Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Ulang Tahun Summer


__ADS_3

Hari tepat di tgl 1 Januari, Mara dan Summer berencana merayakan di laut bersama dengan Tapa, Uma, Appa dan Rita.


Tepat saat mereka akan masuk ke dalam kapal, Mara dan Tapa mendengar suara kamera. Mereka saling bertatapan, Mara memutuskan untuk mendatangi sumber suara dan meminta Tapa menjaga Summer di kapal.


Mara bergerak perlahan dari arah berlawanan agar penguntit tak menyadari kehadirannya. Terlihat seseorang bersembunyi di balik pohon, dengan topi dan pakaian hitam.


Mara menyekik dengan lengannya dari belakang untuk menghentikan gerakan lawan. Kamera yang di tangan penguntit langsung terjatuh, sontak menarik tangan Mara yang melingkar di lehernya.


Orang tersebut memukul-mukul lengan Mara karena sulit bernafas. Perlahan tangannya melemah dan kehilangan kesadaran. Mara melepaskan lengannya lalu membiarkan pria itu jatuh ke tanah.


Kamera yang terjatuh diambil Mara dan membawanya ke kapal.


“Jadi selama ini dia terus membuntuti kemana pun aku pergi.” Ujar Summer sambil menggeser-geser fotonya yang ada di kamera digital tersebut.


Kini mereka bertiga ikut menunduk melihat semua foto yang ada.


“Haruskah kubunuh?” Ujarnya melihat satu foto Summer yang terlihat cantik di kamera itu. Dia kesal karena di ponselnya saja, tak ada satu pun foto Summer.


Summer menatap sebal wajah Mara.


“Di hari ulang tahunku?” Sahutnya.


“Ah sorry.” Ujar Mara baru sadar. Sangat menyeramkan jika di hari ulang tahun ada orang yang mati karena terbunuh.


“Ayo lanjut.” Ujar Summer. Mara berjalan ke kokpit dan menyalakan mesin kapal agar mereka segera berangkat.


Summer tak ingin hal receh itu mempengaruhi keadaan dia yang sedang bahagia bisa merayakan ulang tahun bersama mamanya.


Tapa meloncat menyelam karena dia yang akan menjemput Bu Rita. Jika dibandingkan dengan kapal, Merman lebih gesit bergerak dan punya kecepatan lebih tinggi. Membuat Tapa akan sampai bersamaan dengan kapal.


Mara dan Summer hanya menunggu 10 menit, Tapa dan Bu Rita, bersama Uma dan Appa muncul. Summer senyum sumringah langsung berjalan ke deck belakang kapal.


“Maaaaa…” Panggil Summer sambil memeluk mamanya. Bu Rita yang amaih hidup adalah kado terindah buat Summer.


“Selamat ulang tahun sayang mama.” Ujar Bu Rita terharu. Kini putrinya sudah berusia 21 tahun sungguh tak terasa, rasanya baru kemarin Summer lahir, namun kini sudah sangat dewasa dan bisa diandalkan.


“Thank you Maa.” Sahut Summer tersenyum bahagia.


“Selamat ulang tahun.” Ujar Uma tersenyum. Summer mendekat dan memegang tangan dingin Uma yang berselaput. Meskipun tanpa diterjemahkan, Summer paham apa yang diucapkan Uma dengan nalarnya.


“Terima kasih Uma. Terima kasih telah datang.” Summer sungguh terharu.


Appa hanya tersenyum namun Uma tau apa yang dipikirannya.


“Appa juga mengucapkan selamat ulang tahun.” Ujar Uma, membuat Appa tersenyum semakin lebar. Kali ini terlalu panjang sehingga Bu Rita menerjemahkannya.


Summer menunduk mengucapkan rasa hormat dan terima kasihnya.


Dari belakang datang Mara yang membawa kue dengan lilin diatasnya.


“Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday happy birthday. Happy birthday Summer.” Mara bernyanyi diikuti Bu Rita sambil bertepuk tangan. Appa yang baru melihat tepuk tangan mencoba mengikuti bersama Uma dan Tapa.


“Ahhh terima kasihhh.” Ujar Summer terharu. Namun belum sampai di depannya, lilin tersebut terhembus angin dan mati.


Mereka terdiam namun kemudian tertawa.


“Tenang bisa dinyalakan lagi.” Uajr Mara agar Summer tak kecewa.


