. Jika sampai ke perasaan suka, Sara yakin belum.
“Aku penasaran. Bagaimana rasanya jika tak ada kamu dalam hidupku.” Ujar Sara.
“Kamu ingin aku pergi?”
“Hmmm maksudku. Kan sedari kita kecil kau terus mengikutiku.”
“Aku sudah suka kamu dari kecil.”
“Aku tau. Jadi hidupku selalu ada kamunya. Penasaran jika tiba-tiba gak ada kamu, apa yang aku rasakan ya?”
“Mau coba?”
“Hmm entahlah. Nanti aku kesepian.”
“Haha. Tentu aku gak boleh bikin kamu kesepian.”
“Kamu baik sekali.”
“Baru tahu?”
“Gak sih.”
“Haha.”
“Terima kasih. Kakiku udah cukup mendingan.” Ujar Sara menarik kakinya perlahan.
“Aku ingin merasakan itu.” Sambung Sara.
“Apa?”
“Debaran. Seperti jantungmu.”
“Ahhh. Aku jadi sedih. Ternyata selama ini kamu gak pernah berdebar karena aku.”
“Apa aku beneran bikin sedih?” Sara jadi merasa bersalah berkata itu.
“Haha. Tak apa. Menunggu adalah bakatku.” Sahut Tapa tersenyum tenang.
Sungguh orang yang gigih dan sabar. Dia telah mengikuti Sara selama 20 tahun. Bahkan sampai kini pun Tapa sabar menunggu dengan tenang. Yakin tak yakin, namun dia ikhlas jika ada orang lain yang mengambil hati Sara, jika itu orang baik. Dia hanya ingin menunjukkan selagi bisa, bahwa dia adalah orang yang tulus dan orang yang akan selalu ada untuk Sara.
“Ah ya! Malam ini VTS ada interview!” Ujar Sara tiba-tiba mencari remot untuk menyalakan TV.
Ikhlas apanya, Tapa langsung memicingkan mata dan kesal melihat Sara menonton pria-pria tampan sembari wajahnya terus menyengir. Seperti biasa dia akan masuk kamarnya karena tak tahan.
__ADS_1
Bersambung…