Dia menyalakan pemantik namun dihembus angin mulu, dinyalakan lagi dihembus angin lagi, begitu berkali-kali hingga rasanya Mara ingin emosi. Yang lainnya jadi ikutan tersenyum canggung.


“Gapapa gak apa apa. Gak perlu dinyalain.” Ujar Summer menenangkan Mara.


“Ayo kita coba kuenya.” Ujar Summer memotong dan menaruh kue di piring kecil.


Uma dan Appa mencoba, tapi sepertinya mereka tidak terlalu menikmati.


“Ah aku bawa daging sapi buat Appa.” Ujar Summer berdiri dan membgambil ke dapur kapal.


Appa langsung sumringah mendengar kta daging sapi, begitu pun Uma hanya saja dia jaga image.


Summer keluar dengan sebuah tempat makan yang berisi rendang.


“Cobalah Appa. Aku punya tante yang jago banget masak. Aku minta dia masakin ini.” Ujarnya menyerahkan pada Appa.


Appa langsung menyomot pakai tangan.


“Appa.” Panggil Mara karena risih lihat ayahnya makan tanpa sendok.


“Tak apa.” Ujar Summer menepuk lengan Mara.


Uma dan Appa mencoba, kali ini masakannya sangat kaya rasa. Dagingnya lembut dan bumbu rempah yang pertama kalinya dicoba oleh mereka. Rasanya unik dan bikin ketagihan.


“Tapa?” Ujar Uma menawarkan pada Tapa.


“Aku sudah Uma.” Sahut Tapa.


“Ah iya aku punya kado untukmu.” Ujar Uma menilik kantong penyimpanannya.


“Kau tau di laut itu sulit apa-apa tidak seperti di daratan. Jadi aku dan Appa memberimu ini. Kau bisa membuat perhiasan dari sini.” Ujar Uma menyerahkan sebuah batu kristal indan berwarna hijau dengan bentuk bulat tak beraturan, Bu Rita tersenyum dan menerjemahkan.


“Uma… ini indah sekali. Uma baik sekali.” Ujar Summer malu dan terharu. Dia terima batu kristal itu dengan hati-hati. Di telapak tangannya, batu itu bersinar dan terlihat sangat langka.


“Uma maaf merepotkan.”


“Memberi kado itu tidak merepotkan.”


“Setelah sampai di rumah, lihat di sisi bawah laci buffet di kamar mama. Ada kunci untuk membuka sebuah box di ruang bawah tanah. Itu kado untukmu.” Ujar Rita tersenyum.


“Oh ya? Aku dulu sangat penasaran isinya sampai aku lupa ada box itu.” Sahut Summer ceria.


*****


“Jadi selama ini kamu bawa makanan untuk Nindi?” Ujar Bu Rita.


Saat itu mereka baru selesai makan dan masih di meja makan, Rio tak bisa langsung meninggalkan meja makan seperti kebiasaannya. Dia tahu sesampainya di rumah pasti dia akan diadili.

__ADS_1


“Iya. Aku kasian dia makan indomie mulu ma.”


“Kamu nganter ke rumahnya?”


“Dia ngekos”


“Ngekos?”


Pak Bagas yang ada di sana sambil mengunyah Jeruk, matanya berpindah-pindah dari Bu Ayu ke Rio, tergantung siapa yang bicara.


“Iya ma dia ngekos.”


“Kenapa?”


“Dia gak betah di rumahnya. Papa aja tau kali.”


“Loh kok bawa bawa Papa.” Ujar Pak Bagas tak terima namanya diseret.


Tentu Bu Ayu dan Pak Bagas khawatir, karena Nindi adalah keluarga Praman, terlebih Richard yang jelas sudah masuk penjara.


“Dia gak mau tinggal sama mama papanya. Mereka jahat sama anak-anaknya.”


“Tau apa kamu tentang keluarga orang?”


Ujar Bu Ayu ketus.


“Ma. Liat aja Nindi makan masakan mama kayak orang gak pernah makan masakan ibunya.”


Bu Ayu berdehem. Memang kasian nasib Nindi punya keluarga seperti itu. Tapi kecurigaan pasti ada, bagaimana jika dia dan keluarganya sama saja.


“Ma. Nindi baik kok.”


“Keliatannya sih gitu.”


“Pa. Kalo Nindi gak baik pasti kan Summer gak akan temenan sama dia.”


“Iya juga.” Sahut Pak Bagas.


“Kerja gimana kerja?” Tanya Bu Ayu ingin membahas kerja.


“Kerja? Ya gitu aja.”


“Terus dimana kerjanya? Mama mau mampir.”


“Apa sih ma. Malu ah.” Ujar Rio langsung berdiri dan melarikan diri.


Dia berlari dan masuk ke kamarnya untuk melarikan diri, rasanya sangat tidak enak berbohong. Rio berniat dia harus mencari pekerjaan di dekat-dekat Nindi bekerja.


“Lagian dia kerja sih. Gak bisa tenang cewe pulang malem.” Gumamnya menganggap perasaannya hanya sebatas khawatir terhadap teman, dan ingin membantu teman saat kesulitan seperti ini.


Dia lupa awal dari dia mendekati Nindi adalah permintaan Mara. Tidak ada ketertarikan, hanya untuk seru-seruan dan ada keuntungan dari itu. Rio seorang yang terkenal oportunis bisa berinisiatif membantu orang lain. Terlebih Nindi bukan orang yang akrab dengannya.


Namun tak disangka-sangka, Rio merasa nyaman bersamanya. Meskipun di ruangan sempit, bahkan untuk selonjoran di depan tv dia harus menekuk kakinya. TV tabung jaman dulu, yang selalu butuh pukulan untuk bisa benar, layar buram dan tak banyak channel yang didapat, bisa dia nikmati. Untuk orang yang suka menonton, Rio bersikap sangat aneh bisa sabar dengan itu semua.


Dia tak menyangka Nindi adalah orang yang sangat menyamankan, dia jadi mengerti kenapa Summer bisa berteman dekat dengannya.


“Ngapain?” Ketik Rio dan dikirim ke Nindi.


“Kenapa?” Sahut Nindi singkat.


“Ck! Ditanya apa dijawab apa.” Gumam Rio setelah membaca text dari Nindi.


“Makan apa tadi?” Rio membalas textnya.


“Kenapa?”


“Ya nanya.”


“Kamu dimarahin Bu Ayu?”


“Kenapa dimarahin?”


“Dia baru tahu kalo selama ini kamu bawa makanan untuk aku.”


“Ah itu. Iya.”


“I’m sorry.”


“Apa sih!”


Begitu akhir pembicaraan mereka. Nindi tak lagi menyahut dan Rio tak lagi menanyai.


Rio tergerak ingin membicarakan hal ini pada ibunya. Dia keluar lalu menghampiri ayah dan ibunya yang sedang santai menonton TV.


“Ma. Pa. Pokoknya aku akan tetap bawain makanan buat Nindi!” Ujarnya tiba-tiba seperti orang tantrum.


Bu Ayu langsung berdiri dan berjalan murka mendekati anaknya. Lalu dipukulnya punggung anak lajang itu berkali-kali. Pak Bagas tetap santai menonton TV sambil mengemil.


“Ma… ma… sakit!” Ujar Rio mencoba mengelak pukulan ibunya.


“Ayo bilang lagi apa? Bawa makanan apa? Kau kira masak itu gampang?” Bu Ayu mengomel sambil tetap memukul anaknya karena sebal.


“Ah Ma.” Ujar Rio mencak-mencak.


“Pokoknya nanti kalo Nindi sakit karena kurang makan. Itu salah mama!” Teriaknya lalu langsung lari keluar rumah.


“Salah mama? Astaga! Astaga!” Keluh Bu Ayu sambil memegang kepalanya yang sakit, tak habis pikir sikap Rio yang tidak dewasa-dewasa.


“Anak orang umur segini udah jadi presiden! Anak aku begitu tuh.” Ujarnya mengomel.


Pak Bagas berdehem dan jadi salah tingkah. Ada sindiran padanya dari kata-kata itu. Pak Bagas termasuk ayah yang cukup memanjakan anaknya. Saat anaknya sudah bertingkah begini, Bu Ayu hanya bisa mengeluh.


Rio yang lari ke luar rumah masuk lagi perlahan menuju kamarnya. Dia keluar setelah mengganti pakaian lalau pelan-pelan ingin keluar rumah mumpung orang tuanya di kamar.


“Rio.” Suara itu tiba-tiba menghentakkan jantung Rio.

__ADS_1


“Maaa…” Ujarnya mengeluh karena kaget.


“Kau bisa bawa makanan.”


“Beneran ma?”


”Oh jadi kau memang ingin bertrmu Nindi.”


“Maksudnya ya sekalian aku anterin makanannya doang.”


“Tapi kau harus bisa tanggung jawab.”


“Tanggung jawab apa?”


“Tambahi belanja mama setiap bulan satu juta.”


“Hah?”


“Gak mau? Ya sudah.”


“Maaaaa… iya iya.”


“Kan kamu kerja katamu.”


“I… iya. Oke ma.” Ujar Rio canggung lalu ke dapur mengambil makanan untuk dibawa.


Bu Ayu selalu mengajarkan pada Rio, kalau semua itu tidak mudah, dia harus bertanggung jawab untuk apa yang akan dia lakukan.


“Oke. Aku harus bener-bener cari kerjaan.” Gumamnya sambil mengendarai motor besarnya.


Sesampainya dia di parkiran Kos Nindi, dia turun lalu berjalan ke atas ke kamar Nindi.


Saat dia sampai, pintu tersebut tertutup, dia coba mengetuk. Rio kemudian menekan gagang pintu dan tenyata pintu terkunci.


“Kemana anak ini.” Gumamnya mengambil handphone dari tas kecilnya untuk menghubungi Nindi.


Panggilan terhubung, namun Nindi tak mengangkat sama sekali. Rio jadi kesal lalu berniat ingin pulang saja.


Baru ingin melangkah, terlihat Nindi naik ke lantai 2.


“Nindi. Lo abis dari mana? Telpon gue gak diangkat.” Ujarnya mengomel.


Nindi hanya diam dan mendekati pintu untuk membukanya.


Setelah pintu dibuka, Nindi masuk begitu pun Rio.


Nindi melepaskan tasnya lalu berdiri di hadapan Rio. Dilihatnya wajah Rio yang bingung dengan ekpresinya.


“Boleh aku peluk kamu?” Ujar Nindi seperti orang putus asa.


“Hah?” Rio bingung mau jawab apa, ini sangat tiba-tiba sekali. Berpelukan?


Karena tidak segera menjawab, Nindi akhirnya meneteskan air mata. Rio membelalak baru sadar ada yang tak beres dengan gadis ini. Segera dia peluk Nindi tanpa pikir panjang.


Nindi langsung menangis sangat kencang di pelukan Rio yang terasa hangat.


“Ada apa? Kenapa? Kenapa?” Rio panik dan bingung.


“Siapa? Siapa yang bikin Lo nangis?”


Tanya Rio kesal.


Namun Nindi menggeleng dan tetap menangis memeluk Rio.


“Baiklah. Kalo tidak bisa cerita gak apa apa. Lo bisa memeluk selama yang Lo mau. Kalo itu membantu.” Ujar Rio menepuk-nepuk punggung Nindi.


Nindi tiba-tiba tertawa dan melepaskan pelukan. Kata-kata memeluk selama yang dia mau terasa menggelikan.


“Lo ketawa?” Kini Rio makin bingung.


“Kau kesurupan?” Tanya Rio kemudian.


Nindi jadi beneran tertawa besar kali ini. Dia juga bingung bisa tertawa padahal sedang menangis.


“Ah gak ngerti gue.” Ujar Rio menyerah dengan sikap Nindi yang berubah-ubah.


“Makasih.” Ujar Nindi merasa bersyukur Rio ada saat dia sangat membutuhkan.


“Ehem. Okay.” Jawabnya malu.


Nindi mengengkat tangannya namun langsung ditangkap oleh Rio karena dia tahu kemana tangan itu akan mendarat.


Nindi tersenyum kali ini dia kalah cepat.


“Biarin sih gue elus sekali.” Ujar Nindi.


“Dibilangin gak mau!”


“Padahal gue lagi sedih.”


“Ya hubungannya apa sedih sama ngelus kepala.”


“Iya ya. Aku cuma suka ekspresi kamu.” Ujar Nindi mengaku.


“Sebaiknya jangan begitu lagi.”


“Kenapa sih?”


“Gue bilang jangan!”


“Iya iya. Sorry.”


“Aku bawa makanan itu.”


“Bawa lagi? Bu Ayu gak marah?”

__ADS_1


“Gak. Makanya nikmati aja masakannya.” Ujar Rio tersenyum


Bersambung…


__ADS_2